Kemensos Bertekad Jauhkan Paham Radikal dari Anak Pelaku Teror

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Rabu, 13 Jun 2018, 09:27 WIB Humaniora
Kemensos Bertekad Jauhkan Paham Radikal dari Anak Pelaku Teror

ANTARA/DHEMAS REVIYANTO
Menteri Sosial Idrus Marham

KEMENTERIAN Sosial menerima tujuh anak yang orangtua mereka ialah terduga pelaku teror di Surabaya dan Sidoarjo. Mereka akan diberikan layanan psikososial dan pendampingan selama beberapa bulan ke depan.

“Mereka diserahkan kepada Kementerian Sosial dan akan ditangani dengan baik sesuai ketentuan. Sesuai perintah Presiden Jokowi kepada saya, anak korban konflik sosial harus diperhatikan. Kementerian Sosial akan melakukan pendampingan untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka,” kata Menteri Sosial Idrus Marham melalui siaran pers, Rabu (13/6).

Mensos menyampaikan pihaknya telah menyiapkan save house atau rumah aman. Tetapi ia enggan menyebutkan tempatnya.

"Tidak bisa disampaikan di mana mereka. Karena mereka perlu dilindungi dan dijaga keamanannya dan psikososialnya," ujarnya.

Mensos juga belum dapat memastikan lamanya waktu rehabilitasi karena, ia menegaskan, hak-hak terhadap anak-anak tersebut seperti pendidikan harus terpenuhi.

"Kita melakukan pendampingan dan pembinaan-pembinaan dari sisi psikososialnya. Masalah kejiwaannya dan pendidikannya," katanya.

Selain itu, menurutnya, yang paling penting dari pendampingan ialah agar mereka tidak ikut terpapar paham radikalisme dan doktrin-doktrin terorisme.

"Kita bersihkan dalam pikiran-pikiran mereka," ujar Mensos.

Mensos mengatakan pihaknya berkerja sama dengan lembaga lain termasuk Badan Nasional Penggulangan Terorisme (BNPT) dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia dalam menangani anak-anak sebagai korban terorisme.

Pada Selasa (12/6) penyerahan sudah dilakukan di Mapolda Jawa Timur oleh Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin kepada Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial Nahar. Penyerahan itu disaksikan Staf Khusus Menteri Sosial Ismail Cawidu dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Polda Jatim menyerahkan anak-anak ini kepada Kementerian Sosial karena dinilai secara fisik sudah sehat dan juga secara psikis dianggap cukup baik.

Menurut Mensos, usia anak-anak tersebut berbeda-beda dari segi usia, ada yang 13 tahun, 14 tahun, dan paling tua 15 tahun. Mereka terdiri dari empat laki-laki dan tiga perempuan.

Menurut Mensos, sesuai undang-undang, anak-anak tersebut memilki hak hidup, tumbuh dan berkembang sesuai usianya, dan mendapatkan pendidikan yang layak. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More