Daya Tarik Kota Masih Tinggi

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Minggu, 24 Jun 2018, 19:41 WIB Megapolitan
Daya Tarik Kota Masih Tinggi

ANTARA FOTO/Galih Pradipta

BADAN Pusat Statistik (BPS) memandang laju urbanisasi masih dipengaruhi daya tarik wilayah perkotaan. Apalagi, peluang lapangan pekerjaan di perkotaan dianggap lebih variatif dibandingkan wilayah perdesaan.

"Yang jelas (urbanisasi) karena pengaruh daya tarik (wilayah) kota. Seperti lapangan pekerjaan lebih variatif dibandingkan di desa. Baik untuk sektor formal maupun non formal," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti melalui pesan singkat, Minggu (24/6).

Dalam hal ini, BPS tidak menghitung pertumbuhan ekonomi di wilayah perdesaan secara spesifik. Perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baru mengacu pada level kota/kabupaten. Sehingga, pihaknya tidak bisa menjabarkan data pergerakan ekonomi di wilayah perdesaan. Adapun Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS Nurma Midayanti menuturkan pertumbuhan ekonomi daerah sebenarnya cukup baik. Hanya saja, daya tarik wilayah perkotaan relatif kuat, sehingga masyarakat menjadikannya sebagai tumpuan mata pencaharian.

"Di kota menjadi tumpuan orang-orang untuk bekerja. Walaupun mereka tidak punya bekal yang cukup. Di kota apapun bisa menjadi uang bagi yang kreatif. Sementara di desa, hal yang sama kurang menjadi sumber yang menghasilkan uang," jelas Nurman.

Maraknya pergeseran populasi dari wilayah desa ke kota, lanjut dia, berdampak pada tingkat pengangguran di wilayah perkotaan yang semakin tinggi. Sebagian besar masyarakat desa yang datang ke kota terbilang minim keahlian. Alhasil lapangan kerja di wilayah perkotaan tidak dapat menyerap tenaga kerja yang berasal dari desa. Ditanyai angka pertumbuhan laju urbanisasi beberapa tahun terakhir, Nurma tidak bisa menjelaskan lebih detil lantaran sedang dalam perjalanan keluar negeri.

"Akibatnya (dari laju urbanisasi) ya pengangguran di kota-kota besar menjadi sangat tinggi. Karena (perusahaan penyedia lapangan kerja) tidak dapat menyerap tenaga kerja, terutama pendatang yang tidak ada skill," pungkas Nurma. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More