Setop Politisasi dan Olok-Olok Tolol Soal Tol

Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta Pada: Senin, 11 Jun 2018, 12:28 WIB Opini
Setop Politisasi dan Olok-Olok Tolol Soal Tol

Ist

SETIAP kali melakukan perjalanan ke luar kota, saya selalu kagum dan karenanya harus berterima kasih kepada pemerintah, siapa pun presidennya, mulai dari Soeharto hingga Joko Widodo.

Sederhana sekali mengapa saya kagum dan kemudian memberikan apresiasi kepada pemerintah (sekali lagi siapa pun presidennya).

Begini, mengelola pemerintahan dalam sebuah negara yang dihuni oleh 250 juta orang pasti tidak mudah. Setiap orang punya kepentingan dan selera berbeda, apalagi jika perbedaan itu dilatarbelakangi dengan pandangan politik yang berbeda-beda pula.

Suatu kali saya naik kereta api dari Jakarta ke Semarang pergi pulang. Mengatur jadwal keberangkatan kereta api tentu tidak mudah. Namun, faktanya, kereta beroperasi tepat waktu. Kondisi gerbong kereta api juga bagus.

Saya kemudian membayangkan bahwa dunia perkeretaapian berikut permasalahannya dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) milik negara. KAI berada di bawah Departemen Perhubungan (sekarang Kementerian Perhubungan).

Karena pada saat itu yang menjadi kepala pemerintahan adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), maka saya pun membayangkan sosoknya yang tinggi besar dan murah senyum sedang memimpin rapat kabinet.

 ebagai orang bodoh, saya berkesimpulan SBY pasti bekerja mengatur ini semua lewat para pembantunya. Saya bersyukur tinggal di Indonesia yang punya pemimpin yang selalu melayani rakyat. Begitu selalu pikiran saya. Saya selalu berusaha berpikir positif.

Saat saya mudik menggunakan kendaraan pribadi -- waktu itu jalan bebas hambatan (tol) tidak sebanyak dan sepanjang sekarang --, saya pun tetap kagum kepada pemerintah siapa pun presidennya mulai dari Soeharto sampai SBY.

Mengapa saya kagum dan memberikan apresiasi kepada pemerintah? Lagi-lagi alasan saya sederhana, sebab saya leluasa membeli BBM di mana dan kapan pun. Persediaan BBM di SPBU cukup, padahal saya tahu menyiapkan cadangan BBM termasuk pendistribusiannya, apalagi di saat musim mudik Lebaran seperti sekarang, tidak mudah.

Saat itu, karena yang menjadi presiden adalah SBY, maka lagi-lagi saya membayangkan wajah SBY dan menerawangkan Kementerian ESDM dan Pertamina. Dalam hati saya hanya bisa berucap: "Terima kasih SBY, terima kasih pemerintah, terima kasih Pertamina karena pelayanan kalian, perjalanan mudik kami lancar."

Saat ini yang bertugas sebagai pelayan rakyat dan menjabat sebagai presiden adalah Joko Widodo (Jokowi). Jika saya menemukan fakta-fakta menyenangkan berkait dengan pelayanan pemerintahannya, saya pun pasti membayangkan Jokowi yang sibuk bekerja dan tak peduli dengan cibiran segelintir orang yang tidak menginginkan ia menjabat lagi sebagai presiden periode 2019-2024.

Saat istri tidak mengeluh memasak lontong opor dan rendang menjelang Lebaran karena harga kebutuhan pokok tidak naik, maka saya tidak saja membayangkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, tetapi juga wajah Jokowi yang "ndeso" namun sangat islami itu.

Belum lama berselang, saya ke Bandara Soekarno-Hatta hendak ke Jambi dengan memanfaatkan kereta bandara. Bak orang kampung yang baru singgah ke kota, saya terkagum-kagum dengan kereta yang saya tumpangi.

Kereta buatan bangsa sendiri itu sangat mewah, bersih, sejuk dan wangi. Stasiun transit di Sudirman City (Jakarta) dan Batuceper (Tangerang) dibuat sangat moderen. Indah dipandang mata.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, saya lebih kagum, sebab semua fasilitas sangat mewah dan nyaman berada di sana. Petugas dengan ramah bertanya kepada penumpang yang norak seperti saya: "Bapak mau ke terminal berapa?" Begitu saya jawab, petugas berkata: "Silakan Bapak tunggu sky train di sana."

Di kawasan Tangerang, kereta melintas di atas perkampungan penduduk. Saya menduga, sebelum proyek kereta bandara rampung, pasti banyak bangunan rumah warga dan tergusur. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan pasti tidak mudah dalam mengelola proses ganti rugi rumah-rumah warga yang tergusur.

Bahwa kemudian proyek kereta bandara ini rampung tentu berkat kepiawaian pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Sebelumnya proyek ini terkatung-katung tak jelas kapan rampung.

Wow, rupanya pemerintahan Jokowi bijaksana dan cerdas dalam mengelola masalah yang dihadapi. Di Stasiun Batuceper, saya melihat ada prasasti yang ditandatangani Jokowi dengan latar belakang nama-nama warga Tangerang yang rela rumah dan tanahnya tergusur oleh proyek kereta bandara.

