Sabet Medali Emas di Ajang Asian Art Biennale

Penulis: Ruta Suryana/M-4 Pada: Minggu, 24 Jun 2018, 01:20 WIB Weekend
Sabet Medali Emas di Ajang Asian Art Biennale

MI/RUTA SURYANA

SEKALENG cat akrilik berukuran kecil dipegang erat di tangan kirinya. Sementara itu, kuas di tangan kanan menari-nari lincah menorehkan warna merah bata di atas kanvas bergambar hitam putih mirip.
Dengan posisi tubuh berdiri penuh konsentrasi, kuas di tangan itu terus bergerak menyapu menumpuk warna-warna dasar hingga memunculkan nuansa kombinasi warna-warna yang khas.

“Ini proses (pengerjaan) yang kedua. Judulnya Terdampar,” ujar pelukis I Made Wiradana, 50, ketika ditemui Media Indonesia, di rumahnya di Jalan Ratna Denpasar, belum lama ini.

Selain paus, banyak aneka wujud atau sosok lain yang dihadirkan, mulai manusia, aneka binatang, mobil, hingga lembar-lembar dedaunan yang tampil dengan gaya naif primitivisme.

Bagi Wiradana, gaya lukisannya yang amat sederhana kekanak-kanakan itu sudah menjadi kekhasan dirinya. Pengaruh itu dialami saat menimba ilmu di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, terutama setelah mengunjungi Goa Leang Leang di Maros, Sulawesi Selatan, dalam suatu acara.

“Lukisan di Goa Leang Leang itu begitu kuat memengaruhi gaya karya-karya saya selanjutnya sampai sekarang,” aku alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa/SMSR (kini SMK 1) Batubulan Kabupaten Gianyar itu.

Padahal, semasih di bangku SMSR, dia tertarik dan sudah menekuni gaya Kamasan yang dikenal rumit yang didukung penuh dari ayahnya almarhum I Ketut Rina.  Dalam proses pencarian jati dirinya, satu hal yang tak terduga terjadi ketika suatu hari pulang kampung pada masa liburan kuliah, Wiradana memperlihatkan hasil karya lukisannya yang bergaya naif primitivisme kepada ayahnya.
“Lukisan apa itu? Kuliah kok malah tambah bodo (bodoh),” cemooh Wiradana menirukan ucapan ayahnya saat itu.

Meski sudah diyakinkan bahwa lukisannya itu sudah ada yang memesan, tetap saja sang ayah terlihat kecewa, bahkan menganggap calon pembelinya itu juga bodoh alias tak mengerti seni.  Meski begitu, Wiradana tak goyah pendirian dan juga memilih tidak ingin ribut berdebat dengan ayahnya. Baginya, aliran karyanya itu sudah menjadi lukisan jiwanya.


Gadaikan BPKB mertua

Meski sudah menyandang sarjana seni, ia masih sulit juga mendapatkan pekerjaan. Muncul keinginan untuk menjadi penjual produk mi. “Waktu itu saya sudah siap bawa surat lamaran untuk jadi sales mi, tapi istri marah-marah tak setuju. Saya disuruh buat pameran biar enggak rugi hasil kuliahnya,” bebernya mengenang.

Suatu hari di 1999, ketika proposalnya untuk pameran tunggal di Purna Budaya Yogyakarta disetujui, dia malah terkendala dana. Atas  bantuan mertuanya, ia dipinjami surat kepemilikan kendaraan (BPKB), yang selanjutnya ia gadaikan di Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Ia pun berhasil mendapat Rp6 juta.
Dengan modal sebesar itu, dia mencoba ekstra hemat. Semisal untuk pewarnaan lukisannya, dia coba menggunakan daun sirih yang ditumbuk dan arang.

Enam hari menuju hari H, lukisan yang dibawa dalam truk sewaan tertahan dalam perjalanan Denpasar-Yogyakarta. Pada H-1, kedua anaknya bahkan harus menjalani rawat inap di rumah sakit akibat sakit tifus.

Namun, di balik hambatan dan cobaan tersebut, toh keberuntungan menghampiri juga. Betapa tidak, 50 karya yang dipamerkan habis terjual dalam beberapa hari.  Total penjualannya mencapai Rp350 juta.
Proses kreatif Wiradana yang setia di aliran naturalis naif ini tak sekadar menghasilkan rupiah, tapi juga mendulang prestasi di tingkat Asia.

Di ajang Asian Art Biennale bertema One road one belt di Hong Kong, Februari 2018, salah satu karyanya yang berjudul Temple Restoration berhasil meraih medali emas dari 255 karya yang lolos pameran hasil seleksi dari 2.350 peserta. Di lukisan Temple Restoration, Wiradana menggambarkan semangat jiwa ngayah (pengabdian tanpa dibayar) atau gotong royong masyarakat dalam merenovasi bangunan candi/pura yang sangat tinggi.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More