Zakat Konsep Kesejahteraan Islam

Penulis: Sri Utami Pada: Rabu, 13 Jun 2018, 08:06 WIB Renungan Ramadan
Zakat Konsep Kesejahteraan Islam

ANTARA/Wahyu Putro A
Umat muslim membayarkan zakat fi trah kepada panitia amil zakat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (11/6/2018).

ISLAM memiliki banyak aturan baik yang diterapkan untuk umatnya di dunia. Dalam Islam aturan dan berbagai konsep berkehidupan dituangkan dalam Alquran dan hadis. Salah satu yang dijelaskan ialah konsep kesejahteraan dalam islam.

“Dalam hadis disebutkan, barang siapa yang merasa aman dan tenteram di lingkungannya, kemudian sehat jasmani dan punya makanan untuk hari itu, seperti pemilik dunia,” kata ustaz sekaligus Guru Besar Universitas Islam Syarif Hidayatullah Ahmad Satori Ismail dalam tausiah di Masjid Nursiah Daud Paloh, Kompleks Media Group, Jakarta Barat.

Menurutnya, masyarakat harus memiliki jaminan kehidupan sosial dan ekonomi yang baik dan menjanjikan, termasuk jaminan spritualnya. “Jika semua hal itu ada dalam masyarakat dan terlaksana, laksana hidup di dalam surga,” imbuhnya.

Secara rinci dan tegas, lanjutnya,  Islam memerintahkan umatnya untuk menciptakan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Salah satunya dengan bersedekah dan berzakat.

Konsep ekonomi kapital yang cenderung digunakan negara, kata Ustaz, tidak menjawab kebutuhan ekonomi secara merata. Bahkan, konsep kapital bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya tanpa memperhatikan pemerataan kepada umat secara luas.

Oleh karena itu, zakat menjadi solusi yang telah diatur dengan tegas dalam kitab Allah SWT serta menjadi perintah yang wajib dijalankan.

“Orang bisa menjadi kaya. Tapi yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka memperhatikan kehidupan di sekelilingnya. Apakah sudah berkecukupan atau belum? Jika semua sudah sadar tentang ini, sudah terjaga,” tegasnya.

Ia juga mengatakan kewajiban membayar atau mengeluarkan zakat kenyataanya belum disadari semua umat. Bahkan, pedagang seperti yang dilakukan dan dilontarkan para nabi belum sepenuhnya dilaksanakan.

“Memang banyak muslim yang belum menyadari kewajiban ini. Kekayaannya banyak, tapi belum diimbangi dengan kewajibann. Maka Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) sekarang sedang berjuang untuk ini. Menyadarkan bahwa negara ini tidak akan aman jika masih banyak orang miskin ilmu, akidah, dan miskin harta. Itu sengsara semuanya,” ungkapnya.

Berdagang jujur
Menurutnya, zakat merupakan salah satu jawaban dari permasalah kemiskinan. Jika semua orang kaya mengeluarkan zakat sesuai dengan aturan, jumlah orang miskin akan berkurang. Selain itu, etos kerja yang dicontohkan Nabi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjadi pebisnis yang amanah dan jujur.

“Pekerjaan Nabi yakni berdagang. Berdagang dengan jujur dan amanah itulah yang menjadi pesan Nabi kepada umatnya. Tapi saat ini pedagang juga banyak yang tidak mengeluarkan zakat. Padahal, itu kewajiban,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan kesejahteraan dalam konsep Islam pada intinya menuntut terpenuhinya kebutuhan manusia yang meliputi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer meliputi pangan, sandang, papan atau tempat tinggal, kesehatan, keamanan yang layak, serta kebutuhan lain termasuk jaminan spritual.

“Kategori kebutuhan seperti itu bersifat materiil sehingga kesejahteraan yang tercipta pun bersifat materiil,” kata Ustaz.

Masyarakat yang mewujudkan kehidupan seperti di surga ialah masyarakat yang berkesejahteraan. Kebutuhan dan kesejahteraan secara individu dan sosial juga ditegaskan dalam kitab Allah SWT, bahwa pangan, sandang, dan papan diistilahkan dengan tidak lapar, tidak dahaga, tidak telanjang, dan tidak kepanasan, semuanya telah terpenuhi. Terpenuhinya kebutuhan ini merupakan unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial. (Sru/H-1)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 23 Okt 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More