Visa oh Visa

Penulis: Ronald Surapradja Pada: Selasa, 12 Jun 2018, 07:56 WIB celoteh
Visa oh Visa

MI/Rommy Pujianto
Ronald Surapradja

JULI nanti saat musim panas di Eropa saya berencana melancong ke Inggris dan Spanyol untuk menyaksikan dua festival musik. Menyaksikan langsung pahlawan-pahlawan musik ialah salah satu kegemaran saya. Nah, ganjalannya saya masih belum dapat kepastian mengenai visa Schengen saya. Katanya kalau sudah sering ke luar negeri biasanya visa akan didapat, tapi selama paspor dan visanya belum di tangan saya masih belum bisa tenang. Sementara itu, tiket konser, tiket pesawat, penginapan semua sudah fix. Kalau visa sampai tidak keluar, bisa nangis saya.

Saya kira yang pernah bepergian ke negara yang membutuhkan visa pasti tahu bagaimana ribetnya mengurusi itu semua. Dari mulai mengisi formulir yang panjang, melampirkan akta lahir yang sudah diterjemahkan, menyertakan rekening keuangan tiga bulan terakhir, membeli asuransi perjalanan, menyertakan tiket pesawat dan penginapan, mengatur jadwal wawancara, sampai membayar biaya yang tidak murah. Bahkan, dengan segala tetek bengek tadi, bukan jaminan kita akan pasti mendapatkan visa.

Dalam dunia perpasporan ada rangking kekuatan paspor. ‘Kuat’ di sini berdasar jumlah negara yang memberikan akses bebas visa kunjungan pada negara tersebut. Jika kita menganggap negara besar seperti Amerika Serikat dan Inggris ialah pemilik paspor terkuat, itu salah. Dari rangking yang dikeluarkan Passportindex.org di 2018, negara dengan paspor terkuat di dunia ialah Singapura, kemudian Korea Selatan, disusul Jerman dan Jepang yang sama-sama di peringkat ke-3.

Dari penelitian Adam Luedtke, Douglas G Byrd, and Kristian P Alexander, yang diterbitkan menjadi jurnal berjudul The Politics of Visa, dijelaskan faktor-faktor yang berpengaruh pada kedudukan dan kekuatan visa.

Yang pertama faktor stabilitas negara. Yang kedua jumlah populasi karena ada ketakutan bagi pemberi visa kepada negara yang memiliki jumlah populasi penduduk besar. Ketiga kekayaan negara. Keempat kebebasan demokrasi di sebuah negara. Kelima faktor pendidikan dan kesehatan. Terakhir atau keenam tindakan terorisme dan kekerasan di sebuah negara. Dengan semakin seringnya terjadi kasus teror di negara kita, saya takut itu akan membuat peringkat kekuatan paspor kita melorot.

Harapan saya pemerintah bisa meningkatkan hubungan bilateral dengan banyak negara selain tentu saja meningkatkan kesejahteraan warga sehingga makin banyak negara yang percaya untuk memberikan free visa atau visa on arrival kepada pemegang paspor Indonesia.

Tidak sabar rasanya memegang paspor dengan visa Schengen di tangan lalu menonton Depeche Mode di Madrid Juli nanti. Setelah itu, dengan senyum lebar saya akan menulis status di social media saya, ‘now I have seen everything’. (H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More