Mencoba Berbagai Metode

Penulis: (Wnd/M-3) Pada: Jumat, 01 Jun 2018, 23:45 WIB Humaniora
Mencoba Berbagai Metode

MI/SUMARYANTO BRONTO

ANGGAPAN tidak rileks sempat mampir dalam benak Yuanita maupun sang suami, Kristyanto. Penyebabnya, seusai mengucap janji sehidup semati, mereka tidak bisa memiliki hubungan intim yang biasa dilakukan pasangan suami istri. Berbagai upaya dilakukan untuk ganti suasana untuk lebih nyaman dan santai.

Setahun seusai menikah, Yuanita lantas mengunjungi dokter kandungan. Kunjungan itu menjadi awal perjuangannya. Saat itu Yuanita didiagnosis mengalami vaginismus. Ia pun dirujuk ke psikiater hingga melakukan hipnoterapi.

Intinya, kata Yuanita, vaginismus merupakan penyakit yang menyebabkan kekakuan di organ intim sehingga sulit menerima penetrasi baik secara medis maupun layaknya pasangan suami istri. Obat relaksan sempat ia dapatkan dari psikiater, tapi tetap saja hubungan tidak bisa dilakukan Yuanita dan suami. Kemudian, ia mengikuti hipnoterapi dan melakukan senam kegel hingga empat kali. Hasilnya nihil.

"Penyakit ini banyak membuat suami istri patah hati. Saya bertemu dengan dr Robbi dan bergabung dengan grup Whatsapp, mulai menemukan harapan, ternyata banyak juga yang mengidap penyakit ini. Bahkan, ada yang sampai mau bunuh diri lantaran dianggap lesbian dan tidak mencintai suami. Saya merasa beruntung karena memiliki suami yang penyabar dan pengertian," kata guru musik di salah satu perguruan tinggi Jakarta ini.

Berkunjung ke dr Robbi, Yuanita lantas diperiksa mengenai derajat level penyakitnya. Kemudian ia menentukan hari untuk bisa mengikuti prosedur dilatasi berbantu yang dijelaskan dokter untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Tak butuh waktu lama, Yuanita sudah sembuh. Ia pun berpesan kepada penderita lain untuk tetap bersemangat karena vaginismus bisa disembuhkan.

Yuanita juga memiliki rencana membuat dua film, berupa film pendek dan film drama. Nantinya, kedua film tersebut akan bercerita tentang kehidupan penderita vaginismus. Berbagi terhadap sesama penderita melalui media apa pun menjadi janji tersendiri karena Yuanita mengalami betapa sulitnya mendapatkan informasi tentang vaginismus. Padahal angka pengidapnya pun cukup banyak.

Penyebab tidak diketahui
Dr Robbi Asri Wicaksono, spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, mengatakan sampai saat ini penyebab vaginismus belum juga diketahui.

Banyak yang mengira ini hanya disebabkan kondisi yang tidak rileks. Kenyataannya, meski penderitas sudah rileks pun, penetrasi tetap tidak bisa dilakukan. Penderita tidak bisa mengendalikan kekakuan otot yang terjadi di dinding vagina.

Saat ini, kata Robbi, di Amerika Serikat jumlah penderita vaginismus berkisar 7%-17%, sedangkan di Indonesia angkanya belum diketahui karena penderita sering kali enggan berobat.

Penyakit ini pun memiliki derajat keparahan, dari 1-5. Yuanita saat itu berada pada level 4. Pada level terparah, penderita sampai tidak bisa menempelkan tangan mendekati vagina.

Dampaknya, pasangan tidak bisa melakukan hubungan secara maksimal. Perempuan jika memiliki masalah pada organ kandungan tidak bisa diperiksa. Sementara itu, untuk laki-laki, jika sampai tahap frustrasi, ia bisa mengalami gangguan ereksi.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More