Ajeng Kamaratih : Dunia Ajeng Berita dan Seni

Penulis: Despian Nurhidayat Pada: Minggu, 10 Jun 2018, 11:00 WIB Selebritas
Ajeng Kamaratih : Dunia Ajeng Berita dan Seni

MI/PERMANA

AJENG Kamaratih Lahir di Jakarta, 16 Agustus 1986, dan menjalani profesinya pada 2007. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Sastra Prancis Universitas Sorbonne Prancis, dan Study Gender Universitas Indonesia ini juga punya jejak lain di dunia model. Ajeng menjadi pemenang favorit pilihan pembaca dalam Wajah Femina 2006 dan menjadi 5 besar Miss Indonesia 2008, mewakili Bangka Belitung.

Namun, di balik hiruk pikuk dunia berita dan hiburan itu, Ajeng yang pernah mengikuti kelas modeling di Jerman ini mengaku sangat menikmati bermain piano dan menari balet. Sejak ia umur 4 tahun dunia seni menjadi bagian dari kesehariannya. 

Jiwa seninya ia pupuk dengan seminggu sekali les piano, menyanyi, dan masih menggeluti balet. Bahkan, ia tengah mematangkan rencana membuka tempat latihan balet, Barre, pada 18 Juni di Kebayoran Baru.

"Aku memutuskan membuka kelas Barre. Dasar dari balet kan masih bisa diikuti sama orang-orang awam, yang enggak tahu dasar-dasar balet sekalipun. Kita mendirikan ini salah satunya biar bisa ngumpul, sehat sama-sama dan bersenang-senang juga." 

Suka bahasa 

Dunia lain tentang perempuan yang fasih berbahasa Prancis ini ialah minatnya terhadap pembelajaran bahasa. Hingga kini ia masih mengikuti les perbincangan bahasa Prancis secara teratur. 

"Ketika SMA di Tarakanita, belajar bahasa Jerman selama setahun, sampai saya terbang ke Jerman untuk belajar bahasa Jerman selama setahun. Namun, ketika ingin melanjutkan mempelajari bahasa Jerman, terasa akan terlalu mahal, maka saya ambil bahasa lain yang cukup terjangkau. Kebetulan untuk bahasa Prancis ada sokongan dana dari kedutaan sehingga tidak terlalu mahal."

Ajeng merunut, bahkan ketika mendaftar ke Universitas Indonesia pun sebenarnya ia sangat terpikat pada sastra Tiongkok. "Namun saya lolos di Fakultas Hukum."

Sempat tinggal di Prancis untuk kuliah, Ajeng terkesan dengan pengalamannya berupaya bertahan mandiri mencari uang. "Saya sempat modeling disana. Terus habis itu berpikir, gimana mempertahankan hidup, sempat mencoba pekerjaan di TV-TV lokal. Seru, mencoba berbagai macam hal, bahkan ditawari main sandiwara teater. Karena saya orangnya nyeni banget, jadinya menyenangkan, bisa nyanyi, main teater. Apa pun ekspresi seni, menyenangkan bagi saya," ujar pembawa acara Top News pada pukul 21.00-22.00 itu. 

Menulis jurnal 

Pencapaian lain Ajeng, keaktifannya menulis jurnal ilmiah yang berkaitan dengan gender dan hukum sesuai dengan latar belakang pendidikan. September 2017, ia mempresentasikan jurnal ilmiah, Indonesian Women as Sexual Violence Victim: An Indonesian Law Perspective, di Kyoto University Jepang. Sementara itu, risetnya mengenai RKUHP dan pasal-pasal kejahatan seksual dimuat dalam edisi 20 tahun reformasi Jurnal Perempuan. 

Riset yang dilakukannya tidak main-main, mencapai satu tahun. Semua kerja kerasnya itu kemudian beroleh penghargaan dari Kedutaan Besar Prancis sebagai salah satu alumnus berprestasi 2017.

Waktu buat keluarga 

Namun, kini keluarga ialah yang pertama dan ia memprioritaskan waktu buat menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Namun, ia juga tak abai untuk mengalokasikan waktu bagi diri sendiri. 

Agendanya ke depan, pembaca berita yang sangat menyukai berita-berita sosial dan human ini, menjajaki kemungkinan untuk mengajar saat pensiun nanti. "Saya suka anak kecil, dan suka juga mengajarkan public speaking kepada perempuan." (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More