Lebaran dan Feminitas Keagamaan

Penulis: Asep Salahudin Wakil Rektor IAILM Suryalaya Tasikmalaya Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Pada: Sabtu, 09 Jun 2018, 02:55 WIB Opini
Lebaran dan Feminitas Keagamaan

tiyok

LEBARAN datang dan pergi silih berganti. Selepas puasa, satu Syawal  umat Islam merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Kemenangan yang melambangkan sebuah tekad bahwa setelah Ramadan nilai-nilai puasa itulah yang akan menjadi pandu dalam pengalaman harian.

Tentu saja puasa bukan sekadar ritus keterampilan menahan lapar, tapi ada makna yang melampaui itu. Puasa sebagai pintu masuk pewarisan watak-watak kelembutan, sikap lapang, kesediaan berbagi, dan kesanggupan berempati. Puasa menginjeksikan kesadaran pentingnya menebarkan kebaikan bersama demi tegaknya kemaslahatan umum.

Maka, menjadi bisa dipahami kalau puasa menjadi garis kebaktian yang mempertemukan satu agama dengan agama lainnya, satu kepercayaan dengan kepercayaan liyan. Hampir semua agama menyerukan kewajiban berpuasa. Bahkan, dalam tradisi tua Persia dan Mesir Kuno, para raja dan seluruh anggota kabinet sebelum memutuskan hal penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak mereka seluruhnya berpuasa terlebih dahulu. Karena dalam kondisi berpuasa pandangan lebih luas, wawasan terbuka, dan lebih mampu merasakan sisi terdalam manusia lain.

Setelah Ramadan
Ramadan secara semantik artinya panas terik. Tentu maknanya tidak hanya merujuk kepada musim panas di bulan itu, tapi ada tautan simbolis yang melambangkan tentang diri yang sigap menarasikan upaya membakar setiap kekhilafan, bukan untuk dilupakan, melainkan agar dikenang dan tidak lagi melakukan kesalahan serupa, dan juga kesiapan mengampuni kesalahan orang lain. Wajah Tuhan sebagai pribadi pengampun menjadi  jejak-jejak teladannya. Tuhan yang Mahalembut dan kasih, Mahapenyayang dan penebar kebaikan.

Memanggungkan kembali sisi feminitas Tuhan seperti ini menjadi penting kita rapalkan bersama di tengah suasana kebangsaan yang dalam lima belas tahun terakhir nyaris terlampau didominasi pencitraan Tuhan yang maskulin. Cerita kelembutan agama dikalahkan hikayat agresivitasnya. Tuhan yang dihadirkan selalu berwajah pengazab. Tuhan yang pendendam dan pemilik jahanam.

Maka bagaimana hari ini, bukan saja di belahan dunia Timur Tengah, melainkan sudah masuk ke bumi Nusantara, orang bersengketa dengan mengatasnamakan Tuhan, bahkan membunuh sambil melafalkan kata suci Allahu Akbar. Masuk 'surga' secara tergesa-gesa dengan mengorbankan nyawa orang lain. Stigma kafir, munafik, fasik menjadi tak ubanya pakaian yang diobral di pasar. Mereka yang berbeda dipandang musuh yang harus lekas ditundukkan, bahkan dengan muslihat yang paling licik sekalipun, termasuk lewat cara-cara mobilisasi massa, fitnah, dan pemutarbalikan fakta.

Islamic State (IS/NIIS) atau gerakan-gerakan lain yang beririsan dengannya, sekarang bukan lagi sebuah isu, melainkan sudah berada di depan mata. Bahkan, seringkali tidak sadar kita menjadi pengagumnya dan dengan sukarela men-share berita-berita yang berkaitan dengannya di media sosial lengkap dengan kebencian yang lambat, tetapi pasti telah menjadi sel darah merah. Dunia semakin terperosok jauh ke jurang 'kanan', dan tidak mustahil kita ikut berkonstribusi di dalamnya.

