Tomy Yunus Belajar Bahasa tanpa Kendala Jarak

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Rabu, 13 Jun 2018, 23:00 WIB Humaniora
Tomy Yunus Belajar Bahasa tanpa Kendala Jarak

MI/Pius Erlangga

NEKAT, mungkin begitulah gambaran yang tepat untuk Tomy Yunus saat memutuskan pergi ke Tiongkok sembilan tahun tahun lalu. Dengan tujuan ke kota Beijing, Tomy tidak membawa bekal kemampuan bahasa Mandarin sedikit pun. Ia mengandalkan teman-temannya yang telah lima hingga sepuluh tahun belajar bahasa Mandarin di Indonesia.

Namun, harapannya tidak berjalan mulus. Teman-temannya justru menjadi sama tidak mahir seperti dirinya. Kepercayaan dirilah yang menjadi halangan mereka. Maka selama enam bulan berada di sana, Tomy yang memiliki kemauan keras belajar sudah bisa memiliki kemampuan setara teman-temannya.

"Saya analisa itu karena teman-teman saya belajar dengan guru lokal. Guru Indonesia yang bisa berbahasa Mandarin, dan juga karena lingkungan yang kurang mendukung," tutur Tomy saat ditemui di kantor Squline Jakarta, Selasa(22/5).

Dengan belajar kepada guru lokal, maka murid tidak akan benar-benar berupaya untuk selalu menggunakan bahasa asing. Jika ada kata-kata sulit, bukannya memaksa diri untuk tetap mencari padanan kata dalam bahasa asing tersebut, mereka dapat mencari pemakluman dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Maka ketika menghadapi kondisi nyata di Tiongkok, kepercayaan diri teman-teman Tomy menjadi goyah. Setiap saat mereka harus menggunakan bahasa Mandarin, sebab sang guru yang disebut laoshi sama sekali tidak dapat menggunakan bahasa lain, termasuk bahasa Inggris.

Untuk membuat para murid paham, guru mandarin di Tiongkok tersebut menggunakan teknik penjelasan dengan gambar.

"Kalau mau belajar bahasa asing, ya, harus dengan guru asal, tidak ada kesempatan berbicara dengan bahasa Indonesia sedikit pun. Pun dengan sesering mungkin berkomunikasi dengan bahasa tersebut, tidak perlu waktu lama yang penting sering. Dua poin itu yang membuat tekad saya bulat untuk menghadirkan Squline," tambah Tomy.

Squline merupakan platform pembelajaran bahasa asing secara online (daring). Asal namanya merupakan pelesetan kependekan dari school online. Agar terdengar lebih kece, bersama rekannya, Yohan Limerta, Tomy mengubah menjadi Squline.

Tidak hanya menawarkan solusi untuk cara praktis belajar bahasa, Tomy juga punya misi untuk membantu meningkatkan daya saing para profesional Tanah Air. Ia melihat banyak talenta muda yang berbakat di bidangnya masing-masing, tetapi kalah bersaing untuk berkiprah di luar negeri lantaran kendala bahasa.

"Karena itu, masyarakat Indonesia butuh metode pembelajaran cepat agar mampu bersaing dengan baik. Apalagi dengan ditetapkannya MEA (masyarakat ekonomi ASEAN), gelombang tenaga kerja asing yang tidak bisa dibendung. Karena itu, masyarakat tidak boleh kalah dan bisa menjadi pemimpin di negerinya sendiri, maupun berhasil di negara lain," ujar pria kelahiran Belinyu, 27 Juli 1986.

Mulai dibangun pada 2013, satu tahun kemudian Squline telah memiliki legalitas dengan bahasa Mandarin sebagai fokus layanannya.

Mendapat respons baik dari pasar, pada 2015, Squline bisa melebarkan layanan ke bahasa Inggris, dan di tahun berikutnya merambah bahasa Jepang. Tahun ini, Tomy berencana membuka kelas pelajaran bahasa Indonesia.

