Komite Solidaritas Palestina Kecam Aksi Israel Dengan Peluru Kupu-kupu

Penulis: Haufan Hasyim Salengke Pada: Jumat, 08 Jun 2018, 17:43 WIB Megapolitan
Komite Solidaritas Palestina Kecam Aksi Israel Dengan Peluru Kupu-kupu

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

SEKITAR 3ribu orang dari Komite Solidaritas Palestina dan Yaman menggelar aksi bela Palestina di depan Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Gambir, Jakarta Pusat, Jumat(8/6) siang. Sebagian besar demonstran mengibarkan bendera Palestina dan Indonesia. Mereka juga mengusung spanduk yang memuat kata-kata kecaman terhadap Israel dan Amerika Serikat.

"Kita berkumpul di sini untuk membela salah satu fitrah manusia, yakni mengecam segala bentuk penindasan dan penjajahan. Kami mengalamatkan aksi ini kepada Israel. Kita katakan lakukan semua tipu muslihat semaumu tapi kami akan tetap membela Al-Aqsa," kata seorang orator dari atas mobil komando.

Aksi demontrasi berlangsung tertib dengan penjagaan personel kepolisian. Kondisi arus lalu lintas di sekitar lokasi unjuk rasa pun terpantau ramai lancar.

Musa al-Kadzim, Ketua Komite Solidaritas Palestina dan Yaman, mengatakan sudah sejak 70 tahun Israel terus melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap rakyat Palestina. Laporan terakhir dari Jalur Gaza menyebut sedikitnya 120 korban jiwa meninggal dunia dan ribuan lain luka-luka akibat terjangan timah panas militer rezim Zionis Israel. Seluruh korban wafat dan luka itu terjadi sejak warga Palestina melakukan aksi protes Great March of Return pada 30 Maret lalu.

"Para saksi mata menyebutkan rezim rasis Israel menggunakan berbagai senjata terlarang dan dengan cara yang terlarang untuk menyasar para demonstran yang sama sekali tidak bersenjata," ujarnya.

Musa menyebut di antara kejahatan Israel yang belakangan terungkap adalah penggunaan peluru yang dikenal dengan 'butterfly bullets' (peluru kupu-kupu) yang dapat merusakkan organ internal korban. Peluru akan meledak di dalam tubuh, sehingga menyebabkan kerusakan maksimal terhadap bagian dalam tubuh korban. Ratusan korban luka, termasuk anak-anak, perempuan, awak media, dan paramedis yang seharusnya mendapat perlindungan, terpaksa menjalani amputasi akibat tembakan peluru kupu-kupu tersebut.

<> Serang paramedis <>

Razan Najjar adalah satu dari sekian relawan medis yang tewas ditembak dengan peluru kupu-kupu. Najjar gugur saat sedang menolong korban luka-luka. Padahal, Najjar mengenakan jaket putih paramedis, dan mengangkat tangannya agar bisa diidentifikasi serdadu Zionis.

Selama unjuk rasa Great March of Return, Najjar juga dikenal luas sebagai aktivis kemanusiaan dan paramedis yang percaya pentingnya perjuangan damai untuk mengusir penjajahan.

Kejahatan penggunaan peluru kupu-kupu (dilarang oleh Konvensi Den Haag 1889) itu diperparah dengan fakta peluru itu ditembakkan kepada para demonstran yang tidak menghadirkan ancaman bagi serdadu Israel. Sementara para serdadu berjajar di balik pagar kawat berduri apartheid, dengan penembak runduk (sniper) yang berada di belakang mereka.

"Bahkan, di belakang para serdadu itu, ada banyak penembak runduk (sniper) yang senantiasa siap siaga menembak demonstran yang berhasil lolos dan melompati pagar," ujar Musa.(OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More