Kapitalisasi isu
Maskulinitas (atas nama) Tuhan, ini juga yang seringkali dimanfaatkan para petualang politik untuk dikapitalisasi dengan perolehan suara. Para politikus paham betul bahwa hanya isu agama yang bisa dimainkan secara murah meriah, tapi hasilnya amat maksimal. Isu agama yang dengan enteng mampu membangun disparitas pemilih dan semakin mengukuhkan fanatisme terhadap seorang calon yang sedari awal dicitrakan sebagai agamawan (walaupun belum tentu bisa bekerja), mempunyai komitmen penegakan syariat dan siap menegakkan amar maruf nahyi munkar. Bahkan, jangankan persoalan pemilihan gubernur, atas nama agama orang berani mempertaruhkan nyawanya.

Saya kira contoh paling telanjang tentang jualan politik identitas keagamaan, ya, di Jakarta. Bagaimana keterpuasan program-program  petahana yang mencapai 70% harus tersungkur dihantam isu sektarianisme dan puritanisme. Tidak menutup kemungkinan cara-cara seperti ini akan terus dimainkan menjelang musim tahun politik.  

Masjid-masjid (dan tempat ibadah lain) masih terbuka dimasuki para demagog atas rekomendasi konsultan politiknya, untuk dijadikan basis indoktrinasi massa. Betul apa yang ditulis Ibnu Khaldun bahwa hanya agama yang punya kekuatan hipnotis menghimpun massa sebanyak-banyaknya dan untuk melakukan hal itu siapa pun bisa ketika akal sehat dicampakkan dan nafsu kekuasaan memenuhi rongga visi politiknya. Untuk melakukan tindakan tidak terpuji itu tidak perlu konsultan politik, abad pertengahan telah memberikan gambaran seorang budak pun bisa melakukannya.

The Tao of Islam
Menarik apa yang ditulis Sachihiko Murata dalam The Tao of Islam, bahwa Tuhan (agama) itu bukan hanya berurusan dengan sisi jalaliyah (ketegasan/maskulinitas) saja, melainkan juga jamaliyah (kelembutan/feminitas). Dalam penelitian Murata, ayat-ayat Alquran yang menggambarkan feminitas Tuhan jauh lebih banyak ketimbang sisi maskulinitas-Nya.  

Agama itu mengajarkan kelembutan dan pengampunan, kasih sayang, dan sikap lapang. Dalam sebuah syair klasik Abu Nawas yang biasa dibaca di langgar, diteguhkan betapa yang bikin seseorang masuk surga itu ialah ampunan Allah.

Memang ada ayat-ayat perang (jihad), tapi harus dibaca secara benar, proporsional, dan disesuaikan dengan konteksnya. Kitab suci tidak boleh dilucuti dari latar historis diturunkannya, apalagi sekadar digunakan untuk kepentingan politik sesaat. Radikalisme itu salah satu pemicunya ialah menafsirkan ayat-ayat jihad secara ugal-ugalan yang akhirnya agama alih-alih mendatangkan rahmat malah memunculkan bencana.

Dalam When Religion Becomes Evil, Charles Kimball menyebut lima faktor yang dapat mengubah agama menjadi bencana: 1) pengakuan kebenaran mutlak; 2) ketundukan buta terhadap pimpinan agama seperti Peoples Temple-nya Jim Jones di Guyana, Aum Shinrikyo di bawah Asahara Shoko di Jepang, dan gerakan David Koresh di Texas; 3) gandrung terhadap zaman ideal dengan menjadikan masa lalu sebagai contoh dari perjuangan keagamaannya seperti terjadi pada rezim Taliban di Afganistan, ide negara Yahudi Rabi Mei Kahane, dan kelompok keras Kristen Amerika Pat Robertson; 4) menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan, dan; 5) mengartikan perang suci secara salah kaprah dan menyesatkan.

Di hari Lebaran, feminitas agama inilah yang semestinya menjadi trajektori bersama. Ini penting kita renungkan di tengah suasana keagamaan (dan kebangsaan) yang akhir-akhir ini sering terpelanting pada situasi kekerasan baik fisik, psikis atau pun simbolis. Spirit Lebaran mengajarkan itu. Mengajarkan lekas kembali kepada keutamaan publik (minal aizin) untuk meraih kebahagiaan secara kolektif (wal faizin).

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More