Merunut Sastra Minang dalam Rampak Randai

Penulis: Fathurrazak Pada: Minggu, 24 Jun 2018, 14:50 WIB Weekend
Merunut Sastra Minang dalam Rampak Randai

EBET

TUJUH orang mengenakan seragam serbahitam. Dua di antaranya perempuan, sementara yang lain mengenakan deta, penutup kepala khas Minang untuk laki-laki. Beberapa waktu kemudian, kaki kiri diangkat, lalu tangan kanan menabuh celana yang mereka kenakan.

Tak.. Tak.. Tak.. Tum.. Tum.. Tum.. Aiii.., Ih, Ap, Tah!, Tih! bergantian diteriakkan Goreh sang jenderal lapangan sebagai kode berganti gerakan, mengubah posisi, dan mengatur tempo permainan.

Gerakan yang menyerupai silat juga dalam tarian itu dipadukan bersama irama tepukan tangan dan pukulan telapak tangan ke galembong, celana panjang menyerupai sarung yang dipakai para pemain Randai. Bunyinya tampak serupa dengan instrumen tabuh.

Galembong menjadi salah satu unsur penting dalam permainan Randai sebab tanpa galembong, para pemain tak bisa mengeluarkan bebunyian tabuh. Selaput panjang di antara celah celana memungkinkan dipukul sehingga selain sebagai irama, juga bagian dari gerak Randai. Sementara itu, celana yang juga serupa galembong disebut endong biasanya memiliki selaput lebih pendek dan dikenakan khusus untuk silat.

Randai adalah permainan tradisional Minangkabau, yang menggabungkan unsur silat, tarian, dan drama. Secara beregu, para pemain Randai akan membentuk lingkaran yang disebut sebagai legaran.

Legaran dimaksudkan sebagai batas dari panggung permainan drama dan sebagai bentuk kebiasaan saat bermain silat secara beregu. Mereka akan berhadap-hadapan dalam lingkaran menunggu giliran mengeluarkan jurus.

Menurut Ketua Gerakan Mudo Minangkabau (Gemumi), Agus Siswanto, salah satu versi cerita perkembangan Randai bermula kala anak-anak lelaki Minang yang sudah akil balig diharuskan menetap di surau. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk mengaji dan beribadah.

"Karena terkadang jenuh, anak-anak mencari sesuatu, memanfaatkan waktu, mengisinya dengan bermain silat. Kemudian mencoba tidak hanya jadi silat, tapi juga jadi kesenian lain, gerakan silat jadi tarian," ungkapnya saat ditemui belum lama ini.

Ia juga menuturkan nilai yang dianut orang Minang, sarak basandi, basandi kitabullah. Semua tindak tanduknya berasal dari kitab suci Alquran. Ini pula yang menjadi pengaruh dalam kebudayaan Minang, termasuk tata cara berpakaian, seperti perempuan yang mengenakan baju kurung, seperti dalam drama permainan Randai.

Fungsi Randai sebenarnya untuk menyampaikan kaba (kabar/cerita) zaman dahulu. Oleh sebab itu, dalam memainkan Randai, kita akan menjumpai kesusastraan dan ragam tingkatan bahasa Minangkabau lewat dialog yang disampaikan.

Katonan ampe'

Namun, seiring dengan banyaknya pemuda Minang yang merantau ke luar daerah dan jarang yang mondok di surau lagi membuat Randai kian sepi. Permainan yang biasanya dimainkan di tanah lapang atau galanggang dan saat malam hari ini kembali coba diangkat, salah satunya lewat upaya Gemumi. Hanya, mereka belum mampu mempraktikkan Randai secara utuh yang memakan durasi satu hingga 5 jam.

Selain memperagakan silat dan tarian, sebenarnya Randai sarat akan laku adat dan lokalitas bahasa Minangkabau. Dari situ, kita bisa membaca perbendaharaan kesusastraan lampau, juga bagaimana para leluhur mereka berkomunikasi.

Seperti yang Agus Siswanto dan teman-temannya rasakan. Mereka belajar Katonan Ampe'--tingkatan bahasa dalam adat Minang--lewat Randai. Dalam Katonan Ampe' terdapat empat tingkatan bahasa. Menurun, mendatar, melereng, dan mendaki.

Menurun berarti cara bertutur kepada lawan bicara yang lebih muda dari kita, mendatar untuk yang sepantar, melereng berarti bahasa yang digunakan untuk menghormati sepantar, dan mendaki digunakan untuk berbicara kepada orang yang lebih tua.

Dalam Randai, para tokohnya melafalkan berbagai tingkatan bahasa ini karena latar belakang tiap karakter tentu memiliki rentang usia beragam. Seperti hubungan anak dengan orangtua, atau teman sebaya.

Selain tingkatan bahasa, kekayaan sastra Minang dalam Randai diperkuat dengan kehadiran pantun-pantun, dan filosofi yang terkandung dalam nasihat. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More