Disrupsi dalam Sepak Bola

Penulis: Adiyanto Pada: Minggu, 24 Jun 2018, 19:25 WIB Opini
Disrupsi dalam Sepak Bola

dok.pribadi

SEMBARI menyantap soto mie di dekat Stasiun Cawang, Jakarta Timur, Jumat (22/6) malam lalu, saya ikut nebeng menyaksikan laga Piala Dunia Brasil kontra Kosta Rika melalui handphone seorang pengemudi ojek online. Kami tentu saja tidak sendiri. Di saat yang bersamaan, barangkali ada jutaan orang lainnya di belahan dunia sana yang menyaksikan laga tersebut lewat berbagai platform, mulai dari televisi tabung hingga hanphone terbaru yang supercanggih. Jalannya pertandingan tersebut, juga dapat disimak dalam bentuk teks dan video lewat media sosial, bukan lagi berwujud audio melalui corong radio.

Sejak pertama kali dihelat pada 1930 di Uruguay, Campeonato Mundial de Futbol  (Piala Dunia), memang telah banyak berevolusi, mulai dari format pertandingan, aturan permainan, hingga distribusi media. Kemajuan teknologi, tentu saja ikut berperan di sini. Kemunculan telepon pintar dan koneksi internet berkecepatan tinggi di banyak negara, telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi berita, hiburan, ataupun tontonan.

Perubahan perilaku untuk mencari pengalaman yang sangat personal dan mendalam, dan tentu yang lebih murah ini, menurut survei lembaga multinasional Pricewaterhousecoopers (PwC), telah mendorong banyak penyedia konten memotong perantara untuk mengirim lebih banyak tayangan langsung ke konsumen melalui layanan digital. Hal ini, menurut survei yang dipublikasikan September tahun lalu tersebut, berkontribusi langsung pada menurunnya daya tarik media konvensional, seperti televisi.

Laporan  ini juga mengutip akuisisi terbaru Facebook tentang hak streaming pertandingan Liga Champions dari stasiun televisi Fox Sports di Amerika Serikat serta pembelian hak siar oleh Amazon terhadap National Football League (NFL) dan turnamen tenis internasional ATP Tours. “Hal ini menandakan bahwa kedua perusahaan penyedia platform digital itu semakin menaruh perhatian serius terhadap olahraga,” tulis laporan tersebut.

Fenomena disruption (disrupsi),  situasi dimana pergerakan industri dan persaingan dunia kerja tidak lagi linear yang terjadi kurang dari satu dekade terakhir, memang telah menginisiasi lahirnya bisnis model baru dengan strategi yang lebih inovatif. Selain soal cara mengemas dan menikmati tayangan pertandingan, contoh lainnya sentuhan teknologi yang inovatif bisa Anda lihat pada iklan digital di pinggir lapangan, sehingga tidak perlu diganti atau dipindahkan dengan tenaga manusia seperti papan reklame manual yang konvensional.

Sentuhan disrupsi yang ditopang kemajuan teknologi dalam sepak bola, juga bisa dilihat dalam penggunaan Video Assistant Referee (VAR). Terlepas ada yang tidak suka karena dianggap mengganggu jalannya pertandingan, penggunaan perangkat teknologi ini merupakan keniscayaan sesuai tuntutan zaman. Alat itu berperan membantu kinerja wasit, manusia yang tak luput dari salah.

Sebagai penikmat, saya pribadi senang-senang saja dengan perkembangan sepak bola seperti saat ini. Selama masih dimainkan oleh manusia dan bukan robot humanoid, permainan ini saya rasa masih cukup menghibur. Apalagi, selain ada drama dan airmata, kadang juga terdapat cerita irasional lucu yang menyertainya, seperti Paul si Gurita pintar dari Jerman yang diyakini oleh sebagian orang mampu menebak dengan tepat hasil pertandingan di Piala Dunia 2010 lalu.

Tahun ini, jangan-jangan buaya yang kini paling dicari di kawasan Ancol, Jakarta Utara, juga bakal diinterogasi seperti si Paul untuk ditanyai skor pertandingan? he..he.. Anda  jangan terlampau serius menanggapinya. Tentu saja kali ini saya cuma bercanda. Salam olahraga. (OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More