Musik Kasidah masih Diminati

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Minggu, 10 Jun 2018, 01:00 WIB Hiburan
Musik Kasidah masih Diminati

MI/FERDIAN

MENGENAKAN gamis bermotif bunga berwarna cokelat muda kombinasi hitam, ungu, dan merah muda, ke-12 perempuan itu tampak elegan. Kian menarik dengan hiasan aksesori di hijab mereka.

Tiga orang tampil lebih ke depan. Mereka menjadi vokal utama bergantian menyanyikan lagu berjudul Muda Mudi. Dua orang menjadi backing vokal. Anggota lainnya lihai mengiringi lagu itu dengan alat musik masing-masing, memainkan biola, rebana, gitar, gendang, seruling, dan keyboard.

Penampilan mereka disambut antusias penonton. Lagu-lagu kasidah yang mereka tampilkan, di antaranya Wanita dan Kecantikan dan Kota Santri, berhasil menyemarakkan ajang pencarian bakat dalam menyampaikan dakwah dari 5 Negara Asia di salah satu televisi swasta, Grogol, Jakarta Barat.

Mereka ialah Ezzura, generasi muda dari grup kasidah Nasidah Ria. Belakangan grup kasidah Nasidah Ria asal Semarang, Jawa Tengah, ini menarik perhatian setelah video Kampret dan penampilan mereka di sebuah iklan menjadi viral.

Generasi muda pun mulai melirik. Regenerasi pun dilakukan Nasidah Ria, diakui sang manajer Choliq Zain sebagai upaya menjaga grup itu tetap eksis. Salah satunya dengan membentuk kelompok anak muda bernama Ezzura dan grup anak-anak usia sekolah dasar serta sekolah menengah pertama.

“Jadi saat ini telah dilakukan regenerasi dengan satu wadah sendiri, yaitu Ezzura sebagai persiapan regenerasi Nasidah Ria untuk generasi ketiga. Semoga untuk generasi ke-4 juga telah disiapkan anak-anak SD dan SMP untuk persiapan masuk ke Ezzura,” jelas Gus Choliq, Jumat (1/6) di Kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat.


Menjamur

Beberapa tahun terakhir Gus Choliq melihat kasidah mulai menjamur. Generasi muda pun mulai bermunculan. “Akhir-akhir memang banyak orang mulai menyukai kembali kasidah sehingga bermunculan kasidah baru, muda-muda dan berkembang pesat. Begitu juga di Jawa Tengah cukup banyak generasi baru kasidah,” terangnya.

Gus Choliq mengakui brand name Nasidah Ria masih kuat. Akan tetapi, pihaknya tidak ingin terlena dengan kondisi itu sehingga upaya inovasi dan regenerasi menjadi prioritas utama. Lagu-lagu mereka berlirik lugas dan menggunakan frasa yang jarang ada di genre lagu lain. Namun, justru liriknya mudah dipahami karena memang bermuatan dakwah.

“Dalam lirik lagu, bukan soal trennya, tetapi melihat masa depan dalam membuat lagu atau lagu yang bersifat abadi. Itu yang menjadi ciri khas yang menjadi daya tarik pengemar,” sebutnya.
Grup musik lainnya yang menyebarkan syiar agama ialah Aleehya. Grup yang dimotori Zenal Arifin (Ari), Wahyu Danuriyatno Susilo (Danu), dan Dian Sukmawan (Dian), ini memadukan selawat dengan musik hip-hop, electronic dance music (EDM). Tak hanya itu, Dian menambah keseruan dengan sentuhan rap.

Kegiatan bermusik sekaligus berselawat ini menjadi ikhtiar grup yang terbentuk pada akhir 2016. “Kami melihat, musik ini kan hanya media untuk kami menyampaikan pesan (syiar). Musik islami sekarang berkembang, baik yang bersentuhan dengan pop, jazz, bahkan swing. Lihat sisi baiknya, dengan begini kan jadi banyak yang tertarik dan mendengarkan pesannya,” kata Ari yang juga berprofesi sebagai penata musik dan pemain band genre electronic saat ditemui di Bintaro Xchange, Sabtu(2/6).

Penolakan dan tantangan dihadapi mereka. Dian diingatkan untuk tidak  berlebihan karena tidak ada yang berani melanggamkan selawat seperti Aleehya. Namun, bagi pria yang juga berprofesi sebagai scriptwriter ini, asalkan tidak dalam proses ibadah seperti salat, selawat sah saja dinyanyikan. “Bukan membuat lebih baik dari orang lain, tetapi membuat yang berbeda yang penting berani, istiqamah, juga menciptakan yang baru,” imbuh Dian.


Sensasi di media sosial

Pengamat Musik, Adib Hidayat, menilai tren kelompok musik kasidah dan marawis kembali naik daun di Ramadan tahun ini, akibat sensasi atau viral di masyarakat. “Jadi sensasi di Youtube itu selalu tidak tertebak. Karena memang tiba-tiba muncul, seperti Nasida Ria akhirnya muncul lagi setelah viral lagu Kampret dan diundang acara komunitas juga,” sebut Adib.

Ia menambahkan, genre musik kasidah menjadi sesuatu yang klasik sehingga tidak akan hilang meskipun zaman berganti. Bahkan Koes Plus sampai Bimbo juga memiliki album kasidah.

“Nah rata-rata peristiwanya diambil dari Alquran dan hadis atau hal-hal yang terjadi di masyarakat, keadilan, sosial. Sebenarnya tidak jauh lirik lagu kebanyakan cuma unsur ketuhanannya lebih kental. Meski tema keadilan kadang kita mencerna sebagai bentuk dakwah,” sebutnya.

Ia tidak menampik, generasi milenial dapat menerima genre lagu kasidah atau marawis. Katanya, bergantung proses kemasan lagu hingga  dinikmati generasi sekarang. “Jika ada musisi atau produsen jeli merilis karya-karya, misalnya Andien merilis lagu kasidah atau Danila merilis lagu kasidah itu menjadi sesuatu yang menarik,” paparnya.

Meskipun demikian, akan lebih menarik lagi jika mereka berasal latar belakang agama yang berbeda. Seperti Dewa Budjana merilis album dengan Gigi. Dia ikut dalam proyek lagu yang bukan di agamanya.


Sepi

Di sisi lain, pengamat Musik Buddy Ace mengatakan perkembangan lagu religi sebenarnya sama dengan perkembangan genre musik lainnya. Pasalnya, terpengaruh cara masyarakat menikmati musik. “Dulu kita menikmati musik dengan kaset dan CD. Kemudian sekarang dinikmati dengan media digital. Nah sekarang orang hanya nonton Youtube atau dengar media agregator lainnya,” katanya.

Begitu juga dalam perspektif bisnis. Kata Buddy, musik kasidah tidak mengalami perkembangan signifikan. “Apakah sekarang musik religi bertambah maju, tidak. Tren penjualan juga turun. Sama seperti album pop lainnya. Apa masyarakat masih menikmatinya, iya tetapi mulai radio atau media sosial lainnya. Jadi orang tidak perlu membeli,” ujarnya.

Apalagi kecenderungan masyarakat saat ini menikmati hiburan di media sosial. Namun, Buddy melihat masyarakat jarang menikmati musik di gawai pasalnya hampir tidak ada orang membagikan video atau lagu religi di media sosial. Meski ada, jumlahnya hanya sedikit. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More