Sanggar Ahli Petarung

Penulis: Abdillah Marzuqi Pada: Minggu, 03 Jun 2018, 11:50 WIB Gaya Urban
Sanggar Ahli Petarung

MI/BARRY FATAHILAH
Sanggar yang sudah berdiri satu dekade ini konsisten berkarya untuk sajian fi lm yang mengakar pada budaya, sejarah, dan kerajaan. Menitikberatkan pada fi lm kolosal maka petarung di sanggar ini juga harus beradaptasi dengan kostum yang memiliki banyak aks

SUARA orang-orang berteriak lantang terdengar dari sebuah ruangan. Melongok ke dalam, pemandangannya membuat kaget. Dengan wajah garang dan posisi kuda-kuda, sekitar 40 orang itu tampak siap bertarung.

Sesaat kemudian, pertarungan benar pecah. Beberapa orang saling berduel, ada yang terpental dan jatuh. Beruntung, yang menang tidak berniat benar-benar menghabisi yang kalah. Begitu lawan sudah jatuh, duel usai. Kemudian mereka berhenti dengan tertib dan tidak terlihat dendam di wajah.

Tidak heran, pertarungan itu bagian dari latihan mereka. Bernama Sanggar Sang Prabu, komunitas ini rutin berlatih untuk skenario film laga.

Sabtu (26/5) itu, latihan yang berlangsung di sanggar yang terletak di Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, berlanjut ke tanah lapang. Kelompok orang yang sama tersebut berlari bergerombol seolah hendak menyerang. Adegannya mirip dengan yang biasa terlihat di film-film kolosal.

"Ini adalah komunitas budaya, namun fokusnya mencetak atau menciptakan tenaga profesional yang sifatnya lebih ke arah hiburan," terang pendiri Komunitas Sanggar Sang Prabu, Steven Wattimena.

Pria berusia 44 tahun itu menjelaskan jika sanggar yang didirikannya sudah aktif satu dekade ini. Selama itu mereka konsisten dengan berkarya untuk sajian film yang mengakar pada budaya, sejarah, dan kerajaan. Hal itu sesuai dengan jiwa komunitas Sanggar Sang Prabu.

Laga kolosal mempunyai perbedaan dengan laga modern. Menurut Steven, laga kolosal menitikberatkan pada keindahan dan karakter dalam setiap laga.

Artinya, setiap adegan bertarung tidak boleh sama. Gaya bertarung raja dan prajurit harus berbeda. Selain itu, laga kolosal juga tidak boleh lepas dari nuansa bela diri asal Indonesia yakni silat.

Komitmen itu membawa konsekuensi pada tuntutan strategi koreografi pertarungan orang dalam jumlah besar. Para petarung pun dituntut untuk bisa mempertahankan keluwesan gerak, meski menggunakan kostum dengan banyak aksesori.

"Jadi kita di sini mencetak tenaga-tenaga ahli, seperti bagaimana meng-create sebuah adegan? Bagaimana mengkoreografi sebuah gerakan silat? Secara budaya silat itu sendiri, bukan budaya luar. Bukan bela diri luar (negara asing)," tegas Steven.

Meski harus membuat koreografi senyata mungkin, para jebolan sanggar ini tetap harus mengecamkan prinsip bela diri yang bukan dengan kontak fisik nyata. Hal ini bukan saja karena penekanan pada sisi hiburan, melainkan juga sebagai pertimbangan keamanan.

Beragam latar belakang

Anggota komunitas rutin berlatih seminggu sekali dengan panduan instruktur. Menu latihannya beragam, dari pertarungan satu lawan satu, hingga satu lawan tiga. Koreografinya dibuat dari perpaduan beragam jenis bela diri.

"Koreogarafi yang mengandung unsur silat, taekwondo, karate, aikido, kempo, ninjutsu, wushu, kungfu. Semua unsur bela diri kita kemas jadi satu dalam sebuah koreo. Dari koreo itu kemudian kita buat jadi sebuah desain pertarungan," ungkap koordinator instruktur, Jerry Yass Wattimena, 40.

Saat ini jumlah anggota komunitas mencapai 50-60 orang. Mereka datang dari berbagai latar dan profesi. Beberapa di antara mereka telah memiliki latar bela diri sebelumnya, tetapi banyak pula yang tidak.

Salah satu anggota komunitas, Putri Ersa, yang telah satu setengah tahun bergabung, mengaku baru kali itu memperoleh materi adegan terbang dengan menggunakan sling. Teknik terbang itu memang terlihat gampang, tetapi ternyata cukup susah dilakukan.

Jika tidak menjaga keseimbangan, sangat sulit menuaikan adegan yang diinstruksikan. Selain itu, pemain juga harus menguasai teknik jatuhan agar terhindar dari cedera.

Di samping Putri, ada Dian Agustina yang piawai bermain jurus. Perempuan berusia 19 tahun ini berlatar belakang atlet wushu. "Bermanfaat banget sih. Kalau kita sudah punya dasar bela diri, kalau diarahin apa-apa udah mengerti. Jadi lebih gampang mengerti, lebih gampang paham dengan gerakan, jurus yang dikuasi," terang Dian yang telah bergabung sejak setahun lalu.

Tak jarang Dina mendapati lawan adegan yang tidak punya latar bela diri sama sekali. Dian mempunyai cara untuk mengatasinya. Dian biasanya meningatkan sembari terus membangun komunikasi agar gerakan mereka semakin bersenyawa.

"Sebenarnya agak susah, kayak perbandingannya agak susah. Cuma lama-lama dilatih bisa juga sih. Kan ada instrukturnya yang ajarin. Aku-nya juga agak marahin dikit. Jadi pokoknya komunikasi. Saling membenarkan. Jadi biar gampang, sama kitanya biar klop," pungkasnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More