Kritikan SBY Dinilai Bentuk Kepanikan

Penulis: Dero Iqbal Mahendra Pada: Kamis, 21 Jun 2018, 09:40 WIB Politik dan Hukum
Kritikan SBY Dinilai Bentuk Kepanikan

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

PDIP menafsirkan pernyataan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun Twitter @SBYudhoyono mengarah ke Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pernyataan itu selain merendahkan hak rakyat yang berdaulat, juga dianggap cermin kepanikan SBY.

"Pak Jokowi tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan. Berbeda dengan yang sebelumnya. Siapa yang di belakang tim alpha, bravo, dan delta? Siapa yang menggunakan KPU yang seharusnya netral dan dijadikan pengurus partainya? Siapa yang memanipulasi IT sehingga Antasari dipenjara? Siapa yang memanipulasi DPT sehingga kursi di Pacitan pada Pemilu 2014 berkurang drastis dibanding 2009? Siapa yang menjadi pelopor penggunaan dana Bansos?" ungkap Ketua DPP PDIP Bambang DH dalam keterangan pers, kemarin.

Pada Senin siang (18/6), melalui akun resminya @SBYudhoyono, SBY mengatakan: Saya perhatikan, banyak penguasa yang lampaui batas sehingga cederai keadilan dan akal sehat. Mungkin rakyat tak berdaya, tapi apa tidak takut kpd Tuhan, Allah SWT? *SBY*

Bambang menyarankan kepada SBY untuk lebih introspeksi diri jika dibandingkan dengan menyalahkan pihak lain dengan menyampaikan tuduhan sepihak tanpa bukti.

"PDI Perjuangan bahkan punya pengalaman buruk pada pilkada Bali 5 tahun lalu. Saat itu alat negara diterjunkan hanya karena ambisi kekuasaan. Jadi, siapa yang punya sejarah gelap menggunakan kekuasaan? Pak SBY jangan lempar batu sembunyi tangan," ujar Bambang.

Bambang mengimbau kepada semua pihak untuk membangun suasana yang kondusif dan membiarkan rakyat yang menjadi hakim dalam menentukan pilihan pemimpinnya.

"Rakyat mencari pemimpin yang kuat secara kultural, berpengalaman, serta tidak ambisius dalam mengejar jabatan," ujarnya.

Koalisi dengan Gerindra

Sementara itu, Deputi Media dan Humas Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Putu Supadma Rudana, menegaskan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah menitipkan pesan terkait dengan Pemilu 2019 seperti yang disampaikan Sandiaga Uno.

"Tidak benar ada titipan pesan dari Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan melalui Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono," kata Putu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (19/6).

Dia menegaskan klaim sepihak yang disampaikan Sandiaga Uno tentang sikap dan posisi Partai Demokrat yang seolah-olah sudah pasti berkoalisi dengan Partai Gerindra dalam Pemilu 2019, tidak benar.

Menurut dia, Partai Demokrat masih menjajaki kesamaan visi dan misi dalam jalinan ikatan koalisi, serta bukan soal bagi-bagi kekuasaan, tapi soal prinsip, nilai-nilai dan etika berpolitik yang baik.

"Dalam berbagai kesempatan, Komandan Kogasma Agus Harimurti (AHY) secara terbuka kepada pers, mengatakan bahwa situasi politik sangat dinamis, dan peluang koalisi masih terbuka dengan parpol mana pun," ujarnya.

Putu membenarkan adanya pertemuan antara AHY dengan Sandiaga pada tiga hari lalu, tetapi dalam acara halalbihalal Idul Fitri, bukan pertemuan politik.

Menurut dia, AHY menyayangkan pernyataan Sandiaga tersebut karena merupakan bentuk klaim sepihak dan meminta semua pihak mencegah pernyataan yang tidak faktual. "AHY mengimbau kepada semua pihak untuk bisa mencegah pernyataan-pernyataan publik yang tidak faktual, atau keluar dari konteks, baik secara sengaja maupun tidak disengaja," katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno mengatakan SBY sempat menitipkan pesan lewat AHY bahwa ada kemungkinan Demokrat merapat ke Gerindra dalam Pilpres 2019. (Cah/Ant/X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More