Melestarikan Spirit Idul Fitri

Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Pada: Kamis, 14 Jun 2018, 07:35 WIB Renungan Ramadan
Melestarikan Spirit Idul Fitri

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar -- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

BANYAK versi makna dan terjemahan kata 'Id al-Fithr (baca: Idul Fitri) di dalam masyarakat. Ada yang dapat dipahami dan dapat diterima dan ada pula terlalu jauh memaknainya sehingga keluar dari konteksnya.

Dalam kamus lisan Arab, kamus bahasa Arab terlengkap (15 jilid), fitrah (fithrah) berasal dari akar kata fathara-fathran, berarti membelah, merobek, tumbuh, dan berbuka. Dari akar kata yang sama lahir kata fithrah berarti sifat pembawaan sejak lahir, seperti dalam ayat: Fithrah Allah al-ladzi fathara al-nasa 'alaiha (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu/QS al-Rum/30:30).

Kata Idul Fitri ('id al-fithr) berarti kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuasa di siang hari bulan Ramadan. Bisa juga berarti 'id al-fthrah, kembali ke sifat bawaan kita sejak lahir, yaitu bersih dan suci, setelah sebulan penuh ditempa berbagai alamalan Ramadan. Dari pengertian ini dipahami bahwa yang bisa kembali ke fitrah ialah mereka yang telah melakukan berbagai macam upaya pembersihan dan penyucian diri melalui amaliah Ramadan, seperti puasa, zakat, qiyamullail, i'tikaf, dan berbagai amal sosial seperti sedekah, silaturahim, memberi buka puasa, dan lain sebagainya.

Idul Fitri bisa dimaknai kita mudik ke kampung halaman biologis kita. Kita kembali makan dan minum serta berhubungan suami istri. Kita juga mudik ke kampung halaman tempat kelahiran kita, tempat orangtua kita dimakamkan, tempat kita pernah belajar pertama kali mengaji dan mengenal huruf, lalu kita merantau ke berbagai kota.

Sementara itu, Idul Fitrah bisa dimaknai kita kembali ke jati diri kita yang paling orisinal dan genuine. Kita kembali kepada keluhuran hati nurani, kembali ke dalam suasana batin paling luhur dan lurus. Setelah sebulan penuh kita di-training secara spiritual, sekarang kita memiliki energi spiritual baru. Semoga energi baru ini mampu memproteksi kita terhadap berbagai godaan Iblis, seperti kembali mengoleksi dosa-dosa langganan, kembali ringan tangan dan bermulut tajam. Pengertian yang agak jauh ialah memitoskan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari pencuci dosa yang sangat efektif. Seolah-olah dengan mengikuti salat Idul Fitri Allah SWT mengampuni semua dosa dan kita kembali seperti bayi yang baru lahir sehingga memandang tidak perlu lagi salat atau puasa, tinggal menunggu Idul Fitri berikutnya untuk bertobat lagi. Ini jelas keliru.

Kita berharap selama sebulan penuh kita melakukan amaliah Ramadan menimbulkan dampak positif pada oring-orang terdekat kita. Bagaimana pembantu, sopir, tukang kebun, satpam, dan karyawan kita merasakan perubahan di dalam diri kita, misalnya mereka merasakan tuan dan nyonyanya tidak lagi gampang marah, tidak lagi pelit, tidak lagi ringan tangan, tidak lagi kasar, dan tidak lagi sombong serta angkuh. Tetangga juga merasakan adanya perubahan drastis seusai Ramadan. Demikian pula suasana batin di kantor muncul perubahan drastis pasca-Ramadan. Inilah sesungguhnya yang dinamakan Ramadan Mubarak dan Ramadan mabrur.

Dalam pandangan tasawuf, fitrah berarti kembali ke jati diri yang paling asli. Jika seseorang betul-betul bersih dan penyucian dirinya diterima Allah SWT, yang bersangkutan bisa membuka berbagai tabir yang selama ini menghijab dirinya berupa dosa dan maksiat. Ia akan mengalami penyingkapan (mukasyafah). Dengan demikian, ia mempunyai kemampuan untuk mengakses alam gaib, minimal alam barzah, yaitu perbatasan antara alam syahadah dan alam gaib.

Orang yang diberi kesadaran mukasyafah bisa merasakan kedekatan diri dengan Tuhan dan para sahabat Tuhan seperti Nabi Muhammad dan shalihin lainnya. Ia akan memiliki sahabat-sahabat spiritual sejati sehingga ia tidak pernah merasa kesepian. Ia selalu hangat dengan cinta Tuhan. Semoga tahun ini kita betul-betul diberi kesadaran dan keinsafan penuh sehingga kita bisa mencicipi mukasyafah. Semoga kita tidak jatuh lagi di lumpur dosa dan maksiat. Amin ya Rabb al-'alamin.

 

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 14 Agu 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More