Jadikan Wangatoa Selandoro sebagai Lab Kerukunan

Penulis: (Alex P Taum/N-3) Pada: Selasa, 05 Jun 2018, 04:30 WIB Features
Jadikan Wangatoa Selandoro sebagai Lab Kerukunan

MI/ALEXANDER TAUM

SUARA musik dan lagu kasidah berjudul Perdamaian yang dipersembahkan remaja Masjid Nur Salam, Wangatoa, menggema di halaman Gereja Kristus Raja Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nabatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Minggu (3/6) malam.

Para penonton yang memenuhi halaman gereja memberikan tepuk tangan meriah. Sejurus kemudian para pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Solavide dan Bethel Rock Ministry tidak ketinggalan menyanyikan sejumlah lagu.

Suasana semakin meriah saat rombongan anak-anak Sekami dan Sekar Paroki Kristus Raja Wangatoa, membawakan lagu Halleluya. Seusai mereka bernyanyi, ada beberapa orang membacakan puisi bernapaskan Pancasila, termasuk membaca teks Pancasila.

Para pemuda yang berkumpul di halaman gereja kemudian membacakan ikrar cinta damai, antiteroris, dan melawan berita-berita palsu. Peristiwa itu disaksikan para tokoh dari lintas agama. Para tokoh agama termasuk Kepala Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Isak Sulaiman, ikut membacakan ikrar cinta damai.

Seusai pembacaan ikrar, tampil Yota Kotan dan kawan-kawan mengisi panggung dengan musikalisasi puisi. Ia membawakan lagu berjudul Nusantara dan dilanjutkan membaca puisi berjudul Retoris untuk Teroris.

“Saya menikmati keindahan alunan lagu yang menggambarkan karakteristik kepercayaan agama yang dianut di Wangatoa ini. Setidaknya gambaran seperti inilah yang kita harapkan dari beragam agama yang ada di Indonesia. Bukankah  kebersamaan dalam perbedaan itu menunjukkan keindahan hidup di Indonesia,” ujar Vince Bataona, Seksi Komunikasi Sosial Gereja Paroki Kristus Raja Wangatoa.  

Aktivis perempuan itu menjadi tokoh di balik terselenggaranya kegiatan 1.000 lilin dan parade keragaman agama di Gereja Wangatoa malam tadi. Para aktivis gereja ini berikhtiar merajut kebersamaan dalam perbedaan, menolak radikalisme, dan hoaks.
Puncaknya, para peserta menyalakan lilin yang membentuk gambar Garuda Pancasila di halaman gereja.

Isak Sulaiman dalam sambutannya mengatakan bila Anda ingin belajar keberagaman, ada di Wangatoa. “Agama mengajarkan cinta kasih dan rahmat dari Allah yang harus diwujudkan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita menjadi rahmat di tanah-tanah tandus. Mari menjaga persaudaraan sejati. Kita tetap Indonesia, kita tetap NTT, kita tetap Lembata. Kegiatan ini menjadi awal membangun dialog bersama untuk hal lebih besar,” ujarnya

Perwakilan dari Masjid Nur Salam Dua, Kamaludin Dohor, saat dimintai sambutan, menegaskan  masyarakat tidak boleh terpengaruh oleh berita yang memecah belah persatuan. “Jadikan Wangatoa Selandoro sebagai laboratorium kerukunan,” tegas Kamaludin. (Alex P Taum/N-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More