Si Mulut Pedas

Penulis: Ronald Surapradja Pada: Selasa, 05 Jun 2018, 07:52 WIB celoteh
Si Mulut Pedas

MI/Rommy Pujianto
Ronald Surapradja

 

 

ALHAMDULILLAH, akhirnya sempat juga merasakan berpuasa tahun ini di Bandung meski harus mengorbankan beberapa tawaran pekerjaan. Tujuan saya hanya satu, menikmati masakan mamah saat buka puasa dan sahur. Saya rasa kenikmatan dan pengorbanannya sebanding hehehe.

Masakan mamah itu sederhana, tapi sambalnya luar biasa. Sambal apa pun bisa beliau buat, termasuk permintaan tingkat kepedasannya. Favorit keluarga kami ialah sambal terasi dan sambal tomat, dan biasanya kami tidak akan mulai makan jika sambal belum selesai dibuat. Apalah artinya menunggu beberapa saat jika dibandingkan dengan kenikmatan yang hakiki hehehe.

Sambil makan, mamah bercerita bahan pembuat sambal sederhana. Jenis sambal menjadi banyak itu tergantung variasi bahan yang dicampurkan. Saking banyaknya, jumlah sambal di Indonesia sampai saat ini belum bisa terdokumentasi dengan baik.

Chef terkenal pernah mengatakan minimal ada tiga jenis sambal di tiap provinsi di Indonesa, jadi bisa kita bayangkan betapa banyaknya jenis sambal di negeri ini. Kenapa sih orang Indonesia senang makan pedas? Salah satunya karena makanan pokok kita ialah nasi putih. Rasa nasi putih yang hambar membuat orang Indonesia mencari padanan yang cocok untuk menambah cita rasa dan meningkatkan selera, maka sambal ialah jawabannya.

Ada penjelasan ilmiah. Rasa pedas yang dihasilkan cabai dapat menstimulasi sekresi endorfin oleh hipotalamus. Hipotalamus adalah kelenjar di bawah otak yang akan bereaksi bila tubuh merasakan sakit luar biasa, dan rasa pedas dikenali jaringan saraf tubuh sebagai rasa sakit sehingga secara alami tubuh mengeluarkan endorfin, yaitu senyawa yang mirip dengan morfin. Karena itulah kenapa orang yang hobi makan makanan pedas sudah seperti kecanduan karena tubuh memproduksi morfin alami. Selain itu, cabai juga membawa banyak manfaat kesehatan yang lainnya.

Terpikir, apa jadinya jika seminggu saja di Indonesia tidak ada cabai? Wah, enggak kebayang hebohnya akan seperti apa, menjelang Lebaran pula hehehe. Ingat dulu pernah harga cabai naik, kehebohan yang terjadi tidak ada habis-habisnya dan banyak disorot media massa. Ini bukti kalau orang Indonesia sepertinya tidak bisa hidup tanpa cabai. Bahkan, pemerintah sampai mengimpor dari negara tetangga agar harga cabai turun dan masyarakat tidak bergejolak. Karena kalau harga cabai mahal, berarti sambal merupakan makanan mewah yang hanya bisa dinikmati kaum borjuis. Enggak kebayang ada revolusi di sebuah negara disebabkan cabai hehehe. Cabai itu merah jenderal. (H-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More