Jangan Segan Bermaafan

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Rabu, 13 Jun 2018, 01:15 WIB Kesehatan
Jangan Segan Bermaafan

thinsktock

BERSILATURAHIM dan saling meminta maaf menjadi bagian dari tradisi Idul Fitri di Tanah Air. Tradisi itu tidak hanya meningkatkan kualitas hubungan sosial. Dari sisi kesehatan, bermaafan juga punya manfaat besar.
   
"Memaafkan dengan tulus menandakan kematangan pribadi seseorang untuk melepaskan rasa marah, kecewa, dendam, dan semua pikiran negatif. Proses itu memicu pikiran positif dan rasa damai yang sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan dan kesehatan seseorang," ujar dokter spesialis kesehatan jiwa Elisa Tandiono, ketika dihubungi di Jakarta, Senin (11/6).

Ia menjelaskan, hasil pemindaian aktivitas otak menggunakan functional magnetic resonance imaging (FMRI) menunjukkan, saat seseorang memaafkan terjadi proses homeostasis (mekanisme mencapai keseimbangan dinamis) pada bagian korteks prefrontal dan korteks singulata anterior.

"Hal itu menunjang pikiran positif dan menetralkan emosi negatif, serta berkurangnya sikap dan perilaku agresif," terangnya.

Sebaliknya, sejumlah penelitian menunjukkan efek negatif dari amarah dan dendam pada kesehatan tubuh. Seperti yang diterbitkan di jurnal American Psychological Society. Subjek penelitian diminta memikirkan hal-hal di masa lampau yang membuat mereka marah.
"Hasilnya memperlihatkan terjadi perubahan sistem saraf pusat dan perifer yang mengakibatkan kenaikan denyut jantung, tekanan darah, dan ketegangan otot. Efek itu bahkan berlangsung lama setelah subjek tidak memikirkan hal tersebut," tutur dokter yang berpraktik di RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta itu.

Pada penelitian lain yang dimuat di jurnal Psychosomatic, sebagian subjek penelitian diminta untuk mengalihkan rasa marah dengan memikirkan hal lain, sebagian lagi benar-benar memaafkan. Setelah diukur, terlihat bahwa kelompok yang memaafkan memiliki reaktivitas jantung lebih baik ketimbang subjek yang masih menyimpan rasa marah.

Elisan menambahkan, banyak orang yang mengira kalau mereka tidak lagi memikirkan atau mencoba melupakan kesalahan orang lain, artinya sudah memaafkan. Tetapi, memaafkan yang sebenarnya harus secara sukarela.

Menurutnya, sekadar mencoba melupakan merupakan supresi (menyadari, tapi mencoba melupakan) ataupun represi (tidak menyadari karena telah ditekan ke alam bawah sadar). Baik supresi maupun represi terhadap rasa marah, benci, getir, kekecewaan, dendam, dan semua emosi negatif lainnya, akan meningkatkan level hormon kortisol dan secara langsung menekan fungsi sistem kekebalan tubuh (sistem imun). Akibatnya, penyakit mudah menyerang.

"Selain rentan infeksi, saat sistem imun tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya semakin besar risiko sel normal bermutasi menjadi sel kanker. Hal ini yang banyak menjadi perhatian para peneliti yang mencari hubungan antara kanker dan rasa marah, terutama rasa marah yang terpendam," pungkasnya.

Gangguan psikosomatis
Terpisah, dokter spesialis kesehatan jiwa dari RS Persahabatan, Jakarta, Triwibowo T Ginting, mengungkapkan banyak penelitian menunjukkan ada kaitan antara gejala-gejala fisik dan kondisi psikologis.

Seperti pada penyakit psikosomatis. Yakni, munculnya gangguan pada fisik karena beban pikiran. "Muncul misalnya ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga bisa timbul kecemasan atau berpengaruh pada kondisi fisik seperti sakit kepala, sakit perut, dan rasa tidak nyaman di seluruh tubuh," terang Tribowo.

Ia mengisahkan pengalaman salah satu pasiennya. Pasien tersebut mengalami gangguan cemas dan serangan panik sehingga harus dibawa ke IGD berulang kali. Namun, ketika diperiksa fisiknya, semua normal.

"Setelah kita gali bersama-sama, ternyata dasarnya ialah rasa kecewa dan benci terhadap orang lain. Pasien juga merasa ada konflik dalam dirinya dan menyalahkan diri sendiri."

Setelah mendapatkan terapi, pasien tersebut menjadi lebih tenang, dapat berpikir lebih positif dan belajar memaafkan.

"Kalau kita bisa memaafkan diri sendiri ataupun orang lain, kondisi mental menjadi lebih stabil, konflik menjadi mudah teratasi, dan kondisi fisik pun jadi lebih baik," pungkasnya. (H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More