Kesempatan Emas Tunjukkan Keramahan

Penulis: Panca Syurkani Kontributor Media Indonesia dari Rusia Pada: Kamis, 14 Jun 2018, 09:20 WIB Piala Dunia 2018
Kesempatan Emas Tunjukkan Keramahan

MI/PANCA SYURKANI

PIALA Dunia 2018 hari ini dimulai. Perhatian masyarakat dunia tertuju pada Rusia yang belakangan ini mendapat tekanan atas berbagai tuduhan yang masih samar kebenarannya. Di antaranya tuduhan upaya pembunuhan mantan agen ganda Rusia Sergey Skripal dan putrinya di Inggris serta hasil investigasi pe­nembakan pesawat MH17 di Ukraina yang melibatkan sistem rudal Rusia. Yang terbaru, pembunuhan jurnalis pengkritik pemerintah Rusia Arkady Babchenko di Ukraina.

Pesta sepak bola empat tahunan ini menjadi kesempatan emas bagi negara yang dulu berjulukan ‘Negeri Beruang Merah’ ini untuk mencoba memulihkan nama baik mereka. Piala Dunia 2018 menjadi kesempatan bagi Rusia menunjukkan kepada dunia, mereka tidak seperti yang digambarkan di film-film garapan Amerika yang lebih banyak memainkan peran antagonis ketimbang protagonis.

Tentu saja hal tersebut bukanlah perkara mudah dan belum tentu akan menghilangkan pandangan miring terhadap bekas negara komunis tersebut.

Yang dapat dilakukan Rusia hanyalah berupaya semaksimal mungkin menjadi tuan rumah yang baik. Tidak hanya bagi para peserta, tetapi juga bagi para suporter dan jurnalis dari berbagai penjuru dunia yang tengah bertamu di rumah mereka.

Laiknya pemilik rumah, pemerintah Rusia berupaya seramah mungkin melayani tamu dan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan. Hal itu dilakukan agar mereka merasa nyaman dan kerasan selama bertamu di rumah mereka.

Pemerintah Rusia memberikan kemudahan untuk memasuki wilayah negera itu selama Piala Dunia 2018. Warga asing tak lagi memerlukan visa asalkan memiliki tiket pertandingan dan identitas penggemar atau fan ID dengan izin masa tinggal 10 hari sebelum dan sesudah Piala Dunia. Untuk jurnalis terakreditasi, dapat memperoleh visa dengan gratis dan dapat memasuki Rusia lima bulan sebelum pertandingan pertama.

Pemegang fan ID dan jurnalis juga mendapat layanan transportasi kereta gratis baik di dalam kota maupun antarkota dengan pemesanan terlebih dahulu. Petugas berbahasa Inggris ditempatkan di stasiun kereta dan kereta bawah tanah atau metro yang menjadi andalan warga Moskow. Panduan akses menuju stadion dapat dengan mudah ditemukan mulai luar stasiun metro, hingga menuju stasiun terdekat dengan stadion.

Media Indonesia pada 9 Juli lalu mencoba mengunjungi Stadion Luzhniki dari Lapangan Merah di pusat Kota Moskow. Dari Lapangan Merah diperlukan waktu sekitar 35-40 menit menggunakan metro dari Stasiun Okhotny Ryad.

Petunjuk menuju Stadion Luzhniki terpampang dari terowongan menuju stasiun, hingga keluar dari Stasiun Sportivnaya. Keluar stasiun sejumlah sukarelawan sudah menyambut dan melanjutkan panduan hingga ke pintu masuk stadion.

Media Indonesia terhenti sejenak sekitar 100 meter sebelum tiba di gerbang stadion saat melintasi posko bantuan bagi penyadang disabilitas. Sebuah pemandangan yang tak biasa ditemukan di Indonesia. Selamat berpesta.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More