Reportase Mudik ala Ketua DPR Bambang Soesatyo

Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta Pada: Kamis, 14 Jun 2018, 12:16 WIB Opini
Reportase Mudik ala Ketua DPR Bambang Soesatyo

Ist

"SELAMAT mudik saudara-saudaraku. Semoga selamat sampai tujuan, berkumpul dengan keluarga dan handai taulan, saling berbagi."

Itu bukan kata-kata saya, tapi kata-kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyapa rakyatnya yang sebagian besar akan mudik merayakan Idul Fitri di kampung halaman.

Hari ini (Kamis (14/6) adalah pengujung bulan Ramadan dan esok (Jumat, 15/6) kita merayakan Lebaran. Di Indonesia, Lebaran bukan lagi milik umat Islam, tapi milik umat dari agama mana pun. Semua merasa dan berhak merayakannya.

Itulah uniknya Lebaran di Indonesia. Semua orang merasa punya Lebaran. Untuk itu izinkan saya melakukan copy-paste kata-kata Presiden Jokowi: "Selamat mudik saudara-saudaraku. Semoga selamat sampai tujuan, berkumpul dengan keluarga dan handai taulan, saling berbagi."

Tambahan dari saya: "Mohon maaf lahir dan batin".

Menyimak liputan dari berbagai media televisi, suasana perjalanan mudik tahun ini tampaknya relatif lebih menyenangkan daripada tahun-tahun sebelumnya. Ada trend kemacetan lalu lintas berkurang.

Fakta seperti itu dimungkinkan karena pemerintahan Jokowi sejak dua tahun lalu gencar membangun infrastruktur, antara lain tol, tidak saja di Pulau Jawa, tapi juga di pulau-pulau lain.

Agar kita dapat mengetahui sampai sejauh mana tol dibangun di negeri ini, izinkan saya mengutip data yang diungkap Media Indonesia dalam editorialnya Senin (11/6) lalu.

Menurut editorial tersebut, di Indonesia, sepanjang pemerintahan Presiden Soeharto, terbangun sekitar 490 kilometer tol. Di era Presiden Habibie yang sangat singkat, terbangun 7,2 kilometer tol.

Di masa Presiden Gus Dur yang dilanjutkan Presiden Megawati Soekarnoputri, beroperasi sekitar 40 kilometer tol. Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terealisasi 212 kilometer tol.

Di era Presiden Joko Widodo, hingga akhir 2017, kita mendapat tambahan 568 kilometer tol. Itu artinya, panjang tol yang dibangun di masa pemerintahan Jokowi yang baru berumur sekitar tiga tahun jauh melampaui panjang tol yang dibangun sepanjang 32 tahun pemerintahan Presiden Soeharto ataupun dua periode pemerintahan SBY.

Itulah yang melatarbelakangi mengapa Ketua DPR RI Bambang Soesatyo merasa perlu membuat reportase (laporan jurnalistik) saat ia meninjau suasana mudik di sejumlah ruas tol pada Minggu (10/6) lalu.

Dimuat di media ini pada Rabu (13/6), reportase Bambang Soesatyo itu diberi judul "Sepuluh Jam Bersama Kapolri dan Panglima TNI Tinjau Jalur Mudik".

Saya salut kepada Bamsoet -- begitu ia biasa disapa -- yang menyempatkan diri untuk menulis laporan perjalanan sebagai wujud pertanggungjawabannya sebagai wakil rakyat setelah melakukan "kunjungan kerja" ke lokasi/daerah yang sedang mendapat sorotan masyarakat.

Itu membuktikan Bamsoet profesional menjalankan fungsi dan perannya sebagai wakil rakyat dengan membuat laporan yang menurut saya cukup komprehensif. Selanjutnya silakan baca sendiri tulisannya di mediaindonesia.com.

Tulisannya cukup panjang dan rinci, sehingga rakyat bisa mengetahui secara menyeluruh apa yang sudah dilakukan pemerintah, terkait dengan pembangunan tol dan persiapan mudik Lebaran yang selalu kisruh itu.

Ia menulis bukan sekadar ocehan ala kadarnya di Twitter seperti yang biasa dilakukan rekannya sesama pimpinan DPR, Fahri Hamzah dan Fadli Zon yang kerap malah memunculkan kontroversi yang bukan saja melelahkan, melainkan juga nggak penting-penting amat.

Cuitan Fadli Zon beberapa hari lalu di Twitter malah menimbulkan perseteruan lantaran ia dianggap menghina seorang tokoh NU dan akhirnya malah memunculkan blunder menyusul mundurnya salah seorang wakil sekjen Partai Gerindra.

Yang mengherankan, Fadli Zon bukannya introspeksi, tapi malah membuat cuitan berikutnya yang lagi-lagi memunculkan kontroversi dan semakin meyakinkan publik bahwa Gerindra adalah partai rasis yang isinya orang-orang model Fadli Zon.

Apa yang dilakukan Bamsoet layak dicontoh anggota DPR lain. Benar, sebelum berkarier sebagai politikus dan pengusaha, Bamsoet memang pernah menjadi wartawan, sehingga punya kemampuan menulis.

Namun, fakta itu tidak bisa dijadikan alasan bagi rekan-rekannya untuk malas menulis di "koran" yang kini serba online.

Pada era tahun 1980-an, Bamsoet pernah menjadi wartawan Prioritas. Namun, setelah koran tersebut dibredel, Bamsoed tidak bergabung lagi manakala Surya Paloh dan kawan-kawan mengelola koran Media Indonesia.

Mengawali tulisannya di media online ini, Bamsoet menulis: "Hari ini, saya bersama Kapolri, Panglima TNI dan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani sebagai wakil pemerintah serta sejumlah menteri Kabinet Kerja meninjau jalur mudik di tiga provinsi utama, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur."

Meninjau arus mudik di tiga provinsi itu lewat helikopter, Bamsoet bak seorang reporter surat kabar, melaporkan secara rinci apa yang dilihatnya, termasuk suasana dan arus lalu lintas di ruas-ruas tol yang sudah dan sedang dibangun pemerintahan Jokowi.

Tak ketinggalan, Bamsoet di akhir reportasenya juga menyinggung soal "tol Jokowi" yang sampai saat ini masih diributkan di media sosial antara pendukung Jokowi dan anti-Jokowi. Saya kutip sebagian:

"Harusnya Pak Ketua, nanti kalau sudah rampung (maksudnya pembangunan tol) segera usulkan nama jalan tol Jakarta-Surabaya adalah jalan tol Joko Widodo,'' ujar Kapolri yang didukung Panglima TNI kepada saya.

Menko PMK yang mendengarkan di dalam mobil ikut tertawa. Saya sendiri tersenyum saja mendengar canda serius Kapolri. Diam-diam di dalam hati saya bergumam, boleh juga usulan Kapolri dan Panglima TNI itu."

Setop! Sudah, ah, Pak Bamsoet, jangan teruskan soal itu. Banyak yang tersinggung, nih.

Tol-tol yang mengular itu milik rakyat. Siapa pun berhak menikmatinya meskipun harus bayar. Saya khawatir kalau kata-kata yang Anda tulis "boleh juga" terealisasi, maka sangat mungkin musim mudik tahun depan, jalan tikus pulang kampung akan macet, karena ada sementara orang yang benar-benar ogah lewat tol.

Harap maklum, sebagian rakyat yang Anda wakili lebih bangga menjadi orang bodoh daripada orang cerdas. Sebagai ketua DPR, Anda harus pahami ini.(*)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More