Bekal untuk Keseimbangan Hidup

Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani Pada: Kamis, 31 Mei 2018, 06:45 WIB Tausiah
Bekal untuk Keseimbangan Hidup

ANTARA/ZABUR KARURU

SETIAP manusia tentu menyadari bahwa kehidupan ini singkat. Tidak ada yang tahu apakah seseorang masih bisa bertemu lagi dengan bulan suci Ramadan yang akan datang atau tidak.

"Karena kita pun kelak akan menyusul saudara-saudara kita pulang ke kampung halaman yang abadi," ujar H Afif Hamka dalam ceramahnya di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (29/5).

Ia mengatakan, dalam kehidupan yang singkat ini semua manusia diberi bekal oleh Allah SWT berupa akal pikiran dan pancaindra yang berperan agar manusia bisa melaksanakan berbagai perintah Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Selain akal pikiran dan pancaindra, Allah juga memberikan hidayah kepada semua umat-Nya. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa ada kekuatan di luar kekuatan nalar manusia.

Pada dasarnya, lanjut Afif, setiap orang secara naluri pasti memiliki hidayah berupa rasa religiositas di dalam dirinya. Meski ia orang yang mengaku tidak beragama sekalipun, banyak orang yang melaksanakan panggilan hidayah berupa rasa religiositas tersebut dengan sesat.

"Itulah mengapa Allah menurunkan nabi dan rasul untuk membawa hidayah itu pada ajaran-ajaran kebenaran," katanya.

Afif mengatakan, manusia harus bersyukur dengan hidayah dan ajaran rasul karena kita jadi memiliki modal untuk menjalani kehidupan yang sangat singkat. Kita juga jadi bisa membangun kehidupan yang seimbang untuk di dunia dan bekal di akhirat.

Manusia hidup di dunia ini hanya sebentar dan sebagai umat Islam memiliki rukun iman yang salah satunya iman kepada hari akhir. Itu telah mendarah daging dan harus diyakini sebagai salah satu tujuan hidup, yakni agar selamat dari siksa setelah perhitungan di hari akhir.

Oleh karena itu, tuturnya, bangunlah kehidupan di dunia yang penuh dengan kebaikan dan ketakwaan. Manfaatkanlah berbagai bekal yang diberikan Allah untuk hidup di dunia. Manfaatkan pula untuk menyiapkan bekal di kehidupan akhirat yang abadi.

Semua bekal itu, ujarnya, harus menghasilkan dampak kesalehan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai perintah Allah dan Alquran yang diturunkan-Nya harus menjadi hidayah dan bekal dalam menjalani setiap detik kehidupan.

Ia melanjutkan, manusia harus banyak bersyukur. Dengan bersyukur, Allah akan terus menambah nikmat hidup dan hidayah-Nya. Bukan hanya menjadi muslim yang menjalankan ibadah, melainkan memahami dan mengimaninya dalam kehidupan.

"Jangan sampai kita ibadah, misalnya salat khusyuk, tapi kita tidak paham apa yang kita ucapkan dalam doa," ujar Afif.

Tingkatkan keimanan

Oleh karena itu, katanya, teruslah meningkatkan derajat keimanan. Manfaatkan setiap bentuk bekal hidayah dari Allah untuk bisa menciptakan kehidupan yang damai dan seimbang antara dunia dan akhirat, diri sendiri, dan sesama makhluk Allah.

Seseorang yang beribadah tetapi tidak melakukan kebaikan dan tidak menyebar perdamaian, berarti ia tidak paham dan mengimani apa yang ia ucapkan maupun yang ia sumpahkan kepada Allah lewat setiap doa yang doucapkan.

"Itu tanda jika seseorang tidak secara total dan utuh memanfaatkan bekal hidayah yang telah diberikan Allah SWT pada setiap manusia," kata Afif. (H-1)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Jumat, 17 Agu 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More