Teknologi AI untuk Mendeteksi Kanker Kulit

Penulis: Desi Yasmini Pada: Sabtu, 02 Jun 2018, 12:30 WIB Teknologi
Teknologi AI untuk Mendeteksi Kanker Kulit

BELUM lepas dari ingatan kita berita kanker ganas yang merenggut nyawa menantu Hatta Rajasa, Adara Taista. Adara meninggal dunia setelah lebih dari setahun melawan kanker melanoma dan berjuang menjalani pengobatan di tiga negara.

Teknologi terbaru yang dikembangkan para dokter spesialis kulit menjadi oasis untuk menepis kekhawatiran terkena penyakit ganas ini. Melalui deteksi dini yang lebih akurat, diharapkan gejala penyakit dapat segera teratasi.

Teknologi yang dikembangkan ini ialah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan menggunakan komputer. Ternyata berdasarkan penelitian, teknologi ini dapat lebih jitu mendeteksi kanker kulit pada manusia jika dibandingkan dengan dokter kulit. Begitu kesimpulan yang diambil dalam sebuah penelitian yang mengadu keandalan manusia dan mesin dalam upaya untuk mendapatkan diagnosis yang lebih baik dan lebih cepat.

Tim peneliti gabungan dari Jerman, Amerika Serikat, dan Prancis mengembangkan sistem AI untuk membedakan lesi kulit yang berbahaya dan jinak dengan menunjukkan lebih dari 100 ribu gambar.

Mesin tersebut disebut jaringan saraf konvolusional atau CNN (convolutional neural network) yang sudah teruji, kemudian diuji terhadap 58 dermatologis dari 17 negara. Cara pengujiannya ialah dengan menunjukkan berbagai gambar melanoma ganas dan tahi lalat jinak.

Lebih dari separuh dokter spesialis kulit yang mengikuti tes itu dikategorikan sebagai pakar, dengan lebih dari lima tahun pengalaman di bidangnya. Sebanyak 19% memiliki pengalaman antara dua dan lima tahun, dan 29% ialah pemula yang mengantongi pengalaman kerja kurang dari dua tahun.

"Ternyata sebagian besar dokter spesialis itu tidak bisa mengungguli CNN dalam akurasi deteksi kanker kulit," begitu disebutkan dalam laporan yang dibuat tim riset dan dimuat di jurnal Annals of Oncology.

Lebih Akurat

Rata-rata dokter ahli kulit mendeteksi kanker kulit melalui gambar secara akurat sebanyak 86,6%. Bandingkan itu dengan keakuratan CNN dalam mendeteksi kanker kulit yang sebesar 95%.

"CNN hanya terlewat mendeteksi beberapa melanoma. Yang berarti CNN memiliki sensitivitas lebih tinggi daripada dokter kulit," kata peneliti Holger Hanssle dari University of Heidelberg.

CNN juga lebih sedikit melakukan kesalahan ketika mendiagnosis tahi lalat jinak sebagai melanoma ganas. Hasilnya, pembedahan yang tidak diperlukan juga lebih sedikit.

Kinerja para dokter kulit membaik ketika mereka diberi lebih banyak informasi dari pasien dan lesi kulit yang mereka derita.

Tim peneliti mengatakan kecerdasan buatan atau AI ini bisa menjadi alat yang berguna untuk mendeteksi kanker kulit dengan cepat dan mudah hingga bisa mempercepat tindakan pembedahan sebelum kanker menyebar.

"Ada sekitar 232 ribu kasus baru melanoma dan 55.500 kematian akibat kanker kulit setiap tahunnya", kata mereka menambahkan. Namun, mesin tidak akan sepenuhnya menggantikan para dokter manusia. Alat ini lebih berperan sebagai alat bantu.

Melanoma yang muncul di beberapa bagian kulit seperti jari-jari kaki dan kulit kepala sangat sulit untuk diambil gambarnya. Kecerdasan buatan mungkin akan kesulitan mengenali lesi atipikal atau jenis-jenis yang para pasien sendiri belum tahu.

"Saat ini belum ada alternatif lain teknik pemeriksaan klinis menyeluruh," kata peneliti ahli Victoria Mar dari Monash University di Melbourne dan Peter Soyer dari University of Queensland. (AFP/Dailymail/L-1/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More