Membaca Ego Hanafi-Goenawan Mohamad

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 24 Jun 2018, 01:00 WIB Weekend
Membaca Ego Hanafi-Goenawan Mohamad

MI/GINO F HADI

DERETAN kanvas dengan sapuan warna horizontal dan vertikal mengapit pintu utama Gedung A Galeri Nasional, Jakarta Pusat, yang menjadi pintu masuk. Itu sekaligus menjadi ajakan untuk menyelami karya kolaboratif dua tokoh kebudayaan, seni rupa dan sastra di Indonesia.

Tidak diketahui, siapa memulai apa. Karya di bidang kanvas dengan sosok menenteng kepala dan ben­dera Prancis itu nampak melayang, andai tidak ada kaca yang dijejak ­kakinya. Sementara itu, sosok satunya lagi nampak mengenakan sorban dengan kepala tergolek.

Karya berdimensi 140 cm x 160 cm dengan material akrilik di atas kanvas ini menjadi salah satu dari 200 karya buah pikir Hanafi-Goenawan Mohamad (GM), yang dipamerkan hingga 2 Juli 2018. Sekilas karya itu mirip La Mort de Marat, lukisan milik Jacques Louis David pada 1973 yang menarasikan kematian tokoh revolusioner Prancis, Jean Paul Marat.

Apa yang dilakukan Hanafi dan GM, mungkin bisa dianggap meniru, alih-alih sebagai penggubahan dengan pengaburan sekaligus penjelasan. Revolusi di atas meja itu, mungkin juga bisa dianggap sebagai upaya mengabadikan adegan tragis, revolusi paling berdarah yang meruntuhkan monarki untuk mengantarkan bentuk Republik Prancis.

Lanskap Prancis dalam karya itu mungkin juga musababnya bisa kita temui dalam tiga kunci utama tokoh yang direpresentasikan keduanya melalui portrait-portrait seniman yang lekat dengan Prancis dan punya sikap politis.

Max Ernst, salah satu tokoh ­Dadaisme beberapa kali muncul dalam kanvas dengan potret identifikasi topi di atas kepala. Selain merujuk pada karakter Ernst secara personal, topi pernah muncul pada salah satu karyanya The Hat Makes the Human (1920) yang sempat tinggal di negeri Eifel itu.

Selanjutnya, si botak Pablo Picasso juga disandingkan potretnya bersama Ernst. Meski kelahiran Catalan, toh Picasso kemudian merantau ke Prancis di usia 23 tahunnya saat negara itu menjadi pusat perkembangan seni. Terakhir, sosok Antoni Tapies yang sempat bersinggungan dengan Picasso, dan tenar dengan karya tanda plusnya.

Hanafi-GM tak sekadar membuatkan mereka potret-potret ketiganya, dari beberapa yang muncul, juga sebagai artikulasi corak gaya ketiga seniman.

Kuda Sakit, akrilik di atas kanvas berdimensi 140 cm x 220 cm itu ialah pengaburan dari The Horse He’s Sick (Un Peu malade le cheval) milik Ernst pada 1920. Akan tetapi, yang membuat menarik, tatanan karya mereka ini menjadi tiga bagian yang membentang di sudut ruang pamer.

Ada dua kanvas yang memisahkan gambar bagian separuh badan hingga kepala si kuda, lalu bagian tubuh belakang hingga ekor. Keduanya lalu dihubungkan dengan semprotan cat di dinding, dan beberapa besi yang dilas menyerupai rusuk kuda, merepresentasikan kondisi ringkih, mencengangkan secara estetis.


Permainan

Tengok juga karakter Tapies dalam beberapa karya, yang juga Hanafi adopsi dalam suguhan tata letak ruang, dengan menghadirkan pasir, material yang lekat dengan Tapies. Tanda plus muncul dalam beberapa kanvas, bahkan menjadi desain pintu untuk menerobos ruang pamer.

Dalam menata ruangnya ini, Hanafi juga menawarkan cara lain menikmati karya dengan tidak memajangnya di dinding. Ia membentuk ruang dimensi seperti kolam, yang di tengahnya dibubuhi pasir, lalu ia bangun dengan sekat di atasnya, yang dijejeri karya. Pengunjung pun tidak saling memunggungi, alih-alih bersilaturahim dengan saling menghadapkan muka.

“Saya melihat di pameran-pameran, mengalami deforestasi dalam menikmati karya. Kali ini saya menawarkan agar ada dialog antarpengunjung, jadi enggak punggung-punggungan. Mereka bisa saling tatap muka. Ini kan suatu tawaran cara. Sekaligus ternyata juga bisa menampung lebih banyak (karya),” ungkap Hanafi, Kamis, (21/6).

Hanafi dikenal sebagai pelukis abstrak yang karyanya sudah dikenal seantero negeri, sedangkan GM memiliki gaya biomorfisme dengan banyak garis. Meski persiapannya cuma enam bulan dan tanpa diawali proses diskusi, kedua tokoh dalam pameran bertajuk 57x76--merujuk pada usia keduanya, bisa dianggap berhasil dalam menangkap pemikiran antarindividu seniman.

Mereka menggunakan metode kolaboratif dengan tidak saling merespons dalam satu studio karya, tetapi salah satu memulai dulu, lalu satunya mengakhiri, dan sebaliknya. Karya yang telah selesai itu diintervensi, dan digubah hingga menemui guratan kedua tangan sang seniman.

Keduanya harus menurunkan ego mereka sehingga yang dikedepankan bukan identitas, tapi peleburan, yang ditafsirkan dalam laku spiritual untuk melahirkan kelanjutan gambaran yang sudah selesai.

‘Permainan’ kedua maestro ini salah satunya muncul dalam pengaburan lukisan Raden Saleh, yang merekayasa ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ yang menghadirkan dua sosok macan tersenyum, menjadi pengabur heroisme, dan potret Raden Saleh dalam medium 140 cm x 120 cm, yang dinamai Mungkin Raden Saleh.

Bagi Hanafi, tidak ada karya yang gagal. Begitu pun yang GM dapat dari proyek kolaboratif ini. “Prinsipnya ialah membiarkan apa yang terjadi. Tidak ada polesan akhir, operasi. Dibiarkan kotor dan hal itulah yang ditunggu publik,” kata penulis ‘Catatan Pinggir’ itu. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More