Jangan Kasih Ampun Kepala Daerah yang Korupsi

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Rabu, 13 Jun 2018, 19:09 WIB Polkam dan HAM
Jangan Kasih Ampun Kepala Daerah yang Korupsi

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku tidak pernah gentar menangkap dan memenjarakan siapa pun yang melakukan tindak pidana korupsi. Menyikapi banyaknya kepala daerah yang tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT), KPK meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) memperberat tuntutan pidana kepada kepala daerah yang masih nekat melakukan korupsi.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengaku, sudah menyarankan kepada seluruh JPU agar memperberat vonis pejabat yang terbukti melakukan korupsi.

“Apa lagi pejabat yang pernah kami berikan pembekalan antikorupsi yah, itu bila perlu jangan dikasih ampun lagi. Karena apa, karena mereka masih nekat aja korupsi,” tegasnya kepada Media Indonesia di Jakarta, Rabu (13/6).

Beberapa pekan terakhir, sejumlah kepala daerah kembali ditangkap karena menerima suap dari rekanan mereka di daerah. Menurutnya, hal tersebut sebenarnya bisa ditolak karena kepala daerah sudah mengikuti pembekalan tentang pencegahan korupsi yang diberikan langsung oleh tim KPK.

“Ini kan sama halnya apa yang disampaikan oleh KPK tidak didengar oleh kepala-kepala daerah itu. Makanya saya meminta agar diperberat hukumannya biar mereka bisa sadar,” jelas Saut.

Dia mengatakan, KPK tidak akan berhenti melakukan pencegahan, baik di tingkat kabupaten, kota, provinsi, hingga pusat. “Tentunya pencegahan akan ditingkatkan lagi,” tandas Saut. (OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More