Melihat itu semua, saya membayangkan sosok Jokowi yang sederhana namun cerdas, amanah dan bertakwa. Saya membayangkan ia terus berupaya menjadi seorang hamba Allah layaknya matahari yang memberikan sinar dan terang kepada rakyatnya tanpa pernah membeda-bedakan yang mencintai dan membencinya.

Hari ini (Senin, 11 Juni 2018), keponakan dan kakak saya bersama cucu-cucunya melakukan perjalanan dari Semarang ke Malang menggunakan mobil. Mereka melintasi tol yang dibangun secara gencar oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Keponakan lewat grup WA mengirim foto-foto suasana di perjalanan termasuk situasi terkini di tol yang dilewati. Saya bercanda dan menulis kata-kata seperti yang diramaikan para netizen belakangan ini: "Jika kamu nggak suka sama Jokowi, sebaiknya jangan lewat tol, tapi lewat got saja."

Pembangunan infrastruktur, antara lain tol, yang dilakukan pemerintahan Jokowi memang luar biasa. Ruas tol pun tumbuh begitu cepat.

Sebagai perbandingan, sekaligus supaya tidak salah data, izinkan saya mengutip apa yang ditulis editorial Media Indonesia hari ini (Senin 11/6).

Di Indonesia, sepanjang pemerintahan Presiden Soeharto, begitu editorial Media Indonesia, terbangun sekitar 490 kilometer tol. Di era Presiden Habibie yang sangat singkat, terbangun 7,2 kilometer tol. Di masa Presiden Gus Dur yang dilanjutkan Presiden Megawati Soekarnoputri, beroperasi sekitar 40 kilometer tol. Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terealisasi 212 kilometer tol.

Di era Presiden Joko Widodo, hingga akhir 2017, kita mendapat tambahan 568 kilometer tol. Itu artinya, panjang tol yang dibangun di masa pemerintahan Jokowi yang baru berumur sekitar tiga tahun jauh melampaui panjang tol yang dibangun sepanjang 32 tahun pemerintahan Presiden Soeharto ataupun dua periode pemerintahan SBY.

Ironisnya, di tahun politik ini, prestasi yang diraih pemerintahan Jokowi dalam bidang infrastruktur itu dipolitisasi dan dijadikan olok-olok. Politisasi dan olok-olok soal tol itu bahkan semakin santer terdengar ketika musim mudik Lebaran tiba.

Spanduk bertuliskan 'Tol Jokowi' terpampang di beberapa titik ruas tol baru yang dibangun pemerintahan Presiden Jokowi.

Tak mau kalah, kelompok yang selama ini tidak suka dengan prestasi Jokowi membalas kira-kira seperti ini: "Jalan ini bukan milik Jokowi, tapi milik rakyat dan dibangun dengan uang rakyat. Kami lewat jalan ini juga bayar!"

Dalam suasana mudik Lebaran ini sebaiknya kita setop olok-olok soal tol. Sebab, seperti yang ditegaskan Kantor Staf Kepresidenan (KSP), tol yang dibangun di mana-mana itu diperuntukkan bagi semua masyarakat tanpa melihat perbedaan pandangan politik.

Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP, Eko Sulistyo Eko mengatakan, pembangunan infrastruktur, termasuk fasilitas jalan oleh Presiden Jokowi bukan ditujukan untuk kelompok tertentu. "Semua lapisan masyarakat bisa menggunakan fasilitas yang disediakan negara tersebut."

Kalau memang begitu, ayo para pendukung #2019 Tetap Jokowi setop atau sudahi olok-olok kepada kaum #2019 Ganti Jokowi, seperti "yang tidak suka Jokowi jangan lewat tol, tapi silakan lewat got saja."

Mari kita ubah olok-olok itu dengan sapaan ramah seperti ketika kita berada di pesawat terbang yang akan tinggal landas dan pramugarinya yang cantik jelita itu berkata-kata seperti ini:

"Para pemudik yang kami hormati. Selamat datang di tol milik kita bersama. Saat ini pengguna tol sedang berada di kilometer nol dari arah Jakarta menuju Surabaya.

Perjalanan akan kita tempuh dalam waktu sembilan jam, lebih cepat lima jam dari waktu biasanya sebelum ruas tol ini selesai dibangun.

Demi keselamatan kita bersama, kami persilakan pengguna tol untuk tetap mengenakan sabuk pengaman selama dalam perjalanan dan tidak melanggar peraturan lalu lintas seperti menyalip kendaraan lain dari bahu jalan.

Bahu jalan hanya untuk digunakan saat dalam situasi darurat. Petugas kami siap untuk membantu para pengguna tol saat kendaraan bapak dan ibu mengalami gangguan.

Sepanjang jalur tol ini dilengkapi dengan rest area yang dapat dimanfaatkan untuk beristirahat, mengisi bahan bakar kendaraan, makan dan minum.

Kami tidak perkenankan pengemudi melanjutkan perjalanan di sepanjang ruas tol ini jika masih dalam keadaan mengantuk karena dapat membahayakan keselamatan kita dan pengguna jalan lainnya.

Akhirnya kami awak petugas tol mengucapkan selamat menikmati perjalanan dan semoga selamat sampai di tujuan dan selamat berjumpa kembali dalam perjalanan berikutnya."

Wow, betapa indahnya mudik Lebaran kali ini jika kita menyetop debat (maaf) "tolol" soal tol sambil terus berharap agar pemerintahan sekarang ini terus dan serius bekerja, bekerja dan bekerja demi rakyat.(*)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More