Lebaran Bercita Rasa Pancasila

Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta Pada: Jumat, 15 Jun 2018, 07:05 WIB Opini
Lebaran Bercita Rasa Pancasila

Ist

HARI yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Hari ini, Jumat (15/6) bertepatan dengan 1 Syawal 1439 Hijriah, umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, merayakan Idul Fitri.

Idul Fitri di Indonesia punya keunikan tersendiri, sebab tidak saja dirayakan oleh umat Islam yang sebelumnya telah menjalani ritual berpuasa, tetapi juga oleh umat agama-agama lain.

Perjumpaan dengan anggota keluarga, khususnya orang tua di saat Lebaran memiliki makna dan suka cita yang tidak bisa dinilai dengan uang dan harta benda.

Lebaran memiliki makna yang universal. Maka wajar jika umat dari agama lain juga memanfaatkan Idul Fitri untuk mudik bertemu dengan orang tua dan sanak saudara.

Gereja tempat di mana saya biasa beribadah sejak Minggu (10/6) lalu mulai lengang. Banyak jemaah yang ikut mudik Lebaran. Saya perkirakan Minggu (17/6) besok, ruang ibadah akan semakin kosong sebab banyak jemaah yang mudik.

Harap maklum, komunitas kami umat Kristen, sudah terbiasa dengan perbedaan. Dalam satu keluarga, ada yang beragama Islam (entah itu bapak, ibu, kakak atau adik).

Anggota keluarga bapak mertua saya ada yang Islam, Katolik dan Protestan. Jika Lebaran datang, ibu mertua selalu masak ketupat opor untuk menjamu tetangga yang muslim.

Ibu kandung saya dulu muslim. Adik kandung saya almarhum bersuamikan seorang muslim. Anak-anaknya ada yang mengikuti ayah dan ibunya.

Nenek saya dari ibu, dulunya muslim. Entah mengapa ketika usianya sudah lebih 70 tahun, ia minta dibaptis dan menjadi Kristen. Sebaliknya paman saya yang Katolik menjadi mualaf.

Di komunitas gereja kami sendiri jika ada yang mualaf, namanya tidak dicoret dari keanggotaan gereja. Kami menganggap mereka tetap bersaudara meski berbeda iman.

Berlebaran dalam cita rasa Pancasila memang indah. Perbedaan dalam persaudaraan seperti inilah yang coba divisualkan oleh lima sutradara dalam film LIMA. Saling menghormati dan tidak ada pemaksaan kehendak.

Iman sangat pribadi. Kebenaran yang relatif tidak bisa menjadi monopoli sebuah kelompok, apalagi jika dipaksakan kepada orang lain yang berbeda keyakinan.

Lebaran yang membahagiakan itu telah tiba. Para pemudik yang sejak beberapa hari lalu berbondong-bondong meninggalkan Jabodetabek telah sampai ke kampung halaman. Yang muda sungkem dan cium tangan kepada yang tua. Mereka saling bermaafan. Duh, indahnya.

Tersiar kabar perjalanan para pemudik ke kampung halaman lancar karena pemerintah serius membangun infrastruktur, antara lain tol yang terus mengular.

Kita layak berterima kasih kepada pemerintah. Hebatkah Presiden Joko Widodo (Jokowi)?

Menurut saya tidak. Biasa-biasa saja. Pasalnya, pemerintah memang berkewajiban membangun infratruktur, seperti tol, yang oleh pemerintahan sebelumnya kurang diperhatikan.

Pemerintah sekarang banyak membangun pelabuhan dan bandar udara; terakhir Presiden Jokowi meresmikan renovasi Bandara Ahmad Yani Semarang.

Hebatkah Jokowi? Juga tidak. Biasa-biasa saja, sebab sudah menjadi kewajiban pemerintah (negara) untuk memperbaiki pelayanan kepada publik.

Menjelang Idul Fitri, tersiar kabar para ibu rumah tangga tidak mengeluhkan harga daging sapi, ayam, cabai dan kebutuhan dapur lainnya yang tiba-tiba naik, sehingga hari ini rendang dan opor ayam plus ketupat nikmat sekali kita santap.

