Menepis Gulita Bermodal Lentera Jemur

Penulis: Micom Pada: Sabtu, 02 Jun 2018, 10:00 WIB Jejak Hijau
Menepis Gulita Bermodal Lentera Jemur

DOK. SAMSUNG

MALAM hari di Desa Pengadan Baru dan Kadungan Jaya, di Kecamatan Kaubun, Kutai Timur, sering diwarnai dengan perasaan harap cemas. Meski sudah mulai dialiri listrik, warga belum bisa yakin malam hari dapat beraktivitas di bawah penerangan. Justru lebih sering malam mereka masih gulita.

Seperti yang terjadi di banyak pelosok Tanah Air lainnya, suplai listrik yang masih di bawah kebutuhan membuat jaringan listrik belum menjamin akan penerangan. Padahal, warga Desa Pengadan Baru dan Kadungan Jaya sudah berharap banyak dari listrik itu. Penerangan di malam hari berarti memungkin-kan para ibu meneruskan membuat kerajinan manik-manik.

Beruntung harapan itu mulai bisa terwujud. Kamis (24/5), warga dua desa yang berada di Provinsi Kalimantan Timur itu mendapat bantuan lentera. Sesuai namanya, sebanyak 1.500 lentera surya yang dibagikan tersebut istimewa karena tidak membutuhkan suplai listrik grid, tetapi energinya tercipta dengan memanfaatkan cahaya matahari.

Teknologi yang digunakan lentera tenaga surya tersebut tergolong ramah lingkungan, sederhana, dan praktis. Cukup dijemur di bawah sinar matahari selama 10 jam, akan dapat memberikan penerangan selama 12 jam dengan tiga tingkatan penerangan (terang, sangat terang, dan berkedip). Desainnya sendiri dapat dilipat dan mudah disimpan. Selain itu, juga dapat digantungkan dan dibawa ke mana-mana.

"Kami sangat senang menerima donasi lentera tenaga surya ini, yang sangat tepat dengan kebutuhan masyarakat setempat. 1.500 lentera ini akan kami distribusikan ke beberapa kecamatan di Kutai Timur dengan memperhatikan kebutuhan dan kondisi penerangan setempat," ungkap Bupati Kutai Timur, Ismunandar, dalam acara penyerahan lentera surya dari PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN). Perusahaan yang berinduk di Korea Selatan ini, sebelumnya juga sudah memiliki program WASH (water sanitation and hygiene) dengan menyediakan fasilitas air bersih dan sanitasi lingkungan, seperti MCK (mandi, cuci, dan kakus) yang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kutai Timur.

Tidak hanya di Kaltim, bantuan lentera surya juga telah disalurkan untuk masyarakat di Solor Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para mama di Desa Lebao, Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, memang rutin melakukan kegiatan menganyam di malam hari karena siangnya mereka berkebun di ladang.

Anyaman daun lontar merupakan salah satu tradisi yang turun menurun dilakukan para mama daerah tersebut. Mereka biasanya membuat anyaman untuk perabotan rumah tangga yang mereka pakai sendiri. Tidak hanya itu, saat ini kegiatan anyaman daun lontar yang dibuat juga menjadi penghasil-an alternatif selain berkebun.

Para mama di wilayah tersebut memang memiliki peran penting dalam memutar roda perekonomian keluarga karena para suami mayoritas pergi merantau, bahkan banyak yang menjadi TKI. Hal tersebut otomatis membuat para mama juga harus mampu memiliki penghasilan tambahan.

"Mama mulai menganyam itu sejak 2015, tapi sudah bisa dari SD. Proses pembuatan anyaman sendiri lamanya macam-macam. Kalau sobe (semacam keranjang untuk tempat jagung dan beras) bisa sampai 2 minggu, kalau kecil bisa seminggu. Jadi, ada ukurannya, S, M, L, dan XL. Ini awet bisa tahan lama dan tahan air," ungkap salah seorang mama penganyam bernama Bernadete kepada Media Indonesia, Kamis (26/4).

Lebih lanjut, ibu 2 anak berusia 36 tahun itu menjelaskan bahwa proses menganyam sendiri memakan waktu yang cukup lama sebelum dapat dianyam, daun lontar yang sudah dipetik harus dipotong-potong memanjang dengan teknik suwir, kemudian direbus sebagai proses pengawetan, dan kemudian dijemur. Proses tersebut memakan waktu 3-4 hari.

"(Upah yang diterima) kalau ukuran (anyaman) kecil Rp20 ribu, kalau ukuran sedang Rp35 ribu, kalau besar Rp75 ribu. Itu upah anyam saja. Untuk ongkos suwir dan pengawetan itu berbeda. Kalau rata-rata semuanya itu sebulan bisa dapat Rp200 ribu," imbuh Bernadete. Namun, kegiatan menganyam itu sering terkendala oleh pasokan listrik yang terkadang kurang stabil.

Masalah itulah yang coba dijawab SEIN. "Tahun ini, kami kembali memberikan 3.000 lentera tenaga surya bagi warga di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, dan Kabupaten Flores Timur, NTT, yang belum maksimal mendapatkan akses listrik secara merata," ungkap Vice President PT Samsung Electronics Indonesia, Kanghyun Lee, di Rumah Dinas Bupati Flores Timur, Larantuka, Rabu (25/4).

Lee menambahkan, lentera yang diberikan mudah digunakan, tidak memerlukan listrik maupun pemeliharaan yang rumit sehingga dapat mendukung produktivitas pada malam hari, serta interaksi antar anggota keluarga yang lebih berkualitas. Selain itu, pemberian donasi tersebut juga dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April.

Dari 1.500 unit lentera tenaga surya yang didonasikan ke wilayah Flores Timur, sebanyak 500 lentera dibagikan kepada setiap penganyam yang tersebar di 17 desa di Flores Timur. Lentera tersebut diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas anyaman, tetapi juga membantu aktivitas lain warga di malam hari, seperti menerangi kegiatan belajar anak-anak setempat di malam hari.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More