Untuk sistem pembelajarannya, Squline menghubungkan murid dengan pengajar asing melalui bantuan layanan video call dari beberapa aplikasi. Berkaca pada pengalaman Tomy, belajar bahasa asing diyakini harus dengan guru penutur asli agar mendapatkan pengalaman belajar yang melibatkan penuh kemampuan kedua belah pihak. Hal itulah yang membuat kemampuan seseorang akan berbahasa lebih cepat meningkat.

Pertahankan konsep guru

Era digital yang semakin berkembang dan menawarkan banyak produk canggih tidak mengubah konsep Squline dalam memberikan pengetahuan dan pelajaran. Mereka meyakini, jika bahasa tetap harus diajarkan oleh guru, bukan dari aplikasi berupa rangkuman pelajaran, juga bukan dari rekaman suara guru, tetapi ada komunikasi tatap muka dengan peranti video call.

Dengan begitu tidak ada alasan untuk tidak belajar, karena murid bisa belajar di mana pun ia berada selama sinyal internet memadai. Guru yang dimiliki Squline dipastikan Tomy memiliki kualitas yang baik. Guru penutur asing ini didapatkan melalui kerja sama dengan institusi belajar yang profesional, serta universitas yang memiliki native teacher.

Metode pembelajaran terdiri dari tiga cara, yakni one on one, grup, serta webinar. "Tidak mau menggantikan peran guru, justru kami berikan teknologi kepada guru supaya bisa membuat dampak yang lebih besar. Kami juga memiliki kurikulum sehingga kelas itu enggak cuma free talking saja, tetap ada panduannya," ungkap pria yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk Squline ini.

Untuk proses pendaftaran, sama halnya dengan lembaga kursus offline, mulai registrasi, tes penempatan level (placement test), hingga mendapatkan pilihan metode serta solusi belajar yang sesuai dengan hasil tes. Biaya pun mengikuti pilihan paket dan bahasa yang diambil murid, mulai Rp700 ribu per bulan hingga Rp2,99 juta per bulan. Perbedaan antarpaket salah satunya terlihat dari proses belajar yang bisa diikuti dalam satu hari, apakah satu, dua, atau tiga kali. Pun dengan durasinya, mulai 25-75 menit per sesi, Tomy pun menyarankan untuk tidak terlalu panjang mengambil proses belajar yang idealnya 50 menit, sementara untuk yang ingin menjaga kemampuan, bisa mengambil paket waktu 25 menit per sesi.

Selain pilihan paket dan waktu, murid juga bisa menentukan guru yang akan menjadi teman belajarnya. Semisal, pada pukul 14.00 WIB, murid A ingin mengikuti pembelajaran bahasa Inggris, maka pada aplikasi akan muncul pilihan guru yang bisa berbeda dalam setiap kali pertemuan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ketergantungan pada satu guru dan murid bisa belajar bermacam-macam aksen.

 

Siap luncurkan kelas bahasa Indonesia

Tomy melihat adanya peluang membuka kelas bahasa Indonesia lantaran banyak tenaga kerja asing yang datang. Kebutuhan ini juga dilihat Squline ketika mengikuti pameran di luar negeri berkat ajakan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), di Texas, Australia, juga Taiwan. Australia mewajibkan masyarakatnya belajar satu bahasa asing, dan Indonesia menjadi salah satu bahasa yang diminati. Sebab itu, Tomy ingin menghadirkan solusi dari pasar tersebut.

Segmentasi pengguna kini berkisar pada usia 25-35 tahun atau kerap disebut sebagai kaum milenial. Sementara untuk anak-anak, Tomy berencana akan membuka kelas di lima tahun yang akan datang. Saat ini, Squline juga kerap diminta membantu pelatihan maupun kursus dengan materi khusus, seperti bisnis dan teknologi informasi (TI).

"He he he, sebentar lagi akan kami luncurkan kelas bahasa Indonesia, saat ini fokus pasar kami masih di Pulau Jawa, meskipun ada juga beberapa murid yang berasal dari wilayah timur Indonesia, karena bisa belajar di mana saja dan kapan saja, maka siapapun bisa mengikuti," pungkasnya.  (M-2)


 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More