Wasit dan Hakim Setengah Dewa

Penulis: Gaudensius Suhardi, Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia Pada: Kamis, 21 Jun 2018, 09:19 WIB Opini
Wasit dan Hakim Setengah Dewa

Dok.MI/ATET DWI PRAMADIA
Gaudensius Suhardi

WASIT dan hakim mempunyai kesamaan. Keduanya penentu nasib. Peluit di mulut wasit menentukan menang-kalahnya sebuah tim di lapangan hijau. Ketukan palu di tangan hakim menentukan benar-salahnya se­seorang di meja hijau.

Dua profesi itu, terutama wasit yang bertugas di Piala Dunia 2018, merupakan orang pilihan. Mereka dituntut tidak memihak dan tidak melakukan diskriminasi, apalagi membuat keputusan berdasarkan suku, agama, ras, dan antar­golongan. Sebagai orang pilihan, mereka disebut sebagai manusia setengah dewa.

Apakah para manusia setengah dewa itu tidak pernah membuat kesalahan, apalagi kesalahan itu masuk kategori sangat fatal? Mestinya mereka tidak pernah mengambil keputusan yang salah. Akan tetapi, fakta berbicara lain. Mereka juga bisa mengambil keputusan yang salah.

Kesalahan apa gerangan yang sudah diperbuat? Mari kita menelaahnya dari wasit. Masih ingat wasit asal Tunisia, Ali Bennaceur, yang mengesahkan gol Diego Maradona ke gawang Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986?

Pertandingan antara Argentina dan Inggris di Mexico City pada 32 tahun silam itu abadi dalam kenangan sepanjang masa. Itu abadi karena Maradona menghadirkan kehebohan dengan mencetak gol menggunakan tangannya.

Meskipun bertubuh pendek dan tambun pula, Maradona memenangi duel di udara melawan kiper Inggris, Peter Shilton. Ternyata, Maradona mendorong bola dengan menggunakan tangannya dan wasit tak melihat aksi mantan bintang Napoli dan Barcelona tersebut. Gol tersebut dinyatakan sah, meskipun para pemain Inggris melancarkan protes keras. Setelah itu, Maradona menyebut golnya sebagai ‘gol tangan Tuhan’.

Itu contoh kesalahan putusan wasit dalam dunia sepak bola. Dunia peradilan di Indonesia juga punya contoh peradilan sesat dalam kasus Sengkon dan Karta pada 1974. Keduanya dikenai vonis bersalah dan dikenai hukuman 7 tahun dan 12 tahun penjara dalam kasus pembunuhan penjaga warung di Bojongsari, Bekasi, Jawa Barat.

Putusan pengadilan tingkat pertama itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Putusan itu berkekuatan hukum tetap sebab Sengkon dan Karta tidak kasasi.

Ketika mereka menjalani hukuman penjara, fakta sesungguhnya terkuak. Seorang penghuni penjara bernama Gunel mengaku sebagai pelaku perampokan dan pembunuhan yang dituduhkan kepada Sengkon dan Karta.

‘Gol tangan Tuhan’ Maradona tetap dianggap sah hingga kini. Nasib buruk Inggris tidak pernah direhabilitasi, apalagi hukuman untuk Maradona. Sebaliknya, Sengkon dan Karta akhirnya bebas melalui proses peninjauan kembali di Mahkamah Agung.

Mimpi buruk Inggris tidak perlu terjadi andai saat itu sudah ada teknologi video assistant referee (VAR) yang kini digunakan di Piala Dunia 2018. FIFA memutuskan penggunaan teknologi VAR di Piala Dunia Rusia setelah melewati perdebatan panjang.

“Keputusan tersebut berdasarkan pada percobaan di ribuan laga selama dua tahun terakhir, yang memberi kami fakta kuat bahwa VAR sangat membantu wasit,” kata Gianni Infantino, Presiden FIFA, di Bogota, Kolombia, Maret silam.

David Elleray, mantan wasit FA yang kini menjabat Direktur Teknik Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), seperti dikutip harian The Guardian, Maret lalu, mengatakan teknologi VAR akan mengubah total wajah sepak bola, terutama dalam perilaku pemain. Pemain akan semakin sulit melakukan berbagai tipuan (diving) atau pelanggaran keras.

Teknologi VAR di Piala Dunia 2018 kali pertama digunakan wasit asal Uruguay, Andres Cunha, saat memimpin pertandingan Prancis melawan Australia pada pembukaan pertandingan di Grup C, Sabtu (16/6). Pertandingan sempat dilanjutkan pada saat terjadi insiden yang dialami Antoine Griezmann di area kotak penalti lawan di menit ke-57. Pemain Prancis yang sedang menggiring bola itu terjatuh saat memasuki area penalti setelah ditekel Josh Risdon, punggawa Australia.

Namun, tiba-tiba Cunha menghentikan permainan setelah menerima peringatan. Sejurus kemudian ia menuju layar monitor yang disiapkan di sisi lapangan. Setelah melihat rekaman VAR, wasit memutuskan Griezmann dilanggar Risdon. Ia pun menunjuk titik putih.

Wasit bisa mengubah atau membatalkan keputusan dan membuat keputusan penting baru yang berdampak pada terjadinya gol atau perubahan skor pertandingan berkat penggunaan teknologi VAR. Bagaimana dengan hakim di peng­adilan?

Putusan pengadilan tingkat pertama bisa dibatalkan pengadilan di atasnya sampai kasasi, bahkan peninjauan kembali. Bagaimana kalau menyangkut hukuman mati? Mungkin saja kebenaran itu muncul setelah eksekusi mati dilakukan. Kebenaran datang terlambat. Keburu nyawa sudah melayang atas nama hukum.

Dunia sepak bola bisa menyempurnakan diri dengan menggunakan kemajuan teknologi untuk mencari kebenaran dan keadilan sejati. Akan tetapi, kebenaran dan keadilan menempuh jalan panjang, sangat panjang, dalam dunia peradilan.

Piala Dunia 2018 memberikan pelajaran sangat berharga, yaitu wasit masih bisa mengoreksi keputusan yang sudah lama dianggap mutlak. Koreksi dilakukan melalui penerapan teknologi VAR. Dunia peradilan sejatinya juga bisa mengoreksi putusan hakim, terutama yang berkaitan dengan vonis mati.

Wasit salah tidak berhubungan dengan hidup mati. Namun, dalam putusan sesat hakim, taruhannya nyawa dicabut. Kita menolak hukuman mati karena, bisa jadi, kebenaran dan keadilan baru datang setelah vonis mati dilakukan. Biarlah hidup mati itu urusan Tuhan. Kita tetap menikmati sepak bola yang dipimpin wasit setengah dewa.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More