Marvin Sulistio Kampanye Baca dan Hindari Plastik

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 09 Jun 2018, 02:30 WIB Hiburan
Marvin Sulistio Kampanye Baca dan Hindari Plastik

MI/PERMANA

SEBUAH tas kecil berisi buku hampir tidak pernah lupa dibawa Marvin Sulistio. Penyiar berita di Metro TV ini memang punya hobi membaca. Tiap waktu senggang, termasuk saat menunggu waktu siaran, Marvin lebih suka menelusuri halaman buku.

"Saya membaca segala buku, tetapi lebih suka buku pengalaman jalan-jalan, apalagi saya lebih percaya pada referensi orang yang pernah ke sana,” tutur Marvin kepada Media Indonesia, Selasa (5/6).

Kegemaran Marvin membaca juga tampak jelas di apartemennya. Penyiar di program Newsline ini punya perpustakaan mini. Di situ beragam bacaan, dari buku perjalanan, novel, hingga komik, seperti Doraemon dan Detektif Conan, tersedia. Ini pula yang membuat teman-temannya, menurut Marvin, senang main ke kediamannya termasuk di momen buka bersama. Mereka sekaligus memanfaatkan kesempatan untuk meminjam buku.

Hal tersebut tak jadi soal baginya sebab pria kelahiran Sleman, 28 April 1990 itu senang menularkan minat baca. Bahkan, Marvin juga melakukannya lewat media sosial. Di akun Instagram @ide_laki yang ia buat bersama dua rekannya Iqbal Himawan dan Rory Asyari, Marvin memberikan rekomendasi buku yang menarik dibaca. Sejak dua tahun lalu, Marvin juga menyalurkan buku bekasnya untuk disumbangkan.

Untuk mendapat penerima yang tepat, ia kerap meminta rekomendasi dari follower medsosnya.

"Saya lebih suka menggunakan sosial media untuk publikasi karena saya punya buku bekas dan berniat menyumbangkannya. Nah, dari media sosial itu saya tawarkan untuk disumbangkan ke mana," jelas alumnus Universitas Parahyangan, Bandung, ini.

Ia mengaku terpanggil menyebarkan minat baca karena berkaca pada posisi Indonesia yang sangat rendah di daftar The World's Most Literate Nation 2016. Dalam penelitian yang dibuat Presiden Central Connecticut State University di New Britain, Amerika Serikat, John W Miller, tersebut, Indonesia berada di posisi ke-60 dari 61 negara. Indonesia hanya unggul atas Botswana. Sementara itu, posisi teratas diduduki negara Skandinavia, yakni Finlandia (1), Norwegia (2) dan Islandia (3).

Marvin yang hobi melancong ke negara-negara itu bisa memahami dampak tingginya minat baca. Di kafe maupun di tempat publik lainnya, alih-alih melihat orang terpaku pada ponsel, Marvin lebih sering melihat orang asyik membaca. Menurutnya, kemajuan bangsa yang mereka capai juga merupakan hasil budaya baca. Lewat buku orang bisa membuka wawasan dan mendapat berbagai inspirasi.

Marvin percaya minat baca yang sama juga sebenarnya dimiliki banyak orang di Indonesia, termasuk anak di pedalaman. Sayangnya banyak dari mereka yang punya keinginan keras belajar justru tidak memiliki fasilitas dan akses.

Sebab itu, ia berupaya membantu dengan menyalurkan buku bekas. Dari situ pula Marvin akan lebih mengutamakan berpartisipasi di gerakan sosial penyaluran buku yang mampu menjangkau pedalaman.

Marvin pun pernah mendapat momen mengharukan karena laporan penyaluran buku yang ia sumbangkan. "Saya dapat kiriman foto mereka dengan anak-anak. Mereka memperlihatkan kembali buku pemberian saya, anak-anak sangat antusias dan bahagia menerima buku-buku itu," ujar pria yang mengaku sesungguhnya tidak terlalu mengawasi pendistribusian buku setelah menyumbangkan ini.

Bijak berplastik
Tidak hanya minat baca, Marvin getol mengampanyekan kepedulian lingkungan. Fokus isunya tidak jauh dari kebiasaan buruk yang masih melekat di masyarakat kita, yakni membuang sampah sembarangan.

Lagi-lagi berkaca pada studi dunia, Indonesia pun masuk kategori salah satu negara paling tercemar. Karena it, Marvin tidak luput memanfaatkan medsos untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan. Seperti ketika di Hari Lingkungan Hidup yang jatuh 5 Juni, ia mengajak orang berbagi pengalaman soal perilaku buruk masyarakat terkait dengan lingkungan hidup.

Lebih lanjut, Marvin mengungkapkan, dari riset literatur, ia mengetahui ada permasalahan yang jauh lebih pelik ketimbang soal membuang sampah sembarangan. Tingginya pencemaran juga disebabkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai (keresek, botol, hingga gelas plastik).

Gaya hidup itu memicu industri memproduksi plastik dalam jumlah besar, sementara fasilitas daur ulang minim. Akibatnya, sampah plastik berserakan di mana-mana hingga masuk ke badan air dan mencemari lautan. Dampaknya sudah bukan sepele karena sudah membunuh biota-biota laut dan merusak kawasan-kawasan wisata.

Sebab itu, Marvin berharap ketegasan lebih pemerintah untuk menekan konsumsi plastik dilakukan bukan sekadar lewat gerakan seremonial menjelang hari lingkungan. Selain itu, tentu saja ia mengajak masyarakat untuk sadar. Masyarakat mestinya berpikir berkali-kali sebelum menggunakan plastik. Plastik yang digunakan akan mencemari lingkungan hingga seratus tahun. (M-2)

 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More