Meningkatkan Kewaspadaan agar Terhindar dari Serangan Siber

Penulis: Indrastuti Pada: Kamis, 31 Mei 2018, 19:20 WIB Teknologi
Meningkatkan Kewaspadaan agar Terhindar dari Serangan Siber

Ilustrasi

BEBERAPA dari kita pasti pernah ada yang dikirimi saran melalui media sosial tentang aturan main saat memanfaatkan free wifi di mana pun.

Saran yang disampaikan pakar keamanan siber tersebut ialah tidak melakukan transaksi elektronik. Selain itu, kita tak boleh membuka akun yang bersifat rahasia dan penting. Benarkah saran tersebut?

"Sangat benar," kata Executive Vice President, Center of Digital PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Nathalya Wani Sabu, saat acara Fortinet di Plaza Indonesia, Rabu (30/5).

"Berjaga-jaga atau waspada jauh lebih baik, tapi memang kita harus berhati-hati dalam memanfaatkan layanan free wifi. Bahayanya adalah data akun kita sebagai nasabah bisa dicuri melalui alamat IP. Ini bisa terjadi, walau tidak terjadi di semua free wifi," lanjutnya.

Seperti diberitakan, industri jasa keuangan adalah target utama bagi penjahat dunia maya. Oleh karena itu jangan anggap remeh akun pribadi, sebab akun pribadi adalah hal yang sangat penting yang harus dirahasiakan, termasuk akun perbankan.

"Jadi, jangan mudah memberikan akses akun Anda, link, user id, atau password pada orang lain. Mengapa? Karena hal tersebut berarti memberikan akses bagi kejahatan," ujar Wani.

Seiring kemajuan teknologi, kejahatan siber terus meningkat. Menurut catatan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), sejak Januari-November 2017 Indonesia dihajar 205.502.159 serangan siber.

"Industri keuangan tidak luput dari serangan tersebut," tukas Wani.

Kejadian tersebut membuat BCA terus-menerus meningkatkan keamanan agar terhindar dari kejahatan siber.

"Apalagi serangan siber tidak kenal waktu," kata Wani. "Seperti kasus SMS Papa minta pulsa yang sempat marak beberapa waktu lalu. Para penjahat mengirim SMS secara acak ke ratusan ribu atau jutaan nomor telepon. Dari jumlah itu, pasti ada yang kena," tambahnya.

Masalahnya, sejak beberapa tahun lalu, para penjahat siber tak lagi hanya menyerang perusahaan, tapi individu pengguna internet.
Menurut Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, virus yang menyerang individu bisa menular ke perusahaan.

"Jadi, yang diserang bukan bank-nya, tapi nasabahnya. Nah, dari nasabah berdampak pada bank," kata Edwin. "Virus bisa bersembunyi di mana-mana. Kita harus hati-hati," lanjutnya.

Wani menambahkan bahwa virus kerap bersembunyi di website yang aneh-aneh.

"Misalnya cara langsing dalam tiga hari atau judul yang menjurus ke seks. Pokoknya yang mengundang rasa penasaran kita. Jangan pernah tergoda deh dengan hal-hal seperti itu," ungkap Wani.

Hal tersebut dibenarkan oleh Edwin. Menurut Edwin, virus yang disebar peretas tak ubahnya dengan virus di dunia nyata.

"Jadi, virus bisa bersifat dorman atau seolah-olah mati suri, tapi sewaktu-waktu bisa aktif lagi dan melakukan penyerangan secara masif," ungkap Edwin.

"Bersedialah untuk direpotkan. Mengapa? Karena untuk keamanan, kita harus mau repot mencari kebenaran. Misalnya ada iming-iming tiket gratis dari perusahaan penerbangan. Jangan asal klik. Cek dulu web perusahaan tersebut. Cari beritanya. Dari situ, kita akan tahu, benar atau tidaknya. Bila asal klik, bisa-bisa ada virus di link yang menawarkan hadiah tadi," sambungnya.

Oleh karena itu, perlindungan yang diperlukan harus semakin spesifik.

"Ibaratnya sebuah pohon yang memiliki tiga cabang. Jika dulu, cukup perlindungan terhadap pohonnya saja, kini tidak bisa. Semua cabang juga harus mendapat perlindungan sendiri-sendiri. Apalagi bila antara cabang yang satu dengan lainnya sangat berhubungan," jelas Edwin.

Lalu, terkait dengan akun untuk perbankan, Edwin mengingatkan pentingnya pengamanan yang harus dilakukan sendiri oleh nasabah.

"Zero trust. Ini harus sekali. Jangan percaya orang lain dengan menyebarkan data pribadi termasuk password Anda ke orang lain. Berhati-hatilah," tutup Edwin. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More