Darurat Sampah Plastik

Penulis: Zuq Pada: Sabtu, 09 Jun 2018, 11:00 WIB Humaniora
Darurat Sampah Plastik

KABAR mengenai kematian seekor paus dengan 80 kg plastik di perutnya, di Thailand, pada awal Juni ini hanyalah secuil gambaran teranyar soal kian gawatnya pencemaran di laut. Di berbagai perairan lain dunia, termasuk di perairan terpencil di Indonesia, volume sampah plastik di lautan juga semakin mengkhawatirkan.

Pada Maret lalu, misalnya, video yang dibuat penyelam asal Inggris memperlihatkan begitu banyak sampah plastik di perairan Nusa Penida, Bali. Sementara itu, pada Desember 2016 di perairan Sumbawa, fotografer Amerika Serikat mengabadikan seekor kuda laut yang membawa cotton bud di ekornya. Foto itu pun menjadi viral dunia.

Namun, bahaya sampah plastik di laut sesungguhnya bukan hanya bagi biota air. Bukan hanya nyawa hewan laut yang dipertaruhkan, melainkan juga manusia.

Ini terjadi karena kematian hewan laut akibat sampah plastik berarti memengaruhi keseimbangan rantai makanan. Kematian spesies seperti paus, berarti juga menunjukkan adanya ancaman serupa terhadap spesies lain. Sebab sebagai spesies payung (spesies dengan jelajah sangat luas), habitat paus juga menjadi habitat banyak hewan lainnya.

Penumpukan sampah plastik di wilayah terumbu karang juga bisa berdampak pada menurunnya stok ikan. Sebab, terumbu karang merupakan tempat berkumpulnya plankton yang menjadi makanan ikan.

Urgensi penyelamatan terumbu karang dari pencemaran plastik itu kembali terlihat pula dalam peringatan Coral Triangle Day 2018, yang jatuh hari ini (9 Juni). Seperti terlihat dalam situs Coral Triangle Initiative, tema tahun ini ialah Plastic Resistance. Tema ini hampir serupa dengan tema tahun lalu, Say no to Plastic.

The Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) bekerja sama dengan WWF Indonesia mengadakan kontes Instagram untuk mendorong pengurangan plastik sekali pakai yang menjadi sumber terbesar polusi laut di kawasan segitiga karang.

"Kontes ini fokus pada aksi dan komitmen. Karena itu, kami mengundang semua pihak untuk bergabung dan menyuarakan #PlasticResistance pada Coral Triangle Day," terang Dwi Aryo Tjiptohandono, Koordinator Kampanye Kelautan WWF-Indonesia, Rabu (6/6).

Menurut Executive Secretary National Committee Secretariat of CTI-CFF Indonesia, yang juga menjabat sebagai Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti Poerwadi, lebih dari 89% terumbu karang di Asia Tenggara diperkirakan berada dalam kondisi sangat rentan. Salah satu penyebabnya ialah sampah plastik.

"Karena koral ini mati kalau ada sampah. Koral hidupnya tergantung dari kita, masyarakat yang hidup di atas tanah ini menjaga ekosistem laut, gak buang sampah, mengatur sampah biar tidak masuk ke laut," jelas Brahmantya.

Selain itu, Coral Triangle Day 2018 diharapkan bisa menjadi momentum untuk mengundang perhatian dunia guna penyelamatan kawasan segitiga karang.

"Kenapa penting? Dan tahun ini lebih penting, karena tahun ini Indonesia ketempatan Our Ocean Conference 2018 di mana semua pimpinan negara akan berbicara tentang laut. Ini akan digerakkan komitmen yang salah satunya adalah bagaimana penyelamatan koral ini. Komitmen itu bisa dari negara-negara Amerika, Eropa untuk saling membantu. Mengingat laut kita yang lebih besar dan lebih luas," tegasnya.

Sementara itu, di acara gerakan #BijakBerplastik dari Danone-Aqua di Hotel Rafles, Jakarta, Selasa (5/6), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui jika produksi sampah plastik terus bertambah. Data KLHK, dalam kurun waktu 2002-2016, terjadi peningkatan komposisi sampah plastik dari 11% menjadi 16%. Presentase komposisi sampah di kota besar bahkan mencapai sekitar 17%.

"Ini semakin lama semakin meningkat karena perubahan perilaku konsumsi kita," terang Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun, KLHK, Novrizal Tahar.

Tingginya produksi sampah plastik di daratan inilah yang menjadi utama makin banyaknya sampah di lautan. Sampah plastik dari daratan masuk ke laut melalui sungai.

Malaysia setop penggunaan plastik

Atas kondisi itu, KLHK menawarkan solusi dengan cara daur ulang. Meski begitu, cara ini banyak dikirtik karena bukanlah solusi efektif menghadapi volume sampah plastik yang sudah begitu besar.

"Sampah plastik tidak semua terserap dalam skema daur ulang," tukas Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Ir Enri Damanhuri, yang juga hadir pada acara tersebut. Ia melanjutkan, sampah plastik yang tidak terdaur ulang pun bisa mencemari lingkungan. Lebih beruntung jika sampah tersebut berakhir di TPA, tetapi ternyata sampah itu menyebar hingga mencemari laut.

"Mengubah mindset daur ulang. Padahal, (daur ulang) tidak mengurangi sampah plastik. Dari 100% hanya 20% benar-benar dipakai didaur ulang. 80%-nya tidak jelas ke mana," terang Enri.

Indonesia semestinya berkaca pada upaya lebih tegas yang dilakukan negara tetangga. Dilansir Channelnewsasia.com, pemerintah Malaysia pada akhir Mei lalu mengemukakan tengah mengedukasi warga untuk meminimalisasi penggunaan plastik. Edukasi ini sebagai awal dari langkah untuk melarang penggunaan sampah plastik selama setahun.

Indonesia sendiri justru melonggarkan kebijakan penggunaan plastik. Setelah beberapa waktu lalu menerapkan aturan plastik berbayar di pusat-pusat belanja, aturan tersebut lalu justru dihapus.

Kini hanya tinggal beberapa supermarket yang masih menerapkan aturan itu secara mandiri. Konsistensi mereka sebetulnya juga menunjukkan bahwa aturan plastik berbayar sangat bisa dilanjutkan, tinggal bagaimana keseriusan pemerintah menegakkannya.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More