Rasulullah Hormati Perbedaan

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Sabtu, 09 Jun 2018, 16:00 WIB Tausiah
Rasulullah Hormati Perbedaan

ANTARA/Puspa Perwitasari

ISLAM di Indonesia, sebagaimana diceritakan dalam sejarah, kebanyakan dibawa orang-orang serta pedagang dari Persia dan Arab. Ajaran islam datang dari seluruh penjuru, bercampur di Indonesia menjadi Islam Nusantara.

Itulah yang membuat Indonesia sangat unik. Di negeri ini, perbedaan sudah ada sejak lama dan kita dapat hidup harmonis walaupun berbeda-beda suku, budaya dan agama. Kekhawatiran yang muncul belakangan ini ialah masuknya paham-paham radikalisme, intoleransi, dan terorisme yang bukan karakter bangsa Indonesia. Selain itu, banyak orang menjadi mudah terprovokasi.

"Mengapa harus memaki perbedaan, sedangkan perbedaan jauh lebih tua daripada kita atau sudah ada lebih dahulu dari kita. Ada yang memaki karena perbedaan agama, ada yang memaki karena perbedaan warna kulit, ada yang memaki karena perbedaan suku," kata Ustaz Ahmad Nurul Huda dalam tausiyah seusai acara nonton bareng film Lima, yang mengangkat tema Pancasila, sekaligus buka puasa bersama dengan ratusan siswa dan guru pendamping binaan BCA di Jakarta, kemarin.

Ustaz yang akrab disapa Ayah NH itu mengatakan, ketika belajar di salah satu pesantren di Kediri, Jawa Timur, ia sering diejek teman-temannya hanya karena warna kulitnya yang hitam.

Oleh karena itu, agar menghargai perbedaan, di depan anak-anak yang hadir ia bercerita tentang kisah Rasulullah SAW ketika menyebarkan agama Islam dan beliau tetap menghormati perbedaan.

Menurutnya, perjuangan Rasulullah Muhammad SAW menyebarkan ajaran agama Islam mendapat tekanan luar biasa di Mekah. "Nabi dan umatnya ditekan sampai mereka berharap kapan pertolongan Allah datang. Akhirnya pertolongan itu datang berupa hijrah atau pindah," tuturnya.

Setelah Nabi Muhammad SAW bersama para pengikutnya hijrah ke Madinah, Nabi dihadapkan pada kehidupan baru di kota tersebut. Masyarakat di kota itu ada yang menganut agama Nasrani, Yahudi, bahkan kelompok-kelompok pagan yang menyembah berhala. Meski begitu, mereka menghormati Nabi Muhammad SAW dan sebaliknya Rasul pun demikian.

Nabi Muhammad memutuskan untuk mengumpulkan semua umat yang ada di Madinah dari berbagai latar belakang, lalu melakukan tiga hal. Pertama, Nabi Muhammad SAW membangun masjid. Kedua, mempersaudarakan antara muslim Madinah dan muslim Mekah yang ikut dengannya. Ketiga, membuat piagam Madinah yang berisi 45 pasal, isinya berhimpun menjadi satu dan berkomitmen menjadi bangsa yang satu.

Pada 14 abad lalu, kata ustaz, Rasulullah telah menyebut penduduk Kota Madinah yang bukan hanya muslim sebagai 'ummatan wahidan' atau bangsa yang satu. Itulah alasan mengapa yang dibangun Rasullah di Madinah bukan Darul Islam atau negara Islam, tetapi Darussalam yaitu negara perdamaian.

"Itu juga yang dilakukan bapak bangsa kita dalam membuat formula Pancasila yang disepakati pendiri bangsa untuk meletakan dasar negara ini," katanya.

Sila pertama, ialah Ketuhanan yang Maha Esa. Semua agama meyakini Tuhan sebagai yang disembah. Tidak ada yang berbeda satu dengan yang lain. Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ujarnya, semua agama mengajarkan itu. Oleh sebab itu, negara ini didirikan atas dasar persaudaraan.

Kemudian, sila ketiga hingga kelima, juga disepakati sebagai landasan berbangsa dan bernegara agar Indonesia menjadi kukuh.

 

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 19 Jun 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More