Masjid Babah Alun Oasis di Bawah Deru Kota

Penulis: Despian Nurhidayat Pada: Minggu, 10 Jun 2018, 00:40 WIB Weekend
Masjid Babah Alun Oasis di Bawah Deru Kota

MI/Ebet

ADA pemandangan tak biasa di bawah kolong Tol Wiyoto Wiyono, Warakas, Jakarta Utara. Orang-orang ramai berkumpul di sana sambil mengobrol menjelang magrib. Mulai anak-anak hingga lansia.

Sesaat setelah azan berkumandang, mereka pun berkumpul di teras sebuah bangunan beratap panjang dengan warna hijau mencolok. Sebuah pintu bulat besar menjadi jalan masuk ke dalam bangunan itu. Di atasnya tertulis ‘Masjid Babah Alun’. Jika tidak membaca papan penunjuk yang dipasang di pintu itu, mungkin orang tidak akan menyadari kalau bangunan itu merupakan sebuah masjid. Pintu yang bulat memang sering diidentikkan dengan ciri khas bangunan kuil atau kelenteng, seperti yang terlihat di film-film kungfu.

Dinding Masjid Babah Alun memiliki banyak lubang di sekelilingnya, yang akan memperlihatkan bagian dalam masjid yang tidak berkubah itu. Jika masjid pada umumnya hanya berbentuk segi lima atau empat, masjid ini memilih untuk menggunakan segi delapan pada bentuk bangunannya. Muntaha, Penanggung Jawab dan Pengurus Masjid Babah Alun, mengatakan ada filosofi tersendiri dibalik pemilihan bentuk bangunan bersegi delapan itu.
“Masjid ini merupakan perpa­duan dari sejarah Tiongkok dan Islam,” ujar Muntaha kepada Media Indonesia.

Segi delapan dalam pemahaman orang Tiongkok berarti keselamatan. Bentuk angka delapan itu tidak putus. Islam sendiri artinya selamat. Jadi, keduanya punya pemaknaan yang sama.
Ornamen hiasan Masjid Babah Alun juga dominan bergaya oriental, seperti garis merah sebagai warna dasar pada kaligrafi lafaz Allah yang mengelilingi langit-langit bangunan itu.

“Untuk ornamen hijau dan me­rah, kita mengambil warna hijau untuk menggambarkan kita kembali ke alam, dan untuk warna merah merupakan kebanggaan dan bisa membuat bahagia. Jadi, tujuannya untuk membuat orang yang datang ke masjid itu jadi betah,” terang Muntaha.

Di bagian teras juga terdapat tulisan ‘Batas Suci’ disertai tulisan berbahasa Tionghoa di bawahnya. Demikian juga dengan gambar-gambar gerakan wudu itu yang diperagakan seorang laki-laki shaolin berpakaian lengkap, dengan rambut panjang berkepang.

Dari sisi sejarah Islam, lanjut Muntaha, Masjid Babah Alun mengambil filosofi perjuangan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Pertama, perjuangan Umar bin Khattab saat berdakwah di Palestina. Kedua, perjuangan Salahuddin Al Ayubi menaklukkan Spanyol.


Pengalaman hidup

Masjid Babah Alun yang mampu menampung 400 jemaah itu dibangun sejak pertengahan Agustus 2017 dan baru difungsikan pada Ramadan tahun ini. ‘Babah’ itu artinya bapak dan nama ‘Alun’ diambil dari nama kecil pendirinya, yakni Mohammad Jusuf Hamka, seorang mualaf keturunan Tionghoa  asal Samarinda, Kalimantan Timur.

Jusuf Hamka masuk Islam pada 1981 atas bimbingan Prof Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan Buya HAMKA, yang menjadi bapak angkat sekaligus guru spiritualnya. “Ide untuk membangun masjid ini memang didasari oleh pengalaman hidup dari bapak Jusuf Hamka,” ungkap Muntaha.

Sejak dibuka untuk umum pada awal Ramadan lalu, Masjid Babah Alun rutin menyelenggarakan buka puasa bersama setiap Senin hingga Jumat. Seperti oasis, sejak dibuka masjid ini tidak pernah sepi pengunjung, mulai warga sekitar hingga warga lainnya. Acara buka bersama pun selalu ramai.

 “Setelah adanya masjid ini, ya, kita juga senang karena biasanya, kan, tempat begini dipenuhi sampah dan enggak terpakai. Tapi setelah adanya masjid ini masyarakat juga sering datang ke sini sebelum magrib malah, apalagi anak-anak sering sekali datang untuk main,” sahut Sri, warga sekitar Masjid Babah Alun, yang saat itu ikut berbuka puasa bersama.

Pemilihan lokasi masjid yang berada di bawah jalan tol juga bukan tanpa alasan. Selain tidak akan terasa terik matahari ketika sedang panas, tempat seperti ini juga ternyata bisa menjadi oasis yang menyesapkan kesejukan lahir dan batin bagi warga di sekitarnya. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More