Nova Riyanti Yusuf Pentingnya Edukasi Kesehatan Jiwa

Penulis: Suryani Wandari Pada: Rabu, 13 Jun 2018, 00:45 WIB Hiburan
Nova Riyanti Yusuf Pentingnya Edukasi Kesehatan Jiwa

MI/ADAM DWI

BELUM lama ini dunia dikejutkan dengan dua tragedi bunuh diri tokoh ternama. Tampak memiliki segalanya, termasuk keluarga, karier, dan uang, tidak menghentikan desainer Kate Spade dan chef-penulis Anthony Bourdain untuk mencabut nyawa sendiri.

Tidak sedikit netizen Tanah Air yang turut masygul pada peristiwa itu. Ada pula yang membuat analisis melalui media sosial dan mengajak orang untuk lebih mendekatkan diri pada keluarga dan Tuhan.

Penulis dan mantan anggota DPR, Nova Riyanti Yusuf pun ikut mencermati tragei Spade dan Bourdain. Tidak sekadar berpendapat, sebagai seorang psikiater (dokter jiwa), Nova menerangkan jika energi agresif untuk ‘menghabisi nyawa’ di dalam diri manusia sesungguhnya besar. Hal ini sejalan dengan formulasi Freud tentang naluri kematian bahwa dorongan kuat untuk menghancurkan diri sendiri sebenarnya sudah ada sejak lahir pada semua orang.

Namun, bunuh diri juga tidak mudah saja dipicu. "Bunuh diri merupakan masalah kompleks yang tidak diakibatkan oleh alasan tunggal. Ya, bunuh diri ditinjau sebagai sebuah tindakan multi-determined dengan berbagai faktor risiko seperti gangguan psikiatrik, faktor sosial, psikologis, biologis, genetik dan gangguan fisik," kata dokter yang akrab dipanggil Noriyu ini, Senin (11/6).

Ketika banyak tokoh ternama melakukan bunuh diri, hal tersebut dapat menjadi faktor sosial yang memicu bunuh diri pada orang lain. Penggemar mereka dapat menjadi memiliki benih ide untuk bunuh diri.

Bunuh diri sebetulnya dapat terjadi di semua kalangan, tetapi banyaknya seniman yang melakukan bunuh diri dapat juga dicermati karena suasana kerja yang terkait dengan suasana hati (mood) yang berubah-ubah.

Remaja
Nova mengungkapkan jika bunuh diri juga marak di kalangan remaja. Di Amerika Serikat (AS), ada 4.500 remaja tewas bunuh diri setiap tahunnya.  

"WHO Global Health Estimates sendiri telah mengestimasi depresi akan menjadi penyebab kedua penyakit pada tahun 2020,” ungkap perempuan yang telah menghasilkan setidaknya enam novel ini.

Besarnya permasalahan bunuh diri di berbagai negara sudah tergambar pula pada The Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs menentapkan target untuk menekan angka bunuh diri hingga 30%. Namun, SDGs tak menyatakan angka jumlah kasus bunuh diri yang digunakan sebagai acuan awal. "Indonesia ibarat tidak punya terminal keberangkatan sehingga akan sulit dapat berangkat ke lokasi tujuan," ungkap Noriyu.

Menurutnya, Indonesia tak mempunyai angka acuan awal disebabkan belum mempunyai suicide registry system, apalagi skema jaminan klaim BPJS pun tidak mengover tindakan yang membahayakan diri sendiri seperti bunuh diri ini.

Sementara itu, pada 2015 Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melakukan survei yang menunjukan ide bunuh diri pada plajar SMP dan SMA cukup tinggi, yakni 4,3% pada laki-laki dan 5,9% pada perempuan, sedangkan persentase pelajar SMA yang membuat perencanaan tentang cara bunuh diri ialah 5,5% pada laki-laki dan 5,6% pada perempuan, bahkan 3,4% perempuan dan 4,4% pada laki-laki ini telah melakukan bunuh diri.

Nova pun mencoba mengungkap lebih jauh faktor pendorong bunuh diri di kalangan pelajar dengan melakukan penelitian bekerja sama dengan Kemenkes pada 2015. "Para pelajar yang mempunyai masalah emosional terdapat kecenderungan memikirkan tentang bunuh diri dan mempunyai keinginan bunuh diri jika dibandingkan dengan pelajar tanpa masalah emosional," ungkapnya soal hasil penelitian itu.

Noriyu menyarankan pihak sekolah bisa melakukan intervensi kepada siswanya seperti yang dilakukan di Uni Eropa dengan memberikan edukasi tentang kesehatan jiwa kepada pelajar maupun pelatihan terhadap guru di sekolah yang dilakukan secara berkala. "Program-program itu harus dirancang serius sehingga tak melulu dilakukan skrining tetapi hasilnya terabaikan karena belum adanya program integratif kesehatan jiwa remaja berbasis sekolah," pungkasnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More