Kenyamanan bukan Soal

Penulis: Zuq/M-2 Pada: Minggu, 10 Jun 2018, 00:00 WIB Gaya Urban
Kenyamanan bukan Soal

MI/Ramdani

BAGI sebagian orang, mungkin motor hasil modifi kasi tidak terlalu nyaman. Chopper, misalnya, tidak memiliki peredam kejut (shock breaker) pada bagian belakang.

Posisi duduk yang membuat badan condong ke belakang serta posisi setang yang tinggi bisa menjadi nilai kurang bagi mereka yang mengutamakan kenyamanan berkendara. Selain itu, rem hanya tersedia di bagian belakang. Namun, bagi pecinta chopper, hal itu bukan masalah besar. Sebab chopper memang diperuntukkan perjalanan santai sembari menikmati sensasi.

“Sebenarnya sih enggak masalah karena ini motor buat pelan, buat santai, bukan buat ngebut-ngebut. Cuma nyaman sih, buat saya nyaman. Yang penting enggak kenceng-kencengan, yang penting safety,” imbuh Alfaritz Kevinaldy, salah satu builder chopper di Komunitas Sakral.

Meski tidak terlalu mementingkan kenyamanan, para builder tetap punya gaya chopper favorit masing-masing. Muhammad Yamin, misalnya, menganggap chopper mengharuskan perombakan menyeluruh. Namun, Kevinaldy berpendapat chopper yang menarik ialah yang berdesain sederhana.

“Chopper kan simpel banget dilihatnya, enggak penuh-penuh banget, enggak ribetribet banget. Makanya saya suka chopper,” terang Kevinaldy. Yamin kemudian membagi pencinta motor menjadi dua kategori, yakni klasik dan modifi kasi. Pencinta klasik biasanya cenderung mempertahankan keorisinalan, sedangkan pencinta modifi kasi mengutamakan bentuk yang sangat berbeda dari yang asli. Itulah alasan terdapat salah satu karya Yamin yang menurutnya jelek, tapi masih pula ada mau melirik.

“Ada sih, ini juga pernah, itu juga pernah,” ujar Yamin sembari menunjuk beberapa hasil modifikasinya. Begitulah motor modifi kasi. Boleh jadi tidak penting bagi banyak orang, sementara bagi pecintanya merupakan sebuah karya seni tinggi.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More