Hidup tanpa Mbak

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Kamis, 31 Mei 2018, 07:30 WIB celoteh
Hidup tanpa Mbak

MI/ROMMY PUJIANTO

MBAK Nur, begitu kami memanggilnya. Sejauh ini dialah asisten rumah tangga yang paling cocok dengan keluarga kami. Orangnya jujur, baik dalam menyelesaikan pekerjaan, bisa memasak, bisa mengasuh anak, plus berwawasan luas karena pernah jadi TKI di Hong Kong selama beberapa tahun. Senang rasanya melihat dia membacakan buku atau berbincang bahasa Inggris sederhana dengan King dan Kani, dua anak saya. Selain itu, dia juga mengajarkan sedikit sedikit bahasa Mandarin. Akhir tahun lalu, dia pamit untuk pulang kampung untuk mengurusi anaknya yang beranjak remaja karena ibunya yang selama ini menjaganya merasa sudah tidak mampu lagi karena faktor usia. Di situlah awal perubahan besar dalam keluarga kami.

Saya dan istri sempat bersitegang karena perbedaan pandangan, saya keukeuh harus cari mbak baru, sedangkan dia tetep merasa tidak perlu dan yakin bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah secara mandiri.

Ini berbeda dengan istri saya yang setengah hidupnya berada di luar negeri yang sudah terbiasa dengan hidup mandiri tanpa bantuan menyelesaikan pekerjaan sendiri. Setelah perdebatan panjang akhirnya saya mengalah. Bukan karena saya takut istri , melainkan saya pikir apa salahnya apalagi belum dicoba, semua hanya asumsi yang ada di kepala saya saja hehehe.

Enam bulan berlalu tanpa hadirnya si mbak, membuat segalanya mulai terbiasa. Kami membagi tugas untuk diselesaikan. Kami di sini ialah saya, istri, dan anak anak. Anak anak diberikan tugas sesuai dengan usia dan kemampuan mereka karena mereka harus diajarkan mengenai hak dan kewajiban tinggal di rumah. Istri saya mencuci, saya menyetrika, tapi itu tidak bertahan lama karena saya tidak tahan panas dan hasil setrikaan saya tidak rapi. Gagal deh jadi Iron Man padahal kumis dan jenggot saya mirip Robert Downey Jr lo hahaha.

Anak anak pun diberi tugas seperti merapikan mainan, makan rapi di meja makan, lalu menyimpan alat bekas makan di tempat cuci juga mandi, dan makan sendiri. Carol Dweck, Psikolog Stanford University, menulis hasil eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan". Saat ini mereka masih menjadi passengers dengan kami sebagai driver di sebuah kapal bernama rumah, tapi sedari dini kami persiapkan mereka untuk menjadi driver bagi dirinya sendiri kelak.

Enam bulan tanpa kehadiran si mbak semuanya terasa beda. Hubungan dan interaksi kami menjadi lebih hangat. Keringat yang menetes dari dahi istri saat menyapu dan mengepel lantai terlihat seksi di mata saya. Telapak tangannya yang mulai mengeras karena terbiasa memegang gagang sapu dan pel setiap hari terasa lebih lembut dari tangan miss universe. Saya belum pernah bersalaman dengan miss universe sih, ini hanya imajinasi saya hehehe. Semakin hari semakin besar rasa cinta saya terhadapnya.

Tidak ada sedikit pun rasa ingin membanggakan diri dan mengaku bahwa apa yang kami lakukan ini ialah yang terbaik dan paling benar. Urusan domestik ialah hak prerogatif dari tiap-tiap keluarga.

Setelah menyimpan dan mengirim e-mail tulisan ini ke redaksi Media Indonesia, laptop saya matikan dan berangkat ke minimarket dekat rumah karena istri minta tolong dibelikan cairan pembersih lantai yang habis. (H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More