Bangun Kiblat Wisata Halal Dunia Bidik Generasi Milineal

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Rabu, 30 Mei 2018, 09:10 WIB Travelista
Bangun Kiblat Wisata Halal Dunia Bidik Generasi Milineal

Ist

PARIWISATA mancanegara dewasa ini terus menggeliat mengambil pasar untuk wisatawan muslim dari berbagai negara, di antaranya dari wisatawan Indonesia. Melalui industri halal, banyak negara memberikan fasilitas yang memanjakan wisatawan muslim untuk berwisata di negara non-muslim.

Dalam catatan Mastercard-HalalTrip Muslim Millenial Travel Report 2017 (MMTR2017) bahwa perjalanan wisatawan muslim generasi milenial di dunia diprediksi akan terus tumbuh pesat hingga mencapai nilai US$100 miliar pada 2025. Sementara secara keseluruhan segmen perjalanan muslim diperkirakan akan mencapai US$300 miliar pada 2026.

Sementara data Word Travel and Tourism Council pada 2013, nilai transaksi dari segmen wisata muslim telah mencapai US$140 miliar dan diperkirakan terus meningkat menjadi US$238 miliar pada 2019.

Fouder and Chairman Indonesia Islamic Travel Communication Forum (IITCF), H Priyadi Abadi MPar, mengemukakan, Indonesia sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim harus lebih maju ketimbang negara lain.

"Kita jangan malah justru tertinggal. Pasalnya, Indonesia sangat berpotensi menjadi kiblat wisata halal dunia," kata Priyadi Abadi di Jakarta, melalui keterangan yang dirilis, Selasa (29/5).

Priyadi juga akan terus mengedukasi masyarakat bahwa selama ini mindset masyarakat bila ingin berlibur ke Jepang, Korea, Eropa terbiasa akan pesan pada travel umum padahal travel muslim juga mampu menggarap wisata di luar umrah dan Haji.

"Kondisi ini harus diakui tidak mudah dan butuh waktu," ujarnya.

Selain mengedukasi masyarakat di bidang pariwisata, Priyadi juga telah merintis terobosan untuk menyatukan produk travel muslim melalui konsorsium untuk memberikan layanan kepada wisatawan muslim yang ingin traveling ke mancanegara dengan konsep islami.

Konsorsium ini bernama Muslim Holiday yang dalam kegiatan nya sarat dengan unsur edukasi kepada para anggota konsorsium ini seperti pada setiap bulan selalu dibuat acara sharing destinasi, evaluasi, dan problem solving.

Lahirnya Muslim Holiday ini, tambah Priyadi, sebagai bentuk keprihatinan karena masih minimnya travel muslim yang menggarap pasar wisata muslim.

"Mayoritas travel muslim yang ada masih bermain di zona aman, yakni menggarap pasar haji dan umrah. Masih sangat sedikit, kurang dari 20%, yang menggarap pasar wisata muslim. Akibatnya, pasar wisata muslim yang prospektif dan potensial ini masih dipegang oleh travel umum," ujarnya.

Ia mengutarakan, saat ini dirinya memiliki dua agenda besar melalui IITCF yang concern pada edukasi, berbagi dan bersinergi antarsesama travel muslim, khususnya dalam menggarap wisata muslim. Begitu juga rutin mengadakan pelatihan wisata muslim (edutrip) di dalam maupun luar negeri.

Edutrip tersebut diikuti para pemilik travel muslim, tour leader, maupun tour planner.

Sementara, Muslim Holiday Konsorsium membuat paket-paket tour muslim dan produk tersebut dijual secara bersama, sehingga lebih efisien dan dapat saling membesarkan travel-travel muslim yang tergabung dalam konsorsium tersebut. Tentu saja, untuk bergabung dalam konsorsium tersebut, ada aturan main atau komitmen bersama yang harus dipatuhi.

"Salah satu yang terpenting adalah harga jual harus sama, Tidak boleh ada yang menjual lebih murah atau lebih mahal dari harga yang sudah ditetapkan oleh konsorium. Intinya, semua travel muslim yang bergabung dalam Muslim Holiday Konsorium harus amanah," pungkasnya.

Guna mengubah pola pikir masyarakat terkait pariwisata muslim di Indonesia dan mancanegara, tentunya IITCF tidak bisa bergerak sendiri. Semua pemangku kepentingan harus dilibatkan, baik itu pemerintah, praktisi, lembaga pendidikan, pelaku industri, dan juga media.

Karena itu, pada Ramadan ini, IITCF membangun silaturahim dan buka bersama (bukber) bersama para jurnalis berbagai media untuk melakukan sinergi positif menggelorakan wisata halal di Indonesia dan mancanegara.

Upaya memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pariwisata halal ini diwujudkan dalam bentuk meluncurkan dua website, tujuannya agar masyarakat mudah mengakses informasi seputar wisata halal. Yaitu laman priyadiabadi.com dan muslimholiday.co.id. (RO/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More