Callind Panggilan Cinta untuk Indonesia

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Kamis, 14 Jun 2018, 10:00 WIB Humaniora
Callind Panggilan Cinta untuk Indonesia

MI/ ADAM DWI

TINGGAL di desa yang jauh dari sentuhan teknologi informasi (TI) bukan berarti harus pasrah mera­tapi nasib. Itulah yang menjadi pemantik semangat di benak Novi Wahyuningsih, 26.

Gadis asal Desa Tepakyang RT 02 RW 03, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu rela bersusah payah menempuh jarak 7 kilometer ke kota dengan menaiki angkutan umum untuk bisa mencicipi warung internet (warnet) sekaligus menyelami dunia TI.

Kecintaan Novi pada dunia TI bertambah besar hingga menuntun langkahnya menuju perusahaan Venture Capital yang berasal dari Tiongkok. Dari situlah, Novi mulai mengenal start-up dan proses pengumpulan dana melalui sistem crowdfunding (urun dana).
Saat demam start-up melanda dunia, Novi pun tidak ketinggalan. Tebersit keinginannya untuk membuat media sosial ala Indonesia.

Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman saat bekerja di VC, pada 2012 Novi membuat media sosial bernama Ayober, yang merupakan kependekan dari Ayo Berani, Ayo Berbagi, Ayo Bersama. Namun, ia tidak fokus membesarkan media sosialnya karena disibukkan juga dengan aktivitas lain, yakni mengelola waralaba toko serbaada dan menjajal peruntungan di dunia politik.

“Dari situ saya belajar, punya ambisi boleh, tetapi jangan ambisius. Ha ha ha. Tabungan yang tadinya akan saya gunakan sebagai modal membuat media sosial malah habis untuk biaya belajar politik,” kata Novi sembari menyeruput kopinya yang masih panas, saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Novi pun mendapat tawaran dari rekan kerjanya dahulu untuk mempresentasikan ide aplikasi media sosialnya kepada perusahaan di Kuala Lumpur, Malaysia. Ada sedikit penyesalan ketika idenya tidak bisa lagi diklaim sebagai karya anak bangsa. Pada 2015, Novi pun memutuskan berhenti bekerja dan pulang ke Tanah Air.

“Keinginan saya tidak bisa ditunda lagi, melihat marketplace yang menjamur. Saya lantas terpikir untuk membuat aplikasi pesan karena 250 juta jiwa itu pasti butuh berkomunikasi, dan tercetus nama Callind (Calling Indonesia),” ungkap alumnus UGM itu.

Aplikasi pesan yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Kartini pada 21 April 2018 disebut-sebut sebagai tandingan Whatsapp. Apli­kasi itu bahkan memberikan nilai tambah tersendiri. Tidak hanya bertukar pesan, pengguna Callind juga bisa memasang iklan secara cuma-cuma dan menggunakan informasi arus lalu lintas secara real time.

Untuk informasi lalu lintas, Novi berencana menaruh CCTV di beberapa titik strategis serta beker­ja sama dengan pihak penyedia layanan, seperti Jasa Marga dan Traffic Management Center Polda Metro Jaya.

Ke depan, informasi lain yang akan disediakan berhubungan dengan dunia pertanian, pendidikan, dan juga pantauan harga barang di pasar. Selain itu, Novi berencana bisa bekerja sama dengan media massa daring untuk mengisi konten di fitur tersebut.

Banyaknya informasi yang tersedia diklaim Novi sesuai dengan tag­line Callind, Percepat Komunikasi, Transaksi, dan Informasi. Layanan premium yang terintegrasi dengan fitur pesan dan iklan akan diluncurkan pada November 2018.

“Meski jualan dengan modal karya anak bangsa, tetap harus menunjukkan kualitas,” imbuh Novi yang kini dipercaya sebagai tenaga ahli muda bidang komunikasi politik dan diseminasi informasi di Kantor Staf Presiden.

Layanan lain yang juga diha­dirkan Callind ialah fitur find user, private chat, curhat chat, hingga dompet. Untuk find user, sesama pengguna bisa berkirim pesan meskipun sebelumnya tidak kenal dengan mengaktifkan pengaturan lokasi. Jika tak ingin terdeteksi, cukup matikan pengaturan lokasi ataupun menggunakan layanan premium.

Fitur private chat akan membuat pesan otomatis terhapus setelah dibaca dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan pengaturan pengguna. Curhat chat merupakan fitur yang memungkinkan penggunanya terhubung pada kelompok dengan pembahasan tertentu.
Nah, fitur dompet berisi tabungan uang berasal dari link referral yang kita bagikan kepada teman untuk ikut menggunakan Callind. “Satu kali dipakai dapat Rp100. Kalau sudah Rp100 ribu bisa kami cairkan ke rekening pengguna, atau nantinya bisa untuk beli produk yang ada di fitur iklan,” pungkasnya.

Gunakan konsep koperasi
Aplikasi yang mulai meluncur di Playstore sejak Agustus 2017 itu sudah memiliki sekitar 830 pengguna dengan modal yang berasal dari crowdfunding. Novi melepas 10% saham kepada umum untuk proses awal pendirian start-up, dan kini pihaknya sedang melakukan penawaran terhadap 10 ribu orang untuk bisa memiliki saham Callind dengan membayar Rp5 juta. Pengum­pulan dana itu berada di bawah bendera koperasi yang legalitasnya akan segera keluar.

“Kami ingin masyarakat Indonesia itu merasa memiliki. Konsepnya seperti koperasi, mereka yang memiliki saham mendapatkan bagi hasil. Uang dari masyarakat dibagi 30% untuk Callind, 20% untuk diputar, dan 50% untuk simpanan. Untuk saat ini yang terpenting masyarakat pakai aplikasi Callind dahulu,” tuturnya sembari tersenyum.

Meski sudah ditawar investor asing, Novi menolaknya. Ia ingin membesarkan Callind bukan dengan menggantungkan modal dari investor semata. “Modal utama adalah memiliki tim solid dan konsep bermanfaat untuk masyarakat, bukan sekadar mencari uang,” pungkasnya. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More