Amien Rais bukan Lawan Sebanding Jokowi

Penulis: Pol/Ant/X-8 Pada: Senin, 11 Jun 2018, 08:15 WIB Politik dan Hukum
Amien Rais bukan Lawan Sebanding Jokowi

MI/ARYA MANGGALA dan ANTARA FOTO/Joko Sulistyo

DENGAN alasan terinspirasi oleh kemenangan Mahathir Mohamad di pemilu Malaysia, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menyatakan siap berkompetisi di Pilpres 2019. Namun, langkah itu dinilai hanya membuktikan lemahnya soliditas koalisi penantang Jokowi.

Amien yang kini berusia 74 tahun merasa optimistis setelah Mahathir yang telah berumur 92 tahun kembali menjadi PM Malaysia mengalahkan petahana Najib Razak. "Mbah Amien Rais ini, walaupun tua, enggak apa-apa. Begitu Mahathir jadi, saya jadi remaja lagi sekarang. Karena Mahathir satu angkatan di atas bisa menang, kan? Never say no," ujarnya di kediaman Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Jakarta, Sabtu (9/6).

Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi pun menegaskan, kemarin, bahwa partainya serius mencalonkan Amien sebagai capres. "PAN serius mencalonkan Amien Rais running for President 2019, dan kami memiliki alasan kuat untuk pencalonan itu."

Namun, partai koalisi pemerintah tak menganggap Amien sebagai lawan sebanding Jokowi. Sekjen NasDem Johnny G Plate menilai langkah Amien malah menjadi bukti bahwa koalisi penantang Jokowi tak solid. "Koalisi belum terbentuk, membuat tambah rumitnya koalisi sebelah. Karena situasi bukan makin mengerucut dan makin tidak jelas," tandasnya.

Johnny juga menepis Mahathir effect alias 'kemenangan oposisi' akan terjadi di Indonesia. Pasalnya karakter pemilih Malaysia dan Indonesia berbeda.

Pendapat senada dilontarkan Wasekjen PPP Achmad Baidowi. Menurut Baidowi, kaliber Mahathir tidak layak disandingkan dengan Amien. "Mahathir pernah menjadi PM dan berprestasi. Amien di Pemilu 2004 hasilnya ya kalah. Kalau mau nyapres, siapa yang usung? Apakah koalisi parpolnya sudah memenuhi 20% kursi?" cetusnya.

Direktur Centre for Presidential Studies-Decode Universitas Gadjah Mada Nyarwi Ahmad juga berpendapat, meski kemenangan Mahathir bisa menjadi penyemangat bagi oposan, kondisi di Malaysia sulit dikomparasikan dengan Indonesia.

Menurut Nyarwi, situasi di Malaysia dan Indonesia, semirip apa pun kejadiannya, tidak bisa serta-merta dijadikan perbandingan dalam satu level analisis. Misalnya, karakter pemilih Malaysia dan Indonesia berbeda, seiring dengan lingkungan dan perkembangan isunya.

Politik Indonesia jauh lebih kompleks. Tak sekadar Indonesia bersistem pemerintahan presidensial, tapi juga kerumitan pemilu hingga konteks naik-turun popularitas tokoh yang berkontestasi.

"Kemenangan Mahathir sebagai semangat bolehlah, tapi kalau sebagai parameter untuk jalan kesuksesan, masih jauh. Kalau Amien membangun populisme Islam, itu potensial. Selama Jokowi tidak merepresi dan mendiskreditkan umat Islam (secara umum), saya kira strategi itu dampaknya masih lemah," tandas Nyarwi. (Pol/Ant/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More