Berbaik hatikah pemerintah dan Presiden Jokowi? Nggak juga, sebab pemerintah memang berkewajiban mengelola pasokan barang-barang kebutuhan pokok, sehingga tidak dikuasai para spekulan yang kerap mempermainkan pasar.

Tapi, kenapa dulu-dulu setiap menjelang Lebaran, harga kebutuhan pokok naik semua dan mudik ke kampung halaman sarat dengan horor di jalan?

Maaf, kalau Anda mengajukan pertanyaan seperti itu, saya tidak bisa menjawab. Silakan bertanya kepada orang-orang yang dulu pernah duduk di pemerintahan sebelum Presiden Jokowi. Pada saat itu saya cuma bisa prihatin. Pasrah dengan keadaan. Saya tidak tertarik membahas soal-soal begini.

Saya justru tertarik kepada kritik yang disampaikan putra sang presiden sebelum Jokowi kepada pemerintahan sekarang. Beberapa hari sebelum Idul Fitri, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Komandan Kogasma Partai Demokrat menyinggung sejumlah persoalan bangsa di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, termasuk soal revolusi mental, yang menurut AHY, mulai terlupakan.

Dalam pidatonya, AHY juga menyoroti masalah kekuasaan dalam konteks tata negara yang dianggap selalu merasa benar. AHY berpendapat negara dan pemerintah tidak boleh sewenang-wenang menggunakan kekuasaan untuk merampas kebebasan individu.

Putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono itu mengkritisi program revolusi mental yang belum dijalankan secara maksimal. Malah, program infrastruktur yang terus digalakkan selama kepemimpinan Jokowi. Padahal, kata AHY, pembangunan karakter bangsa itu harus terus dilaksanakan.

Banyak orang, termasuk teman saya berkomentar, sebelum bicara seperti itu, AHY sebaiknya bertanya dulu kepada bapaknya apa yang sudah dilakukan sang ayah ketika dua kali menjabat presiden berkait dengan revolusi mental?

"Bukankah Jokowi membuat program revolusi mental lantaran mental manusia Indonesia sudah rusak karena tidak pernah dipedulikan oleh presiden-presiden sebelumnya?" kata teman saya.

Maaf, saya tidak sependapat dengan teman saya. Saya menganggap kritik AHY terlepas serius atau ngawur layak diperhatikan oleh Jokowi di saat kita merayakan Idul Fitri bercita rasa Pancasila.

Banyak orang bijak mengatakan bahwa Idul Fitri adalah momentum manusia untuk kembali ke fitrahnya. Momentum bagi manusia yang sebulan berpuasa untuk hidup baru.

Islam mengajarkan umatnya untuk disiplin, antara lain sembahyang lima waktu. Selayaknya di saat kita bersuka cita merayakan Lebaran, ke depan kita berkomitmen untuk lebih menghargai waktu. Bukan sebaliknya sembahyang lima waktu digunakan untuk mengorupsi waktu dan momentum untuk bermalas-malasan.

Tempo hari Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa harga racun kalajengking adalah yang paling mahal di dunia. Tetapi yang jauh lebih mahal dari racun kalajengking, menurut Jokowi, adalah waktu. Belajar menghargai waktu juga bagian dari revolusi mental.

Mungkin lantaran itulah mengapa pemerintahan Jokowi ngebut membangun infrastruktur, sehingga para pemudik tahun ini lebih cepat tiba di kampung halaman merayakan Lebaran bercita rasa Pancasila, karena pemerintah telah sukses membangun sedikitnya 568 kilometer tol.

Itu artinya, panjang tol yang dibangun di masa pemerintahan Jokowi yang baru berumur sekitar tiga tahun jauh melampaui panjang tol yang dibangun sepanjang 32 tahun pemerintahan Presiden Soeharto ataupun dua periode pemerintahan SBY.

Untuk diketahui semasa SBY (10 tahun), pemerintahannya hanya mampu membangun tol sepanjang 212 kilometer. Lho, kok, bisa?

Ah, sudahlah saya tidak akan membahas soal masa lalu. Ketupat, opor, rendang dan sambal goreng yang dimasak istri sudah matang.

Duh, nikmatnya ikut merayakan Lebaran. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.(*)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More