Berebut Predikat Kuda Hitam Sejati

Penulis: Satria Sakti Utama Pada: Minggu, 24 Jun 2018, 13:15 WIB Sepak Bola
Berebut Predikat Kuda Hitam Sejati

AFP/ISSOUF SANOGO
ANDALAN: Pemain depan Sadio Mane (tengah) bersama rekan-rekannya menjalani latihan di Kaluga, Rusia jelang laga melawan Jepang, kemarin. Mane akan menjadi andalan Senegal untuk meraih poin penuh atas Jepang untuk membuka peluang lolos ke babak 16 besar.

GRUP H babak penyisihan Piala Dunia 2018 menciptakan kejutan setelah Jepang dan Senegal berhasil meraih kemenangan tak terduga di partai pembuka. Kedua tim kuda hitam itu pun siap melanjutkan keberhasilan.

Pada partai pertama, Jepang menaklukkan Kolombia yang diisi pemain-pemain bintang layaknya James Rodriguez dan Radamel Falcao dengan skor tipis 1-2. Sementara itu, Senegal mempermalukan Polandia dengan skor sama.

Walhasil, laga kedua akan menjadi momen spesial untuk memperebutkan status tim kuda hitam sejati bagi kedua negara. Hadiah yang lebih menggiurkan bagi pemenang ialah jalan menuju babak 16 besar Piala Dunia 2018 terbuka lebar. Laga antara Jepang dan Senegal digelar di Ekaterinburg Arena, malam ini.

Baik Senegal maupun Jepang tidak akan rela membiarkan kesempatan emas untuk bertahan lebih lama di Rusia terbuang sia-sia. Terlebih Kolombia maupun Polandia masih memiliki kans membalikkan keadaan dan lolos ke babak selanjutnya.

Gelandang senior Jepang, Keisuke Honda, menyebut timnya perlu bermain 'licik' agar meraih tiga poin dari tangan Senegal. Menurutnya, tipikal tim-tim asal Afrika sering kali kehilangan konsentrasi di babak kedua dan momen tersebut menjadi kesempatan mencuri gol melalui tendangan bebas.

"Saya pikir kami dapat membodohi mereka jika kami bermain licik, termasuk saat bola mati. Kami dapat menargetkan penjaga gawang mereka, saya yakin itu menjadi kuncinya," kata eks pemain AC Milan itu.

Honda mungkin berharap peruntungan skuat 'Samurai Biru' saat melawan Kolombia kembali berulang. Jepang memastikan tiga poin setelah penyerang Yuya Osako mencetak gol penentu di menit ke-73 memanfaatkan sepak pojok Honda.

Sejarah pun berpihak ke Honda saat menghadapi tim-tim zona Afrika. Dia selalu mencetak gol ke gawang mereka di dua jilid Piala Dunia sebelumnya. Pada hajatan 2010 di Afrika Selatan, gelandang 32 tahun itu mengoyak gawang Kamerun untuk menentukan kemenangan timnya 1-0. Empat tahun kemudian di Brasil, Honda yang kini membela klub Meksiko, Pachuca, menjebol gawang Pantai Gading untuk kemenangan Jepang 2-1.

Meskipun demikian, Honda mengakui Senegal juga memiliki keunggulan, khususnya dalam hal fisik pemain. "Ini akan sulit, mereka pemain hebat. Mereka memiliki fisik yang baik, cepat, dan mereka akan bermain di depan dengan armada yang besar," tuturnya.

Isu rasialisme

Di kubu Senegal, persiapan mereka jelang laga kontra Jepang diganggu isu rasialisme. Bintang televisi Inggris, Alan Sugar, menuliskan cicitan di akun media sosialnya seraya mencibir orang-orang kulit hitam.

"Saya mengenali beberapa dari mereka di Pantai Marbella, orang-orang yang memiliki banyak pekerjaan," tulisnya sembari memampang foto skuat Senegal serta deretan kacamata dan tas yang ditata sebagai barang jualan.

Akan tetapi, pemberitaan kencang yang menyeret nama skuat Aliou Cisse itu tak berdampak banyak pada tim. Bek Senegal yang juga punggawa Napoli, Kalidou Koulibaly, lebih tertarik membicarakan ambisi timnya jelang laga melawan Jepang.

"Kami tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa pertandingan selanjutnya akan sangat sulit, tapi kami akan mencoba untuk memenangi pertandingan," tandasnya.

Kemenangan atas Polandia membuat mentalitas skuat 'Singa dari Teranga' tengah meninggi. Mimpi untuk mengulangi bahkan melebihi pencapaian Piala Dunia 2002 yang sukses menembus babak perempat final pun memuncak.

"Tentu kami merupakan wakil dari negara kami, tapi saya juga memastikan bahwa seluruh Afrika juga mendukung kami," kata Cisse, pelatih nyentrik yang mendapat bayaran terendah sebagai arsitek di Piala Dunia yakni 174.500 pound sterling atau sekitar Rp3,2 miliar. (AFP/FIFA/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More