ITB Akui Kampusnya Terpapar Radikalisme

Penulis: Bayu Anggoro Pada: Selasa, 05 Jun 2018, 20:00 WIB Humaniora
ITB Akui Kampusnya Terpapar Radikalisme

Ist

INSTITUT Teknologi Bandung membenarkan kampusnya sudah terpapar kegiatan mahasiswa yang diduga berafiliasi ke organisasi radikal.

Kegiatan kemahasiswaan di kampus negeri ini bernama HATI (harmoni amal dan titian ilmu) yang diduga dekat dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dinyatakan terlarang oleh pemerintah.

Hal ini diungkapkan Wakil Rektor ITB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Bermawi Priyatna Iskandar, saat dimintai konfirmasi di Bandung, Jawa Barat, Selasa (5/6).

Dia menyebut, pihaknya sudah menegur organisasi ini sejak 2 tahun lalu karena selalu mengundang tokoh HTI dalam kegiatannya.

"Sudah kami berikan peringatan karena mengundang tokoh-tokoh HTI," katanya.

Dalam aktivitasnya, menurut Bermawi, mereka mengadakan diskusi yang diikuti sekitar 15 mahasiswa yang kebanyakan angkatan baru. Dari hasil diskusinya itu, mereka membuat tampilan digital untuk disebarkan di akun media sosial.

Atas kegiatan itu, ITB terus memperingatkan bahkan sejak pekan lalu telah membekukan organisasi tersebut.

"Kami ucapkan terima kasih, kami dapat masukan terkait dengan adanya organisasi kemahasiswaan di ITB yang memang diduga punya afiliasi dengan organisasi massa tertentu," paparnya.

Meski begitu, dia memastikan hanya sedikit mahasiswanya yang aktif dalam kegiatan tersebut. Selain jumlahnya yang sedikit, pihaknya pun terus menekankan pentingnya kesetiaan terhadap Pancasila.

"Mahasiswa baru yang diterima di ITB, melalui sidang terbuka mereka berjanji. Dalam menuntut ilmu memgembangkan kegiatan dasarnya adalah Pancasila dan NKRI menjadi satu hal yang final," katanya.

Dalam berkegiatan pun, menurutnya mahasiswa sangat ditekankan agar menjadikan Pancasila sebagai dasar dan pedoman utama.

"Baik dalam berorganisasi kemahasiswaan, menuntut ilmu, dalam wujud konkret," katanya seraya menekankan mahasiswanya agar mengungkap kesamaan yang ada di masyarakat dibanding mencari perbedaan.

Tidak hanya itu, yang tidak kalah penting pihaknya pun tidak ragu untuk memberikan sanksi kepada mahasiswa yang melanggar hal mendasar ini. Selain menjatuhkan hukuman ringan, pihaknya akan tegas untuk menjatuhi pengurangan SKS hingga skors 1 semester.

"Tergantung seberapa berat kesalahan yang dilakukan. Kami sedang dalam proses, melakukan pencarian informasi yang lebih detail pelanggaran yang mereka lakukan," katanya.

Disinggung apakah mahasiswa yang terpapar radikalisme itu dari jurusan eksakta, dia tidak mau memvonisnya. Selain karena jumlah mahasiswanya yang banyak yakni 15 ribu, menurutnya yang terdeteksi kegiatan itu pun hanya sedikit.

"Hanya 59 orang. Jumlahnya sedikit. Ada teknik, ada sains. Kami enggak berani menyimpulkan punya korelasi dengan bidang ilmu tertentu," katanya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More