Kenangan di Lokomotif

Penulis: Zuq/M-2 Pada: Minggu, 24 Jun 2018, 04:40 WIB Weekend
Kenangan di Lokomotif

MI/Adam Dwi

ALASAN ketertarikan pada kereta bisa bermacam-macam. Meski demikian, banyak penggemar kereta setuju daya tarik utama kecintaan mereka ialah keunikan lokomotif.

Itu pula yang terjadi Chairul Gunawan. Karena sering naik di gerbong masinis ketika kecil, Chairul pun menjadi jatuh cinta pada kereta.  “Saya itu sering naik kereta api dari umur 4 bulan. Kebetulan abang saya punya banyak teman masinis. Jadi, sewaktu saya TK (taman kanak-kanak), saya sering diajak keliling dari Bogor ke Jakarta. Naiknya juga kadang-kadang enggak di gerbong, tapi di kabin masinis. Itu yang bikin saya tertarik,” terang Chairul.

Pengalaman itu pula yang membuat Chairul bercita-cita menjadi masinis. Kabin masinis telah menciptakan kenangan tersendiri bagi Chairul. Melihat secara langsung aktivitas masinis ketika mengoperasikan kereta ternyata membuatnya semakin menjadi-jadi.

“Dari situ saya bercita-cita menjadi seorang masinis. Makanya saya jadi lebih tertarik ke dunia perkeretaapian,” ungkapnya mantap. Namun, boleh jadi Chairul menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang harus berkompromi dengan cita-cita. Nyatanya, sampai saat ini ia bukan masinis.
“Belum, sudah enggak kesampaian kalau itu. Sudah melenceng dari ketentuan,” terusnya.

Komunitas GM-Marka lalu menjadi tumpuannya untuk menjembatani kecintaannya terhadap kereta api. Dalam komunitas itu, meski Chairul tidak menjadi masinis, ia masih bisa bersentuhan dengan segala sesuatu yang berkenaan dengan kereta api.

“Akhirnya di komunitas kereta api. Yang penting kita mampu berkontribusi. Setidaknya cita-cita tak tercapai, cuma ada kepuasan batin tersendiri bisa membantu penumpang atau yang lainnya,” terusnya.
Bagi Chairul, ruang masinis menjadi simbol sebuah pelayanan dan kerelaan terhadap sesama. Ketika banyak orang di dalam kereta bertujuan pulang, ruang masinis malah menjadi kebalikannya. Seperti hashtag yang saat ini sedang ramai di kalangan petugas kereta api, yakni kami rela tidak pulang demi mengantar Anda pulang.

“Kalau saya lebih suka ruang ma­sinisnya, sudah pasti. Entah kenapa kalau lihat ruang masinis ada sesuatu yang beda menurut saya (seperti) kita bekerja itu dengan hati mengantarkan penumpang yang segitu banyaknya,” tambahnya.

Berbeda dengan Farid Nurman. Ia lebih memilih lokomotif sebagai bagian yang paling menarik dari kereta api. Suara menderu dari mesin lokomotif seperti sebuah magnet bagi Farid. Belum lagi suara klakson dari lokomotif.

“”Suaranya sih, suara mesin, suara klakson. Suka suaranya,” ujarnya mantap. Alasan berbeda diungkap Tubagus Gemilang Pratama Adi. Meski sama-sama mengakui bagian paling menarik dari kereta api ialah lokomotif, Tubagus punya alasan lain, yakni lokomotif sumber tenaga. “Ya jelas lokomotif. lokomotif itu kan sumber tenaga. Kalau kereta ditarik lokomotif ya lokomotif itu sumber tenaga. Jadi paling seksi ya pasti lokomotif,” pungkas Tubagus.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More