Salam Metal Koruptor

Penulis: Gaudensius Suhardi, Wartawan Senior Media Indonesia Pada: Sabtu, 09 Jun 2018, 22:00 WIB Opini
Salam Metal Koruptor

MI/Permana

SEUSAI diperiksa selama 14 jam di gedung Komisi Pemebrantasan Korupsi (KPK), Tasdi, Bupati Purbalingga, Jawa Tengah, mengangkat tangan kanannya pada Selasa (5/6). Mengenakan rompi warna oranye, ia lalu menekuk jari manis dan jari tengah membentuk lambang metal atau salam tiga jari.

Salam tiga jari tersangka korupsi itu menambah panjang daftar bahasa tubuh koruptor di negeri ini. Mereka tak jarang terlihat menebar senyum, melambaikan tangan, mengacungkan dua jempol jari saat disorot kamera televisi atau dijepret fotografer. Kok mereka tidak malu ya?

Langkah KPK dengan mewajibkan tersangka tindak pidana korupsi mengenakan baju tahanan khusus, nyatanya tak membuat malu atau jera.
Padahal semestinya, hal ini membuat seseorang merasa terhina dan takut. Dengan kata lain, pemberantasan korupsi di negeri ini tidak pernah menciptakan budaya malu. Karena tidak ada rasa malu, korupsi terus-menerus diproduksi dan celakanya, ada regenerasi koruptor.

Ada tiga tujuan penanganan korupsi yang ditulis dalam Laporan Tahunan KPK 2013.

Pertama adalah penegakan supremasi hukum. Di negara ini, hukumlah panglimanya. Penegakan hukum yang setegak-tegaknya dan berkeadilan adalah harga yang tidak dapat ditawar.

Kedua, memberikan efek jera dan terapi kejut. Sebagai kejahatan luar biasa, korupsi ibarat penyakit menular yang dapat menjakiti banyak orang saat celah dan kesempatan terbuka. Pemberian efek jera dan terapi kejut dimaksudkan agar orang berpikir seribu kali jika ingin melakukan korupsi. Termasuk kejeraan kepada para pelaku agar tidak mengulangi perbuatan serupa.

Tujuan ketiga, untuk mengembalikan kekayaan negara yang telah dicuri, yaitu mengembalikan uang dan aset-aset lain yang telah dicuri tersebut ke kas negara untuk digunakan demi kesejahteraan masyarakat.

Rompi oranye untuk tersangka korupsi pada mulanya bertujuan memberikan efek malu.  Rompi itu berlaku resmi sejak 27 Mei 2013 menggantikan baju tahanan bewarna putih sebelumnya.

Ada empat macam baju tahanan KPK. Pertama baju tahanan untuk sidang, baju tahanan untuk harian, baju tangkapan, dan baju olahraga untuk tahanan. Baju tahanan untuk sidang berbentuk rompi, baju tahanan harian berlengan pendek, dan baju tangkapan berbentuk rompi. Sedangkan untuk baju olahraga berwarna biru dan kuning dengan lengan pendek.

Terdakwa kasus dugaan korupsi terkait penanggulangan wabah flu burung tahun 2006 dan 2007, Ratna Dewi Umar, menjadi tahanan perdana yang mengenakan baju tahanan oranye itu saat akan menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta pada 27 Mei 2013. Sementara mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq menjadi tersangka pertama yang mengenakan rampi oranye saat diperiksa di gedung KPK pada 28 Mei 2013.

Sudah lima tahun rompi oranye berlaku, kok tidak pernah memberikan efek malu? Iseng-iseng saya mencari tahu soal warna oranye di google. Ternyata, oranye merupakan kombinasi antara warna merah dan kuning. Dua warna itu tentu saja tidak ada kaitan langsung dengan warna partai asal para koruptor.

Lebih mengejutkan lagi ketika saya menemukan makna warna oranye yang sering dikaitkan dengan kegembiraan, kebahagiaan, kehangatan, panas, sinar matahari, antusias, kreativitas, sukses, penyemangat, kesehatan, stimulasi, lucu, menyenangkan, keseimbangan, ekspresi dan kekaguman.

Dalam hati saya membatin, jangan-jangan KPK salah memilih warna baju tahanan korupsi rompi oranye. Pantas saja koruptor yang mengenakan rompi oranye selalu memancarkan raut wajah gembira sambil mengumbar senyum dan mengangkat jari menyimbolkan salam metal. Jangan-jangan para koruptor itu tidak pernah malu, apalagi merasa terhina, karena pengaruh aura warna oranye.

Saatnya KPK mencari cara lain untuk mempermalukan koruptor. Salah satu cara ialah memborgol tangan koruptor sama seperti maling ayam saat ditangkap polisi. Koruptor dan maling ayam sama-sama melakukan tindak pidana. Ironisnya, koruptor yang merampok uang negara hingga triliunan rupiah justru diperlakukan secara terhormat sedangkan maling ayam diperlakukan secara tidak terhormat, ditangkap langsung diborgol.

Borgol sesungguhnya simbol perlakuan sama di depan hukum, koruptor dan maling ayam sama-sama penjahat, ya sama-sama diborgol. Kalau koruptor diborgol dia tidak bisa lagi mengangkat tangan salam metal.

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More