Menyelami Pesona Motor Chopper

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Sabtu, 09 Jun 2018, 23:40 WIB Gaya Urban
Menyelami Pesona Motor Chopper

MI/RAMDANI

MESKI sudah lama ada, jenis motor ini mendadak jadi perbincangan sejak dikendarai Presiden Joko Widodo pada April lalu. Itulah motor modifi kasi dengan gaya chopper. Sebutan chopper berasal dari kata chopped up (dicincang), yang menggambarkan banyaknya pemotongan bagian-bagian asli dari pabrik untuk menghasilkan rangka yang unik.

Meskipun ragam bentuk motor chopper banyak sekali, secara umum ciri motor ini ialah fork depan dibuat miring; posisi duduk pengendara dibuat sangat rendah; dan sebaliknya setang motor menjadi tinggi.

Motor-motor dengan tampilan seperti itu pula yang terlihat di bengkel Komunitas Sakral (Scooter Anak Rawa Belong) di Rawa Belong, Jakarta, Jumat (8/6). Selain bentuk rangka yang ekstrim, beberapa motor chopper itu juga didominasi warna cokelat usang. Menariknya, warna itu memang bukan hasil semprotan cat, melainkan muncul alami. Kesan usang yang muncul dari karat di sekujur badan motor. Hanya beberapa bagian motor saja yang masih mengkilat.

“Karena waktu itu konsepnya karat. Karena waktu itu di event banyak motormotor bagus. Kita gimana caranya untuk beda. Jadi konsepnya dulu kaki-kakinya, pelek, sama mesin saja yang mengkilat, sama lampunya. Semuanya dikaratkan,” terang seorang builder Komunitas Sakral, Muhammad Yamin, kepada Media Indonesia, Kamis (7/6).

Builder ialah sebutan bagi para orang yang hobi memodifi kasi motor. Tangan mereka ampuh untuk menyulap bentuk motor yang tadinya biasa-biasa saja menjadi tidak lazim, bahkan hampir tidak dikenali lagi bentuk aslinya. Yamin ialah satu di antara banyak builder di Indonesia. Chopper hasil karya pria berusia 40 tahun ini dibuat dari motor Kawasaki Binter Merzy. Ia sengaja membuat karya yang berbeda dari chopper lainnya.

Lazimnya chopper sangat mengutamakan penampilan motor, sementara chopper milik Yamin malah menampilkan sebaliknya, penuh karat. “Kayaknya klasik banget. Pokoknya gak sama saja. Biasanya orang-orang gitu pakai chopper, dia menunjukkan kemampuan dia, life style. Kalau kita inginnya jadi kayak biasa-biasa aja. Chopper tapi gak terlalu mencolok banget,” tegasnya.

Yamin mengubah total penampilan motor, terutama di bagian depan motor. “Custom itu mengubah sesuatu yang orisinal menjadi sesuatu yang beda daripada aslinya. Nanti style-nya bisa macammacam, bisa chopper, bobber, japstyle, tracker, cave racer,” tambahnya. Builder Sakral lain ialah Alfaritz Kevinaldy. Meski masih berusia 19 tahun, ia sudah mampu memodifikasi motor Yamaha Scorpio dengan gaya chopper.

“Kalau bentuk ini, saya desain sendiri. Pokoknya saya custom se-pas mungkin. Sesuai selera,” terang Kevinaldy. Kevinaldy mengaku memodifikasi motornya telah menghabiskan dana lebih dari Rp10 juta. Itu pun ia merasa belum cukup, masih banyak detail yang harus ia benahi. “Kira-kira bisa di atas 10 (juta). Kebetulan ini belum rapi semua,” ujarnya.


Yang asli hanya mesin

Yamin mengaku bahwa ketertarikannya terhadap dunia modifi kasi motor berawal dari sering melihat motor hasil modifi kasi. Ia merasa bahwa motor hasil modifikasi sangat keren, sebab berbeda dari bentuk asalnya. “Jadi awalnya kita lihat teman-teman, abang-abang yang dulu-dulu, kayaknya keren banget. Motor yang berbeda dari motor yang dikeluarkan pabrikan. Intinya kita cari perhatian juga, hobi juga, ada komunitasnya, lah, kalau motor custom itu,” sambungnya.

Aktif di komunitas motor membuat Yamin semakin terpacu untuk mempunyai motor modifikasi. Hasilnya, lima motor telah mendapati bentuk yang berbeda. Dari gaya trail, balap sampai gaya chopper. Yamin mulai menerjuni dunia modifikasi motor sejak 2005 bebarengan dengan berdirinya Sakral (Scooter Anak Rawa Belong). Awalnya ia memodifikasi vespa. Berikutnya ia mulai menjajal motor pabrikan Jepang.

“Kalau custom di vespa kita sudah main dari 2005, kalau custom khusus untuk motor Jepangan (pabrikan Jepang) kita 2008 udah ubah-ubah motor, contohnya CB (Honda CB 100),” ujar pria yang juga menjadi pendiri Komunitas Sakral. Menurut Yamin, motor Jepang mempunyai banyak gaya modifikasi seperti chopper, bobber, japstyle (gaya Jepang), bratstyle (gaya Inggris), ataupun gaya trill.

“Banyak, lah, kalau motor Jepang itu. Lebih bebas kalau di motor Jepang itu,” ujarnya sembari membandingkan dengan motor vespa. Semua motor bisa dimodifi kasi chopper. Hanya harus memperhatikan kerangka sasis. Di situlah proses yang paling susah, modifikasi sasis. Sebab dari situlah badan motor memperoleh bentuk. Pengerjaannya juga tidak boleh main-main, harus detail, dan rapi.

“Kalau kesulitan paling mendasar biasanya kita main dibubut-bubutan, biasanya butuh biaya sangat mahal, atau dengan merol sasis, besi-besi sasis. Itu dilihat secara mendetail, bubutannya rapi atau tidak? Nah, di situ letak kesulitannya.

Detail itu yang bikin mahal,” terangnya. Membangun motor chopper perlu dana yang lumayan besar. Apalagi jika ingin yang full chopper dengan detail pernakperniknya. Sebab bagian yang dipertahankan dari motor awal hanyalah mesin. Selainnya dirombak total dan diganti dengan material motor modifikasi. “Kalau chopper biayanya agak lumayan, ya, kalau full chopper. Full chopper itu bisa sampai Rp25 (juta) dan tergantung (pernak-pernik),” terang Yamin. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More