15 Pusat Sains dan Iptek Tutup Karena Minim Perhatian Pemerintah

Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani Pada: Kamis, 21 Jun 2018, 18:37 WIB Humaniora
15 Pusat Sains dan Iptek Tutup Karena Minim Perhatian Pemerintah

Ilustrasi

PERSATUAN Insinyur Indonesia (PII) menyesalkan tidak aktifnya sebagian besar pusat sains dan IPTEK di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan, beberapa dari pusat sains itu ditutup oleh Pemerintah Daerah setempat.

Padahal, pusat sains dan IPTEK seharusnya bisa menjadi sarana bagi masyarakat luas untuk lebih mengenal sains dan IPTEK, sekaligus mendorong generasi muda untuk lebih mencintai sains dan melakukan berbagai eksperimen ilmiah.

Hal tersebut dinyatakan oleh Wakil Ketua Umum PII Heru Dewanto menanggapi 15 dari 24 pusat sains dan IPTEK di beberapa daerah yang tidak aktif atau ditutup karena terkendala anggaran dana, kurangnya tenaga kerja, serta perubahan kebijakan dari Pemda setempat.

“Kami menyesali sikap Pemerintah Daerah yang tidak memberikan perhatian pada perkembangan sains dan IPTEK bagi masyarakatnya. Penonaktifan atau bahkan penutupan pusat sains dan IPTEK ini secara tidak langsung akan menghambat inovasi dalam negeri. Ketika inovasi itu berhenti, maka bangsa ini selamanya hanya akan menjadi bangsa pengikut atau follower dan sulit menjadi pemimpin dunia,” ujar Heru Dewanto, Kamis (21/06).

Data dari Asosiasi Science Center Indonesia menyebutkan, ada beberapa pusat sains yang tidak aktif atau tutup sementara dengan tidak menerima kunjungan dari para siswa sekolah. Ada pula pusat sains yang mati suri dengan tidak mengembangkan alat peraga yang ada di dalamnya karena minimnya anggaran dana.

Beberapa pusat sains tersebut antara lain Pusat Sains Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Science Center Sawahlunto dan Graha Teknologi Palembang. Beberapa pusat sains tidak aktif, seperti di Sulawesi Tenggara dan Cilacap, karena adanya pengalihan pengelolaan akibat restrukturisasi kelembagaan di Pemerintah Daerah.

“Pemerintah pusat dan daerah seharusnya perlu untuk mengalokasikan dana khusus untuk pengembangan pusat sains dan IPTEK di berbagai daerah ini sebagai upaya untuk meningkatkan inovasi dan memperkenalkan IPTEK kepada masyarakat di daerah. Selain itu, dibutuhkan pula inovasi dan kreativitas dari dinas atau lembaga pemerintah yang menaungi pusat sains ini untuk menciptakan beragam program dan menambah alat peraga sains yang menarik keingintahuan masyarakat. Program dan alat peraga itu pun seharusnya memiliki relevansi bagi kebutuhan masyarakat di daerah tersebut,” ujar Heru.

Heru mengatakan, keberadaan pusat sains dan IPTEK di Indonesia juga dinilai bisa membuat masyarakat. Terutama generasi muda Indonesia, untuk dapat megenal sains lebih dekat dan dengan cara yang menarik. Pengenalan terhadap sains, eksperimen dan teknologi juga bisa menarik lebih banyak calon mahasiswa untuk mendalami ilmu teknik di perguruan tinggi.

Sementara itu, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko mengatakan banyak terbengkalainya pusat-pusat iptek atau Techno Park di banyak daerah akibat dari ketidakmatangan konsep pengembangan sejak awal. Ia mengatakan, terlepas dari pendanaan yang sulit dan minim, pengembangan pusat iptek membutuhkan konsep perencanaan kegiatan yang matang.

"Harus jelas konsepnya, apa yang akan dilakukan kegiatannya dan lain-lain agar bisa terus berjalan," ujar Handoko, Kamis (21/06).

Ia mengatakan, dibutuhkan peran semua pihak, terutama pemerintah pusat dan daerah agar pusat-pusat iptek bisa bertahan dan berkembang. Salah satu yang terpenting juga ialah pemanfaatan sumber daya manusia yang tepat dalam menunjang segala kegiatan riset dan penelitian di dalamnya.

Handoko mengatakan, konsep kegiatan harus dilakukan dengan tujuan melakukan sebuah penberdayaan. Dengan adanya manfaat bagi masyarakat dari kegiatan yang dilakukan, pusat iptek akan dapat terus beroperasi dengan baik. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More