Bisnis Pariwisata belum Optimal

Penulis: Benny Bastiandy Pada: Kamis, 14 Jun 2018, 07:35 WIB Nusantara
Bisnis Pariwisata belum Optimal

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

KONDISI bisnis pariwisata di Jawa Barat terutama di kawasan Lembang dan Cipanas, tidak menggembirakan. Selain masalah infrastruktur, minimnya promosi menyebabkan lesunya kunjungan wisatawan ke daerah itu.

Seperti yang terjadi di kawasan wisata Cipanas dan sekitarnya kini mulai sepi dikunjungi wisatawan. Hal itu terlihat dari jumlah wisatawan yang menginap di hotel-hotel sepanjang Cipanas terus menurun. Apalagi, dalam beberapa bulan ini, jalur Puncak tertutup akibat longsor. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cianjur, Jawa Barat, mendesak perlu dibentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah.

“Keinginannya bisa dibentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah agar sektor jasa di kawasan Cianjur utara bisa kembali terdongkrak,” ujar Ketua PHRI Cianjur, Nano Indrapraja, Rabu (13/6)    

Menurutnya terjadinya jalan ambles di kawasan Puncak Pass cukup berpengaruh terhadap berbagai sektor. Terutama pariwisata serta jasa hotel dan restoran. Belum maksimalnya ruas jalan itu dilalui kendaraan menyebabkan usaha perhotelan dan restoran belum menggeliat optimal.

“Jumlah kedatangan juga tidak begitu banyak, tapi omzet sudah mulai membaik,” terangnya.

Sementara itu, PHRI Kabupaten Bandung Barat pesimistis libur Lebaran kali ini bisa meningkatkan okupansi hotel dari wisatawan luar daerah. Pasalnya, kondisi lalu lintas yang terjadi di Lembang sangat memengaruhi naik turunnya hunian hotel.

Ketua PHRI Bandung Barat, Samuel Setiadi, mengungkapkan menjelang libur panjang Lebaran kali ini tingkat okupansi hotel di Bandung Barat mengalami penurunan. Berbeda jika dibandingkan dengan tahun lalu, penurunan okupansi hotel pada tahun ini cukup drastis.
“Biasanya setelah Lebaran ada peningkatan jumlah penginap, namun itu sangat tergantung dari kondisi lalu lintas di Lembang. Kalau macet, otomatis pendapatan kami berkurang,” ungkap Samuel.

Kalaupun ada rekayasa lalu lintas dari pihak kepolisian, kata dia, hal tersebut tidak menjadi jaminan para wisatawan mendatangi hotel. Sebaliknya, kemacetan di Lembang justru membuat sebagian pengusaha rumah makan di kawasan wisata ini kebanjiran konsumen.
”Saya sering bertanya ke pengunjung, daripada terjebak macet mereka lebih memilih beristirahat sambil makan,” kata pemilik rumah makan Balibu Lembang, Fey Fey.

Terbengkalai
Pengelola objek wisata air panas, Syarifuddin, menuturkan lahan objek wisata ini memang masih dimiliki warga. Selain objek wisata air panas, objek wisata lain di Hulu Sungai Tengah kurang terawat. “Padahal, kabupaten di kaki Pegunungan Meratus ini kaya akan potensi wisata alam,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Heriansyah, Rabu (13/6) mengakui banyaknya objek wisata di Kalsel yang pengelolaannya kurang maksimal dan mulai ditinggalkan pengunjung.

Pada tahun ini Dinas Pariwisata Kalsel mendapat anggaran Rp17 miliar untuk  mengembangkan pembangunan objek wisata. “Kami berharap pemerintah daerah dapat memaksimalkan pengembangan objek wisata yang menjadi prioritas utama pemerintah,” harapnya. (DG/DY/AU/RF/RS/YR/N-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More