Sejarah dan Makna Halalbihalal

Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal,Jakarta Pada: Senin, 18 Jun 2018, 07:50 WIB Ramadan
Sejarah dan Makna Halalbihalal

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar -- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

HALALBIHALAL ialah istilah bahasa Arab yang tidak dipahami orang-orang Arab. Halalbihalal memang bukan bahasa Arab normal. Kata tersebut berasal dari akar kata halla-yahillu, berarti singgah, memecahkan, melepaskan, menguraikan, dan mengampuni.

Halalbihalal kini menjadi istilah lain dari silaturahim. Beda antara keduanya ialah halalbihalal hanya digunakan untuk mengiringi kepergian Ramadan, sedangkan silaturahim berlaku secara universal, menerobas batas waktu dan tempat.

Asal usul halalbihalal itu bermula ketika anak-anak muda masjid Kauman Yogyakarta kebingungan mencari tema untuk mewadahi dua momen istimewa.

Satu sisi perayaan Idul Fitri sebagai wujud kemerdekaan spiritual dan sisi lain baru saja dilakukan proklamasi kemerdekaan RI. Seperti diketahui, proklamasi kemerdekaan RI bertepatan dengan sayyidul ayyam, Jumat, dan sayyidus syahr, Ramadan. Bagaimana supaya kedua peristiwa ini terangkum menjadi satu, lalu diadakanlah sayembara kecil-kecilan untuk menemukan tema yang akan ditulis di dalam spanduk.

Saat itu muncul berbagai kreasi untuk memaknai suasana batin Idul Fitri. Salah seorang seniman mengusung tema halalbihalal yang intinya saling memaafkan, saling merelakan, dan saling menghalalkan.

Warga yang pernah dikucilkan masyarakat karena terlibat mata-mata Belanda atau pengkhianat bangsa diserukan untuk dimaafkan. Momentum Idul Fitri digunakan untuk menggalang persatuan dan kesatuan dalam mengisi kemerdekaan.

Sejak itu, halalbihalal menjadi populer dan diterima semua pihak karena berisi pesan integrasi bangsa. Melalui acara halalbihalal, jangan lagi ada dendam satu sama lain. Lapangkan dada dan hilangkan warna-warni perbedaan lokal di hadapan kebesaran Allah SWT. Semuanya harus bersatu membangun bangsa Indonesia yang bermartabat dan tetap menjunjung tinggi religiositas bangsa.

Halalbihalal kemudian menjadi salah satu produk budaya Islam Indonesia dan sekaligus menjadi salah satu 'produk ekspor' Indonesia ke mancanegara, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Di Malaysia, berawal dari perkebunan kelapa sawit yang di sana terdapat jutaan WNI kita bekerja, setiap seusai Lebaran mereka berpindah-pindah dari blok ke blok perkebunan, biasanya berdasarkan asal daerah masing-masing.

Lama-kelamaan tradisi ini berlangsung di kota-kota yang semula hanya menjadi arena silaturahim antara sesama WNI. Halalbihalal ini menjadi familier di Malaysia dan Brunei.

Hal yang sama terjadi juga di negara-negara lain, termasuk di Riyadh dan Kuwait. Terakhir kepemimpinan Presiden Obama di AS, spirit halalbihalal ini menghiasi Gedung Putih setiap Hari Raya Idul Fitri. Yang paling terakhir dalam Ramadan tahun ini, pemerintah New York State mengumumkan liburan resmi setiap Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Kini halalbihalal menjadi istilah khas dan menjadi budaya Indonesia. Halalbihalal ialah bahasa Arab yang tidak diketahui maknanya oleh orang-orang Arab. Kalau halal minal haram mungkin bisa dipahami, tetapi halalbihalal sebuah kata majemuk yang tidak lazim. Itulah keajaiban halalbihalal.

Hal yang sangat penting dan positif di dalam acara halalbihalal ialah menjalin dan lebih mempererat kembali silaturahim antara sesama umat Islam (ukhuwah islamiah), sesama warga bangsa (ukhuwah wathaniyyah), dan sesama umat manusia (ukhuwah basyariyyah).

Setelah sebulan penuh kita banyak berkonsentrasi menjalin hubungan dengan Sang Pencipta selama Ramadan, kini kita kembali menjalin hubungan lebih akrab dan lebih harmonis antara sesama warga bangsa, terutama setelah melewati agenda politik berupa pemilu legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden.

Melalui halalbihalal ini kita bisa melupakan segala kelemahan, kekurangan, dan kekeliruan orang terhadap kita. Kita saling memaafkan dan menatap ke depan dengan pemimpin baru dan dengan program baru.

Mari kita membuktikan bahwa amaliah Ramadan kita berhasil meraih predikat mabrur dan mabruk dengan mengubah perilaku kita yang kurang baik menjadi lebih baik. Insya Allah.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 25 Sep 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More