Kolaborasi Wirausaha Kampus dan Kopma

Penulis: Iis Zatnika Pada: Minggu, 10 Jun 2018, 11:30 WIB Ekonomi
Kolaborasi Wirausaha Kampus dan Kopma

SEBANYAK 10 armada ojek daring yang dioperasikan mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi penanda gairah berkoperasi di kampus itu. Mocamp, layanan itu, beroperasi melalui Instagram dan WhatsApp, menjadi upaya Koperasi Mahasiswa (Kopma) Sultan Alauddin untuk terus bertumbuh.

"Yang jadi pengemudi memang mahasiswa, pelanggannya mulai staf kampus hingga sesama mahasiswa. Mocamp dinaungi Kopma sehingga bisa beroperasi di wilayah kampus," ujar Ketua Kopma, Waldi B Rukman, 21, yang juga mahasiswa Jurusan Peradilan, Fakultas Syariah dan Hukum.

Kolaborasi itu, sejauh ini, kata Waldi, memang tidak berupa setoran langsung dari para pengemudi ke Kopma, tetapi berupa keanggotaan. Setiap pengemudi diwajibkan menjadi anggota Kopma sehingga harus ikut menyetor Rp50 ribu sebagai simpanan pokok yang dibayar saat pertama kali bergabung dan Rp10 ribu sebagai simpanan wajib setiap bulannya.

Harapannnya, ketika pendapatan mereka terus bertambah, para pengemudi akan menabung di Kopma dan menghasilkan tambahan modal bagi koperasi yang menaungi warga kampus itu.

Waldi yang terpilih sebagai Putera Kopma 2017 di kompetisi yang diadakan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu menegaskan, kini Kopma tak mau lagi menjadi organisasi yang eksistensinya tak jelas.

"Dulu, kan, dianggapnya cuma bisa menarik simpanan, tapi tak jelas kegiatannya seperti apa. Di kampus ini Kopma terus berusaha tumbuh dan sekaligus memberdayakan anggotanya," ujar Waldi.

Digitalisasi

Agenda lainnya, kata Waldi, Kopma Sultan Alauddin juga tengah merintis pembuatan aplikasi agar operasi sehari-hari berbasis digital. "Jadi, di setiap unit usaha punya software yang akan memudahkan transaksi sekaligus membuat pelaporan keuangan lebih transparan," ujar Waldi.

Sementara itu, untuk terus menggenjot jumlah naggota, Waldi dan timnya juga rutin dua kali sepekan menggelar pelatihan wirausaha di ampitater kampus 2. "Supaya terasa ada manfaat menjadi anggota, sekaligus menjaring anggota baru. Acaranya bisa berupa bincang-bincang dan pelatihan," ujar Waldi.

Hasil pelatihan itu, yang kemudian berwujud perusahaan rintisan mahasiswa, kata Waldi, juga diberi ruang untuk eksis dalam berbagai unit usaha Kopma. Pihakanya mengoperasikan Kopart yang menjual produk kerajinan tangan dan karya kreatif para anggoatnya.

Ruang buat mentitipkan produk, juga diberikan di Kafekop yang kini bahkan telah memiliki enam karyawan, yang sekaligus anggota koperasi, dengan gaji Rp600 ribu per bulan.

Omzet yang diperoleh dari Kopart, foodcourt, katering, percetakan hingga Kafekop, kata Waldi, setiap bulannya mencapai Rp10 juta perbulan dengan untung sedikitnya 20% sehingga setiap tahunnya bisa dibagikan sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta setiap tahunnya untuk sisa hasil usaha (SHU) bagi anggotanya. "Karena perolehan SHU itu bergantung pada keaktifan, termasuk bagaimana interaksi mereka berpartisipasi sebagai pelaku usaha di Kopma, maka nilainya bisa mencapai Rp400 ribu untuk yang tergolong aktif," ujar Waldi yang juga bersama pengurus Kopma lainnya tergabung dalam Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) sehingga mendapat akses untuk berbagai pelatihan. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More