Cornelia Agatha Ingin Bela Hak Anak

Penulis: Fathurrozak Pada: Selasa, 12 Jun 2018, 00:00 WIB Selebritas
Cornelia Agatha Ingin Bela Hak Anak

C&R

LAMA tak terlihat di layar kaca, aktris Cornelia Agatha masih sibuk di teater. Kesibukannya belakangan pun bertambah dengan dunia akademik.

Pemeran Sarah dalam serial Si Doel Anak Sekolahan ini tengah mengerjakan skripsi. Cornelia yang kuliah di jurusan hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini tengah mengangkat isu hak asasi manusia (HAM) sebagai bahan skripsinya.

"Isunya lumayan berat. Aku ambil tentang hak asasi manusia (HAM), hukum humaniter, tentang perlindungan anak di daerah konflik bersenjata, studi kursusnya, aku banyak belajar dari kasus seperti di Suriah, Rohingya, dan Palestina. Jadi, tentang hak perlindungan anak-anak di daerah perang, penelitiannya lumayan berat," ungkapnya ketika ditemui Media Indonesia di Galeri Semesta, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sebelum menyaksikan pemutaran perdana cuplikan Si Doel the Movie, Kamis (7/6).

Ia sempat ragu dapat menyelesaikan skripsi di tengah jadwalnya yang padat, termasuk promo. Beruntung, teman-teman kampusnya memberikan dukungan sehingga ia mampu mengejar target untuk sidang skripsi pada Oktober dan Desember wisuda.

Perempuan yang akrab disapa Lia itu tidak hanya ingin membahas isu tersebut di kuliah. Ia berkomitmen memperjuangkan isu tersebut.

"Tujuannya ada misi khusus untuk membantu anak-anak di dunia yang bermasalah, seperti mereka yang menjadi korban kekerasan, dan terjebak di zona perang. Memang skripsi yang saya buat rencananya akan saya gunakan untuk misi perdamaian dunia," ungkapnya. Namun, Lia enggan memaparkan lebih detail.

Ibu anak kembar itu juga ingin berkarier sebagai pengacara yang fokus membela hak-hak anak, termasuk mendirikan lembaga yang memberikan edukasi bagi masyarakat tentang pencegahan kekerasan terhadap anak.

Empati
Tidak semata mengajarkan mandiri, perempuan kelahiran Bogor, 11 Januari 1973, ini membesarkan anak kembarnya Makayla Athaya Lalwani dan Tristan Athala Lawani dengan menanamkan empati dan kepekaan.

"Sejak kecil pendidikan empati penting banget, termasuk kepekaan, yang menjadi fondasi manusia untuk bisa hidup di dunia dengan damai," ujarnya.

Kemandirian dan empati anak kembarnya yang kini sudah berusia 11 tahun ini pun tecermin dari kebiasaan mereka mempersiapkan bekal untuk sang ibu saat akan berangkat kuliah sore hari. "Mereka manis banget, nyiapin bekal buat saya, bikin snack, masukin roti, minuman ke dalam tas, ngasih semangat, good luck ya," selorohnya menirukan sang anak.

Lia pun memuji kedua anaknya yang bisa menghormati orang lain dan berperilaku sopan. Baginya, meninggalkan anak untuk kuliah juga akan memberikan manfaat untuk si kembar. Untuk itu, Lia menegaskan, baginya, kuliah harus berguna dan bermanfaat. (M-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More